INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri manufaktur otomotif asal Negeri Tirai Bambu terus mengisi 'time line' industri otomotif dunia sebagai manufaktur yang haus penguasaan pasar kendaraan roda empat dunia.

Sejumlah manufaktur asal Tiongkok telah mengakuisisi sejumlah brand besar dunia, dan Geely setelah mengakuisisi Volvo, siap mengangkangi Daimler demi mengembangkan teknologi autonomous vehicle, alias swakemudi.

Di industri otomotif Tanah Air dan publik pengguna kendaraan roda empat, nama Geely memang sudah cukup familiar setelah hadir lewat sejumlah varian, yang salah satunya jenis city car Geely Panda.

Memang harus diakui Geely yang di dalam negeri hadir lewat PT Geely Mobil Indonesia ini kurang mampu mendulang sukses, dan tak dianggap sebagai pengusik hegemoni kendaraan brand Jepang yang kadung menguasai pasar Indonesia.

Berbeda dengan koleganya yang datang belakangan, Wuling, yang diproyeksikan mampu membuat pangsa pasar produk MPV dari Toyota dan Daihatsu bisa sedikit geripis di tahun-tahun mendatang.

Namun sejatinya di negeri asalnya di China, Geely merupakan manufaktur yang juga haus penguasaan pasar otomotif dunia dan teknologi anyar.

Menilik sejarah pergerakannya, Zhejiang Geely Holding Group, merupakan salah satu produsen yang cukup agresif berkembang, dan menjadi pemilik sejumlah brand dunia seperti Volvo Truck, Lotus, termasuk manufaktur Malaysia, Proton.

Kepemilikan Zhejiang Geely Holding Group di Volvo dimulai pada 28 Maret 2010 silam, setelah dilangsungkan penandatanganan transaksi pembelian Volvo dari produsen otomotif Amerika, Ford Motor.

Berdasarkan kesepakatan yang diadakan di Gothenburg, Swedia, Ford sepakat menjual Volvo kepada Geely senilai US$1,8 miliar.

Kesepakatan jual-beli Volvo ditandatangani oleh eksekutif Ford dan Presiden Geely, Li Shufu, dengan disaksikan Menteri Industri dan Teknologi Informasi China, Li Yizhong, dan Menteri Wirausaha dan Energi Swedia, Maud Olofsson.

Berikutnya di akhir tahun 2017 lalu, Geely Holding Group Co juga mengakuisisi pabrikan truk Volvo dengan membeli saham Volvo senilai US$3,9 miliar dari Cevian Capital.

Nilai yang merepresentasikan 8,2% saham Volvo tersebut menandai langkah Geely masuk ke industri kendaraan niaga besar global.

Geely menjadi perusahaan yang mendefinisikan dirinya sebagai pabrikan otomotif yang akan memindahkan orang dan barang. Semuanya ada di dalam radar mereka, kata Bill Russo, Managing Director Gao Feng Advisory Co seperti dilansir Bloomberg (31/12/2017).

Sementara Presiden Geely, Li Shufu mengatakan puas dengan kesepakatan ini.

Ini memberikan kami pengalaman berkerja sama dengan Volvo Group, ujarnya.

Di dalam negerinya sendiri Geely punya saham sebanyak 45% di Dongfeng Commercial Vehicles, sebuah produsen truk lokal terbesar di China.

Di Asia Tenggara jejak Geely juga membekas di Malaysia, setelah mengakuisisi 49,9% saham produsen otomotif nasional Malaysia, Proton pada Mei 2017 lalu.

Proton, yang didirikan pada 1983 oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, mengalami kinerja buruk dalam beberapa tahun terakhir dan sangat bergantung pada pinjaman pemerintah.

Saat itu pemerintah siap menyuntikkan kembali dana ke Proton, dengan syarat perusahaan otomotif ini mampu membawa mitra strategis ke dalam struktur kepemilikan sahamnya.

Geely lah yang akhirnya masuk menjadi mitra strategis Proton.

Lapar penguasaan pasar tampaknya belum tertuntaskan dengan eksistensinya di Volvo, Lotus dan Proton.

Nah, belakangan ini dalam kurun beberapa bulan terakhir sejak triwulan IV 2017 lalu, Geely terus mencari cara untuk bisa mendapatkan porsi kepemilikan di manufaktur Jerman, Mercedes Benz.

Pada Januari lalu, seperti diwartakan Carscoops, Geely sempat berniat menggelontorkan 4 miliar euro demi mendapatkan porsi saham 3%-5% induk perusahaan Mercedes-Benz, Daimler.

Saat itu Geely melakukan usaha pembelian 5% saham Daimler lewat skema discounted share placement, dan ditolak Daimler.

Belakangan tersiar kabar pada akhir Februari lalu, bahwa Daimler telah sepakat menyerahkan sekitar 9,69% sahamnya untuk dibeli Geely.

Sementara itu Zhejiang Geely Holding Group harus merogoh kocek senilai US$ 9 miliar atau setara dengan Rp 126 triliun.

Lewat kesepakatan tersebut, Geely melewati kepemilikan saham Kuwait Investment Authority di Daimler, yang saat ini tercatat sebesar 6,8%.

Dalam pernyataan resminya seperti dilansir Reuters medio Februari lalu (24/2), Li Shufu sang Presiden Zhejiang Geely Holding Group menyatakan harapannya bahwa dengan kepemilikan sahamnya tersebut Geely bisa mengakses teknologi Daimler.

Dalam kesempatan tersebut Li juga menyatakan pihaknya tidak berencana, setidaknya saat ini, untuk meningkatkan jumlah sahamnya di Daimler.

Sebagai gantinya, Geely akan membentuk aliansi dengan Daimler, untuk mengembangkan kendaraan listrik dan kendaraan penggerak sendiri (autonomous) alias kendaraan swakemudi.

Menurut Li, rencana aliansi dengan Daimler merupakan jawaban dari sejumlah tantangan dari pesaing mereka terkait mobil swakemudi, seperti Tesla, Google dan Uber, yang sudah mengerjakan mobil teknologi baru mereka sendiri.

Dikatakan Li, Tidak ada pemain industri mobil saat ini yang bisa memenangkan pertarungan melawan penyerang dari luar tanpa teman.

Demi mencapai dan menegaskan kepemimpinan teknologi, seseorang harus menyesuaikan cara berpikir baru lewat berbagi dan menggabungkan kekuatan.

"Investasi saya di Daimler mencerminkan visi ini, kata Li.

Baginya, hanya akan ada dua atau tiga manufaktur yang bisa bertahan di industri otomotif ke depan, sehingga ia memandang Geely perlu mencari akses ke produsen yang memiliki keunggulan teknologi, dan itu dimiliki oleh Daimler.

Namun demikian kepemilikan saham Daimler oleh Geely bukannya tidak menimbulkan kekhawatiran.

Pasalnya langkah pembelian saham Daimler oleh Geely dilakukan secara diam-diam.

Langkah pembelian ini tentunya menimbulkan dilema bagi Mercedes-Benz, karena kadung berjanji akan berkongsi dengan Renault-Nissan yang mempunyai 3,1% saham di Daimler.

Selain itu, Mercedes-Benz sendiri sudah lama memilih BAIC Motor Corporation sebagai rekan kongsi mereka di China untuk mengembangkan kenderaan listrik di negara tersebut, bukan dengan Geely.

Apapun yang terjadi, belakangan pihak Daimler dalam pernyataannya yang dikutip Reuters mengungkapkan kegembiraannya bisa berkongsi dengan Geely.

Daimler dengan bangga mengumumkan bahwa bersama Li Shufu, bisa memenangkan rencana jangka panjang pemegang saham, yang diyakini berkat kekuatan, strategi, dan potensi Daimler.

Para petinggi Geely telah berangkat ke Stuttgart untuk menemui para eksekutif Daimler pada akhir Februari lalu, termasuk pejabat pemerintah Jerman di Berlin.

Pihak Geely menggunakan pertemuan tersebut untuk menggarisbawahi kepentingan investasi jangka panjang mereka.

Daimler tidak berkomentar mengenai pertemuan tersebut, begitu pula pihak Geely dan Kementerian Ekonomi Jerman.

Pada November 2017 lalu, Geely meminta Daimler untuk mengeluarkan saham baru sebagai cara Geely untuk mengakses teknologi mobil listrik dan truk Mercedes-Benz, termasuk teknologi baterai.

Daimler sempat menolak tawaran tersebut, dan berikutnya Li mengubah taktik dengan mengumpulkan dana dan membeli saham perusahaan sebesar 9,69%.