INDUSTRY.co.id, Jakarta - Sebagai salah satu primadona wisata di kawasan timur Indonesia, Maluku akan menggelar event pariwisata sepanjang tahun 2018. Untuk tahun ini, Maluku akan menggelar 23 event. Tahun ini, Maluku mengangkat tema dengan Sensasi Seribu Pulau.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, mengatakan event pariwisata ini diharapkan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Maluku serta menaikkan perekonomian masyarakat.
"CoE Maluku 2018 diharapkan mampu membuka kepercayaan investor sehingga memutus rantai kemiskinan dan pendapatan masyarakat dapat meningkat, serta mendorong kecintaan masyarakat terhadap pariwisata berkelanjutan," katanya, melalui siaran persnya yang diterima Industry.co.id, Jakarta, Senin (12/3/2018).
Dia melanjutkan, tema “Maluku Sensasi Seribu Pulau” diangkat untuk menggambarkan kekayaan Maluku, bahwa provinsi dengan 1.434 pulau itu memiliki keberagaman budaya dan adat istiadat yang mempesona. Tak hanya itu, Maluku juga dianugerahi keindahan alam bahari yang sangat menakjubkan.
Menanggapai hal tersebut, Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan dari 23 event yang akan digelar di Maluku sepanjang 2018 terdapat 2 event yang masuk dalam CoE Wonderful Indonesia 2018. Dua event itu yaitu Festival Teluk Ambon yang berlangsung pada 17-20 Agustus 2018 dan Pesta Rakyat Banda yang berlangsung 7-14 November 2018.
“Dua event tersebut akan didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata, dengan dukungan masing-masing Rp 1 miliar. Sebanyak 60 persen untuk promosi dan 40 persennya untuk penyelenggaraan event itu sendiri,” katanya.
Maluku atau Moluccas, lanjut Arief Yahya, sejak lama dikenal dunia internasional sebagai penghasil rempah-rempah dunia. Kini, pesonanya dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari (marine tourism) kelas dunia. Potensi besar tersebut juga didukung oleh 1.434 pulau, di antaranya Pulau Banda yang disiapkan sebagai kawasan khusus pariwisata.
Menpar mengatakan, Pariwisata di Pulau Banda, bisa disiasati dengan konsep Nomadic Tourism, artinya kebutuhan 3A, terutama amenitas dan aksesibilitas dapat dipenuhi untuk sementara, tidak membutuhkan investasi yang menetap.
Arief Yahya mencontohkan, akses menuju Pulau Banda dapat dipenuhi melalui sea plane sehingga mudah mendarat di manapun. Begitu juga masalah amenitas dipenuhi dengan hotel terapung maupun penginapan karavan yang dapat berpindah tempat (nomadic tourism).
“Kami siap mendukung itu. Tim Nomadic Tourism sudah terbentuk, yang penting adalah komitmen daerah harus kuat. Gali potensinya,” pungkasnya.