INDUSTRY.co.id - Jakarta, Cadangan sumber bahan baku energi berbasis fosil terus menunjukkan penurunan tingkat cadangan, di tengah tingginya konsumsi energi di masyarakat. 

Advertisement

Pemerintah pun punya strategi mensiasatinya dengan meningkatkan bauran enegeri baru dan terbarukan (EBT) dalam konsumsi energi nasional di masa mendatang. Usaha yang tidak mudah, namun bukan mustahil.

Sudah menjadi fakta tak terbantahkan bahwa energi mempunyai peran  sangat penting dalam  menunjang pembangunan nasional, baik sebagai bahan baku bagi sektor industri maupun sebagai bahan bakar bagi sektor-sektor penggerak pembangunan.

Advertisement

Selama beberapa dasawarsa, Indonesia merupakan salah satu negara dengan produksi bahan bakar minyak yang cukup besar, sehingga  sempat menjadi negara pengekspor minyak bumi dan menjadi anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak Dunia (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) sejak tahun 1962. 

Minyak bumi pun menjadi sumber bahan baku energi primer di Indonesia yang cukup berlimpah. 

Advertisement

Devisa yang berasal produksi minyak mentah di dalam negeri pun sempat menggembung. 

Menyusul terjadinya Oil Boom pertama pada  periode tahun 1973- 1974 ketika  harga minyak di pasar dunia melonjak dari US$ 1,67 per barrel pada tahun 1970 menjadi US$ 11,70 per barrel pada periode  1973- 1974) menyusul terjadinya krisis minyak sebagai akibat tindakan boikot negara-negara OPEC di kawasan Timur Tengah  yang sedang berkonflik dengan Israel.

Advertisement

Lima tahun berikutnya Oil Boom kedua terjadi ketika harga minyak yang telah mencapai US$ 15,65 per  barrel pada tahun 1979  terdongkrak lagi menjadi US$ 29,50 per  barrel pada 1980,  dan  terus melonjak menjadi US$ 35,00 per barrel pada periode tahun 1981 – 1982. 

Lagi-lagi Oil Boom ini dipicu oleh krisis perang di kawasan Timur Tengah antara Iran dan Irak. 

Masa keemasan bagi para produsen minyak dunia sempat berimplikasi sangat positif bagi perekonomian Indonesia  periode 1973 – 1982. 

Ketika itu  nilai keseluruhan ekspor Indonesia  pada awal Pelita (Pembangunan Lima Tahun) I yang sebesar US$ 1 miliar meningkat menjadi US$ 3,6 miliar pada akhir periode Pelita I. 

Berikutnya di Pelita II nilai ekspor tercatat sebesar  US$ 7,1 miliar  dan meningkat menjadi US$ 11,3 miliar pada akhir Pelita II.  

Puncaknya nilai ekspor Indonesia di periode Oil Boom mencapai US$ 23,6 miliar pada tahun anggaran 1981/1982.

Demikianlah romantisme Oil Boom yang sempat dikecap ekonomi Indonesia. Amat berbeda dengan kisah hari ini, ketika sumur-sumur minyak di dalam negeri tak lagi mampu memuntahkan jutaan barrel per hari. 

Dengan kisaran produksi 700 ribu barrel per hari,  Indonesia tak lagi  negara pengekspor,  namun negara pengimpor minyak mentah.

Impor harus dilakukan mengingat  minyak bumi masih menjadi penopang  46% kebutuhan energi primer, dari total konsumsi energi sebesar 116 juta ton ekuivalen minyak (Million Tonnes of Oil Equivalent/MTOE).

Berbaliknya posisi pengekspor menjadi net importer mendorong Indonesia untuk keluar dari OPEC. 

Tahun 2015 Indonesia sempat bergabung kembali, namun tak lama kemudian memutuskan untuk men-suspend keanggotaannya karena tidak mau mengikuti kebijakan pemangkasan produksi pada tahun 2016 lalu.

Sejauh ini publik memang masih belum merasa khawatir bahwa Indonesia bakal kehabisan bahan baku primer, karena setelah minyak bumi mulai menurun produksinya, Indonesia masih menyimpan cadangan gas dan batu bara yang cukup berlimpah. 

Bahkan hampir sebagian besar pembangkit listrik milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) bergantung pada batubara. 

Jika melihat dari total kebutuhan energi di dalam negeri pada tahun 2015 yang sebesar 116 MTOE tadi, batubara menjadi penyumbang energi kedua terbesar dengan komposisi sebesar 26%, diikuti oleh gas  sebesar  23%. 

Sementara kontribusi dari energi terbarukan masih sangat minim, yakni sebesar 5%.

Padahal jika berkaca pada sejarah penggunaan minyak bumi sebagai energi primer di Indonesia pada masa lalu, sudah menjadi keniscayaan bahwa sumber daya energi berbasis fosil seperti halnya batubara dan gas bakal berpotensi habis.

Cadangan Sumber Energi Fosil Terus Menipis 

Produksi migas nasional kenyataannya terus mengalami penurunan  seiring jumlah cadangan yang menipis dan minimnya kegiatan eksplorasi. 

Melansir data dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan terbukti minyak sebesar 3,6 miliar barel dengan tingkat produksi 288 juta barel per tahun diperkirakan akan habis 12 tahun lagi. 

Sedangkan cadangan gas sebesar 98 triliun kaki kubik (tcf) akan habis dalam 33 tahun ke depan jika rata-rata produksi tahunan 3 tcf.

Sementara itu jumlah cadangan terbukti batubara yang ada di perut bumi Tanah Air sebesar 32,4 miliar ton diperkirakan bakal habis dalam kurun waktu 82 tahun ke depan jika per tahunnya terus diproduksi sebanyak 393 juta ton.

Jika ketergantungan konsumsi energi nasional yang sangat tinggi terhadap energi fosil terus dipelihara, bukan mustahil Indonesia bakal terjerumus dalam jurang defisit energi. 

Pasalnya pertumbuhan konsumsi energi terutama minyak dan gas tidak diikuti dengan peningkatan produksi,  sementara permintaan terhadap BBM terus meningkat, dan akan memaksa pelaku industri untuk mengimpor dengan jumlah yang akan terus semakin besar. 

Maka membuka eksposur lebih besar pada pengelolaan sumber daya energi terbarukan menjadi sebuah keniscayaan bagi masyarakat. 

Solusi terbaik untuk pemenuhan kebutuhan energi  di masa depan tentunya  dengan menggenjot pengembangan energi terbarukan (ET). 

Selain ramah lingkungan, energi terbarukan juga bisa membawa Indonesia menuju ketahanan dan kemandirian energi mengingat Indonesia memiliki sumber cadangan energi beru dan terbarukan yang  melimpah.

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam satu kesempatan mengatakan, kebutuhan listrik di Indonesia makin besar dan meningkat sementara sumber energi fosil dan batu bara terbatas sehingga sumber energi terbarukan harus terus dikembangkan.

"Bagaimana meningkatkan energi dengan yang lebih bersih, teknologi tentu sangat berkembang dan 'renewable' lainnya akan lebih efisien," ujar  Jusuf Kalla. 

Jusuf Kalla menyebut  Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. 

Untuk pengembangan energi geothermal misalnya,  Indonesia memiliki banyak gunung api yang bisa dimanfaatkan untuk sumber energi panas bumi.

"Indonesia punya kapasitas baik. Tuhan selalu adil, tinggi risiko tapi banyak manfaat. Kita punya banyak gunung api berarti banyak potensi geothermal," imbuhnya. 

Sebelumnya Presiden Joko Widodo pun telah menegaskan bahwa  pemerintah akan mendorong pembangunan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar yang bersumber dari energi baru terbarukan. 

"Saya juga menyadari tidak selamanya kita bergantung pada energi yang berasal dari sumber daya alam, minyak bumi, atau batu bara. Lambat laun sumber itu akan habis karena tidak bisa diperbarui," ujar Presiden.  

“Karena negara kita adalah negara tropis dan matahari bersinar sepanjang tahun, inilah yang harus kita manfaatkan," imbuhnya.  

Masih menurut Presiden,  pemerintah sudah mulai menggelar pembangkit listrik  yang memanfaatkan potensi sumber daya alam setempat kendati masih dalam skala yang kecil. 

Ia pun menyebut bahwa pihaknya telah menugaskan kementerian terkait untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berskala kecil guna melistriki daerah-daerah di Papua yang sulit terjangkau transmisi listrik. 

"Saya sudah memberikan target ke Menteri ESDM untuk desa-desa yang sulit dijangkau oleh transmisi listrik, ini akan diberikan lewat PLTS. Targetnya sampai 2019 sudah 600 desa," katanya.