INDUSTRY.co.id - Jakarta- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan tiga proyek infrastruktur dengan skema Pembiayaan Investasi Non Anggaran atau PINA, telah mencapai pemenuhan pembiayaan (financial close) pada kuartal satu tahun ini.
"Doanya ya, kuartal satu ini harusnya kita bisa selesaikan transaksi toll road dan pembangkit listrik, menyusul airport," kata Chief Executive Officer PINA Center Ekoputro Adijayanto saat dihubungi Antara di Jakarta, Selasa (6/3/2018)
Adapun ketiga proyek PINA tersebut antara lain salah satu dari 18 proyek jalan tol yang digarap oleh Waskita Karya Toll Road, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Meulaboh, Aceh, 2x200 MW oleh PT PP Energi, serta proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) fase 2 dan Aerocity.
Untuk proyek jalan tol sendiri nilai proyeknya mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp6,89 triliun (kurs Rp13.750 per dolar AS) atau sekitar Rp7,4 triliun, sedangkan PLTU Meulaboh nilai proyeknya mencapai 540 juta dolar AS. Sedangkan nilai proyek Bandara Kertajati atau BIJB dan aerocity mencapai 2,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp30,25 triliun.
Saat ini ada 34 proyek infrastruktur yang ditawarkan dengan skema PINA dengan nilai proyek 25,8 miliar atau setara Rp354,75 triliun. Proyek tersebut meliputi Jalan Tol di Sumatera Utara oleh PT Hutama Marga Waskita dengan nilai 1,01 miliar dolar AS atau Rp13,89 triliun oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), dan pembangkit listrik dua proyek senilai 1,07 miliar dolar AS atau sekitar Rp14,71 triliun.
Proyek selanjutnya yaitu pembangkit listrik enam proyek oleh PT Indonesia Tower 5,8 miliar dolar AS atau senilai Rp79,75 triliun dan proyek transmisi listrik satu proyek oleh PT PLN senilai 2,04 miliar dolar AS atau Rp28,05 triliun.
Selain itu, proyek Bandara Kulon Progo DIY oleh PT Angkasa Pura I dan PT PP senilai 495 juta dolar AS atau senilai Rp6,81 triliun, proyek pesawat R-80 oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) senilai 1,6 miliar dolar AS Rp21,92 triliun, serta proyek pengembangan area terintegrasi Pulau Flores oleh Flores Prosperindo, Ltd senilai 1 miliar dolar AS atau Rp13,75 triliun.
Terkait pembangunan infrastruktur, saat ini investasi yang dibutuhkan sepanjang 2015-2019 yaitu mencapai Rp4.769 triliun dengan sumber investasi berasal dari APBN/APBD sebesar 41,3 persen atau sekitar Rp1.951,3 triliun, BUMN sebesar 22,2 persen atau Rp2.817,7 triliun, dan partisipasi swasta sebesar 36,5 persen atau Rp1.751,5 triliun.