INDUSTRY.co.id - Jakarta - Peran energi terbarukan kedepannya akan semakin meningkat seiring dengan semakin bertambahnya kebutuhan energi global serta semakin beragamnya bauran energi di berbagai penjuru dunia.

"Pada 2040, minyak, gas, batubara, dan bahan bakar nonfosil masing-masing akan menyumbang sekitar seperempat dari energi dunia. Lebih dari 40 persen dari keseluruhan peningkatan kebutuhan energi akan dipenuhi oleh energi terbarukan," kata Ekonom Utama Group BP, Spencer Dale dalam keterangan resmi, Senin (26/2/2018)

Berdasarkan kajian 'BP Energy Outlook 2018', dengan menggunakan skenario 'evolving transition', pertumbuhan yang pesat di negara-negara berkembang bakal mendorong permintaan energi global menjadi sepertiga lebih tinggi.

Diperkirakan pada 2040, bauran energi global akan menjadi yang paling beragam yang pernah ada di dunia, dengan minyak, gas, batubara, dan bahan bakar nonfosil masing-masing berkontribusi sekitar satu perempat dari total bauran. 

"Energi terbarukan merupakan sumber bahan bakar dengan pertumbuhan tercepat, meningkat lima kali lipat dan menyediakan sekitar 14 persen energi pokok," ucapnya.

Sementara permintaan minyak diprediksi akan tumbuh di sebagian besar periode Outlook sebelum bergerak mendatar di tahun-tahun berikutnya, dan permintaan gas alam akan tumbuh pesat dan menyalip batu bara sebagai sumber energi terbesar kedua.

Kajian itu juga menunjukkan bahwa pada tahun 2040, energi terbarukan tumbuh lebih dari 400 persen dan berkontribusi lebih dari 50 persen pertumbuhan pembangkit listrik dunia. Pertumbuhan yang kuat ini dimungkinkan dengan meningkatnya daya saing energi angin dan tenaga surya.

Sebelumnya, kebijakan pemerintah melalui berbagai kementerian terkait perlu dipastikan benar-benar mendukung investasi energi baru dan terbarukan yang selama ini dinilai belum optimal dalam pengembangannya.

"Pemerintah harus melihat kembali kebijakannya apakah sudah cukup mendukung para investor untuk menginvestasikan uangnya untuk membangun energi baru, termasuk tenaga angin dan arus laut," kata Anggota Komisi VII DPR RI Andi Yuliani Paris.

Menurut dia, pada saat ini sejumlah regulasi yang ada masih belum sepenuhnya mendukung percepatan investasi energi baru dan terbarukan di Tanah Air.

Ia menyoroti sejumlah negara seperti Qatar dan Singapura di mana para investor diberikan insentif pajak bila mereka mau membangun pembangkit listrik yang ramah lingkungan.

DPR RI juga dikabarkan segera mendorong penyusunan Rancangan Undang Undang tentang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT) guna mengatur pemanfaatan potensi EBT yang sangat besar di Indonesia tapi belum dimanfaatkan secara optimal.

Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto mengatakan hal itu pada seminar nasional "Urgensi Penyusunan UU EBT: Pengembangan EBT" di Jakarta, Rabu (24/1).

Menurut Agus Hermanto, Indonesia memiliki potensi EBT sangat besar tapi pemanfaatannnya masih minim, sehingga potensi EBT ini harus dioptimalkan.

Pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pembangkit listrik nasional, yaitu sejak tahun 2011, tercatat pembangkit listrik EBT mengalami peningkatan rata-rata sebesar 10 persen setiap tahun. (Ant)