INDUSTRY.co.id - Kalteng-Orang utan, merupakan salah satu hewan ikonik yang ada di Indonesia. Salah satu habitatnya hanya ada di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera saja, dan kali ini,Industry.co.id bersama dengan Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) berkesempatan mengujungi Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Diketahui menurut data Orangutan Foundation International, terdapat enam ribu orang utan yang hidup di Taman Nasional Tanjung Puting.
"Data terakhir menurut ada enam ribu Orang Utan yang berada di Taman Nasional Tanjung Puting," kata Yomie Ketua Pemandu Wisata Provinsi Kalimantan Tengah, Minggu (18/2/2018).
Untuk mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting, wisatawan bisa menggunakan perahu klotok yang dapat disewakan. Rutenya, mulai dari dermaga Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, lalu menyusuri sepanjang aliran Sungai Sekonyer.
Jenis kapalnya berbeda-beda, sesuai dengan jumlah orang atau penumpangnya atau jenis klotok apa yang diinginkan penumpang.
"Jarak dari Kumai ke Tanjung Puting dapat ditempuh dengan jarak 45 kilometer dengan estimasi waktu empat hingga lima jam perjalanan air dengan menggunakan klotok," ujarnya.
Menurut Yomie, angka harapan hidup orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting lebih pendek daripada di kebun binatang. Usianya berkisar 50-60 tahun. Sedangkan usia orang utan di kebun binatang bisa mencapai 70 tahun.
"Sebab, di hutan segi kompetisinya tinggi. Kemungkinan orang utan diserang binatang buas besar lantaran ketika menua mereka tidak bisa lagi memanjat," imbuh Dia.
Di Tanjung Puting, terdapat lima kamp yang terdiri dari tiga tempat pemberian makan Orang Utan.
"Yang pertama ada kamp Tanjung Harapan pemberian makan pada jam 15.00 sore, lalu Kamp Pondok Tanggui pemberian makan jam 09.00 pagi dan, Kamp Leakey pada jam 14.00. Selain itu ada tiga kamp yang terdiri dari dua kamp pos yaitu yang pertama ada Pesalat tempat penelitian dan pembibitan untuk melakukan penanaman hutan, dan di sana ada tempat camping ground atau tempat berkemah. Dimana, para wisatawan bisa berkamping di tempat tersebut," katanya.
Selanjutnya ada Kamp Pondok Ambung, dimana tempat tersebut merupakan pos penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa. Biasanya merka melakukan penelitian burung, buaya dan kucing hutan.
"Selain menjadi tempat penelitian, Pondok Ambung juga dijadikan tempat untuk wisatawan yang ingin night trekking atau jelajah hutan di malam hari," ungkapnya.
Sambung Yomie, di Tanjung Puting ini, terdapat sembilan jenis kera, yang terdiri dari orang utan, kera ekor panjang, uwa-uwa, bekantan, beruk, lutung, kelasi dan monyet merah.
"Tetapi, yang biasa Kami lihat ada Orang Utan, Lutung, Bekantan dan Kera Ekor Panjang," lanjutnya.
Ditiap kamp terdapat petugas Taman Nasional yang selalu siap jaga di tempat tiket masuk dan keluar. "Untuk tiket masuk tiap wisatawan tergantung ditiap kamp yang mereka singgahi. Tetapi, harga rata-rata kampnya berkisar mulai dari Rp5 ribu hingga Rp 10 ribu saja," jelas Yomie.
Biasanya, para wisatawan asing yang berkunjung ke Tanjung Puting dapat menghabiskan waktu liburan mereka hingga tiga hari sampai tujuh hari dan bisa bermalam di atas klotok dengan menikmati pemandangan sejuknya hutan dan melihat berbagai jenis hewan yang ada.