INDUSTRY.co.id - Jakarta - Guna mendukung upaya pemerintah untuk merevitalisasi industri kakao, Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral bekerja sama dengan Kementerian Pertanian telah memfasilitasi kunjungan delegasi International Cocoa Organization (ICCO) yang dipimpin oleh Direktur Eksekutif ICCO, Dr. Jean-Marc Anga, yang akan berlangsung dari tanggal 21 hingga 27 Januari 2018.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan delegasi ICCO, Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral, Kementerian Luar Negeri, Febrian A. Ruddyard telah menyelenggarakan multistakeholders meeting di hotel Aryaduta, pada hari Selasa, (23/1/2018) kemarin.
Selain dihadiri oleh pihak pemerintah dan kelompok masyarakat madani, pihak swasta seperti Cargill, Nestle, Mayora, PT. PP London Sumatra Tbk, dan BT Cocoa juga hadir pada pertemuan tersebut. Direktur Eksekutif International Pepper Community (IPC) dan Asian Pacific Coconut Community (APCC) juga turut hadir pada pertemuan tersebut.
"Kunjungan kerja ini ditujukan untuk meningkatkan kerja sama antara Indonesia dengan ICCO guna mencari cara untuk merevitalisasi industri kakao," kata Febrian seperti melalui keterangan resmi yang diterima, Rabu (24/1/2018).
Ia menambahkan, selama kunjungan tersebut, Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral telah memfasilitasi pertemuan antara ICCO dengan para pemangku kepentingan nasional baik dari kalangan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, kelompok masyarakat madani.
"Selain itu, kita juga telah membicarakan mengenai proyek kerja sama penangangan hama kakao. Kita harapkan manfaat dari proyek ini akan langsung dirasakan oleh petani skala kecil," tambahnya.
Dalam pertemuan tersebut, Dr. Anga menyampaikan pandangannya terkait upaya Pemerintah untuk merevitalisasi industri kakao. "Kebijakan revitalisasi industri kakao Indonesia dapat disandarkan pada empat langkah utama, yang terdiri dari promosi konsumsi kakao, diversifikasi, pemrosesan kakao di negara asal guna meningkatkan added-value produk, dan penyusunan Rencana Kakao Nasional berdasarkan pengetahuan tentang sumber daya kakao setempat," ucapnya.
Selain itu, Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral juga telah menjadwalkan kunjungan delegasi ICCO ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) di Jember, Jawa Timur, untuk mengidentifikasi bentuk kerja sama yang dapat dilakukan, termasuk kerja sama joint-research.
Sebagai salah satu penghasil kakao terbesar di Indonesia, Indonesia juga sedang berupaya untuk meningkatkan keterwakilannya di ICCO. Kementerian Luar Negeri dalam hal ini telah memfasilitasi agar posisi Agricultural Economist ICCO dapat diisi oleh Warga Negara Indonesia (WNI).
Dalam kunjungannya, Dr. Anga juga menyampaikan undangan kepada Pemerintah Indonesia untuk hadir dalam World Cocoa Conference yang akan diselenggarakan pada tanggal 22-25 April 2018 di Berlin, Jerman. Dr. Anga mengharapkan keterwakilan Indonesia pada level tinggi selaku salah satu pemain besar di industri kakao.
“Kami sungguh-sungguh berharap agar Indonesia, selaku salah satu negara produsen kakao terbesar dapat hadir pada konferensi mendatang. Hal ini tentu akan memberikan sinyal positif kepada negara produsen maupun konsumen kakao untuk bersama-sama merevitalisasi industri kakao secara global" tutur Dr. Anga.