INDUSTRY.co.id - Jakarta-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan terkoreksi pada rentang 6512 hingga 6630.
"Sektor tambang dan saham yang berorientasi export dapat menjadi pilihan," ujar David Sutyanto, Head of Researche Ekuator Swarna Sekuritas di Jakarta, Selasa (6/2/2018).
Menurut dia, sentimen yang akan berpengaruh ke IHSG terbagi menjadi 2. Sentimen negatif berasal dari penurunan bursa dunia, pelemahan rupiah, penurunan harga minyak dan data ekonomi yang kurang memuaskan. Akan tetapi sentimen positif datang dari peningkatan harga komoditas seperti harga nikel dan timah di LME berhasil menguat masing-masing 1,2% dan 1%.
Koreksi mewarnai pergerakan IHSG kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mampu keluar dari zona merah hingga ditutup turun 39,14 poin atau setara 0,59% ke level 6.589,67. Seluruh sektor mengalami penurunan yang dipimpin oleh sektor aneka industri dan indsutri dasar yaitu 1,86% dan 1,84%. terdapat transaksi 12,40 miliar saham, dengan nilai perdagangan Rp 7,03 triliun. Investor asing masih melancarkan aksi jual, dengan nilai penjualan bersih di pasar reguler mencapai Rp 554,29 miliar.
Sentimen yang terjadi kemarin adalah kekhawatiran setelah Dow Jones terkoreksi lebih dari 500 poin pada akhir pekan lalu. Selain itu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV-2017 sebesar 5,19% secara year on year (yoy). Namun, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2017 tercatat 5,07%. Secara kuartalan pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah ke 1,70%. hal ini menjadi anomali dikarenakan beberapa negara lain mengalami penguatan seperti Tiongkok di kuartal IV-2017 menguat 6,8% sama dengan kuartal sebelumnya. Ekonomi Inggris menguat dari 2,3% ke 2,5% di kuartal IV-2015. Jepang menguat dari 1,5% ke 2,0%.
Bursa saham US kembali jatuh pada perdagangan hari senin. DJIA anjlok hingga 1175 poin (4,6%), terburuk dalam enam tahun terakhir, tutup di 24345,75. Indeks S&P anjlok 113 poin (4%) di 2648,94 dan indeks Nasdaq drop 3,8% di 6967,77. Aksi panic selling terjadi menjelang penutupan yang disebabkan kekhawatiran akan kenaikan tingkat suku bunga akibat perekonomian US yang semakin membaik.