INDUSTRY.co.id - Surabaya-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak cenderung mixed mencoba menguat dengan range pergerakan 6250-6342.
Saham-saham yang masih dapat diperhatikan diantaranya AKRA, BBNI, BBRI, EXCL, HRUM, INDF, JSMR, WSKT, BIPI, MEDC, UNVR.
"IHSG kembali bergerak tertekan menguji support secara teknikal. Indikasi bergerak melemah hingga 6200 cukup kuat melihat target pelemahan double top yang hampir tercapai. Meskipun demikian harapan rebound jangka pendek tersignal pada indikator Stochastic dan RSI yang mulai terlihat bergerak reversal signal," ujar dia di Jakarta, Selasa (20/3/2018).
Mayoritas indeks saham Asia ditutup mixed dengan pelemahan pada Ekuitas Jepang dan Korea Selatan dimana Indeks Nikkei (-0.90%), TOPIX (-0.96%) dan KOSPI (-0.76%) turun lebih dari setengah persen seiring penguatan Yen pasca penurunan dukungan untuk kabinet perdana mentri Jepang Shinzo Abe dalam melemahkan mata uang. Sedangkan Ekuitas di dataran Tiongkok menguat Indeks Hangseng (+0.04%) dan CSI300 (+0.44%) seiring penguatan harga rumah 2bps dilevel 5.2% dari 5.0% diperiode sebelumnya.
IHSG (-0.24%) ditutup turun 15.38 poin kelevel 6289.57 dengan sektor aneka industri (-2.11%) dengan saham ASII (-2.35%) kembali melemah mendekati level 7000 pasca data penjualan mobil tahunan bulan februari turun menjadi -0.6% dari 11.1% diperiode sebelumnya. sedangkan sektor keuangan (+0.38%) menjadi penahan pelemahan IHSG dengan saham BMRI, BJBR dan BJTM menguat lebih dari 2%. Investor asing terlihat net sell cukup besar 1.11 Triliun rupiah dengan saham ASII, BBCA, BMRI dan TLKM menjadi top net sell value.
Bursa saham di Eropa dibuka pesimis dengan mayoritas melemah. Indeks Eurostoxx (-0.69%), FTSE (-1.21%) dan DAX (-0.93%) dengan perusahaan teknologi dan pertambangan merosot. Investor mencermati keputusan Bank Sentral hingga pembicaraan Brexit di pertemuan G-20. Fokus utama pasar global minggu ini pada keputusan suku bunga AS pertama dibawah ketua baru The Fed Jerome Powell yang beberapa minggu ini memberikan signal keterbukaan untuk menaikan suku bunga 4 kali dalam tahun ini.