INDUSTRY.co.id - Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS)mencatat ekonomi Indonesia tahun 2017 tumbuh sebesar 5,07 persen, di bawah target yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,2 persen. Meski begitu terjadi kenaikan pertumbuhan dibanding tahun 2016 yang mencapai 5,03 persen.
Secara absolut, perekonomian Indonesia tahun 2017 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp13.588,8 triliun dan PDB perkapita mencapai Rp51,89 juta atau US$3.876,8.
Ini berarti ekonomi Indonesia tahun 2017 mencatat pertumbuhan sebesar 5,07 persen, menunjukan kenaikan tipis dibanding capaian tahun 2016 sebesar 5,03 persen.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,81 persen.
"Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 9,09 persen," papar Kepala BPS Suhariyanto beberapa waktu lalu.
Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07% kata Suhariyanto didorong oleh eksternal positif terjadi pada kuartal IV 2017.
Termasuk perbaikan ekonomi Tiongkok dan Amerika Serikat, yang mengambil porsi 27 persen dari pangsa ekspor Indonesia.
Tak hanya itu, kenaikan harga komoditas di kuartal IV juga mendorong nilai ekspor Indonesia seperti harga minyak dunia yang naik 23,61 persen secara tahunan dan komoditas tambang seperti aluminium, seng, dan tembaga.
Sentimen tadi berdampak pada nilai ekspor netto, yang mengalami peningkatan 9,09 persen di 2017.
"Ini disebabkan karena perbaikan kinerja ekonomi negara tujuan ekspor dan meningkatnya harga komoditas. Adapun, ini merupakan komponen pembentuk PDB yang tumbuh paling signifikan," ujarnya.
Sementara itu, nilai Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) di tahun 2017 juga membaik dan bertumbuh 6,15 persen.
Ini disebabkan karena realisasi investasi riil di kuartal IV juga naik 12,7 persen secara tahunan menjadi Rp179,6 persen.
Begitu pula dari sisi penyerapan belanja pemerintah tercatat melonjak 39,94 persen di kuartal IV dibanding kuartal III akibat belanja gaji dan tunjangan, utamanya guru dan tenaga pendidik.
Menurutnya, ini cermin bahwa pengelolaan pengeluaran pemerintah masih belum baik, di mana seluruh penyerapan belanja dilakukan di akhir tahun.
"Tapi konsumsi pemerintah ini mengalami perbaikan. Kami melihat semua komponen pertumbuhan ekonomi ini terlihat positif," jelas dia.
Jika dilihat dari bentuk komponennya, maka konsumsi rumah tangga masih memegang porsi PDB terbesar tahun 2017 yakni 56,13 persen, yang disusul oleh PMTB 32,16 persen, dan ekspor yakni 20,37 persen.
Sementara khusus di kuartal IV-2017, bila dibandingkan kuartal IV-2016 (y-on-y) ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,19 persen.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Perusahaan sebesar 9,25 persen.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 8,50 persen.
Ekonomi Indonesia triwulan IV-2017 bila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 1,70 persen.
Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami kontraksi 21,60 persen.
"Dari sisi pengeluaran disebabkan oleh penurunan Ekspor neto," ujarnya.