INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Di tengah sorotan global terhadap isu keberlanjutan, kelapa sawit Indonesia dituntut bertransformasi.
Tidak sekadar soal produktivitas, tapi juga harus rendah emisi, bebas deforestasi, dan mampu memberdayakan petani kecil agar naik kelas.
Jalan itu yang ditempuh Musim Mas Group melalui Kebijakan Keberlanjutan 2026–2030. Fokusnya tiga pilar yakni produksi berkelanjutan, pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab, serta pemberdayaan petani dan pengelolaan lanskap.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat daya saing sawit Indonesia di pasar internasional yang kian ketat soal standar keberlanjutan dan ketertelusuran rantai pasok.
Tekan Emisi 11 Persen
Hasilnya mulai terlihat di laporan terbaru. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, Musim Mas mencatat penurunan total emisi gas rumah kaca sekitar 11 persen. Dari 40,40 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e) pada 2024, menjadi 35,94 juta ton pada 2025.
Capaian ini mengantarkan Musim Mas memperoleh validasi Science Based Targets initiative (SBTi) atas target emisi nol bersih pada 2050. Validasi ini menjadi penanda komitmen perusahaan mendukung transisi menuju kegiatan industri yang lebih rendah karbon.
Komitmen lingkungan ini sudah dijalankan sejak lama. Sejak 2015, Musim Mas menerapkan kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE). Seluruh perkebunan dan pabrik terintegrasi telah mencapai sertifikasi RSPO sejak 2012, serta sertifikasi ISPO bagi 17 anak perusahaan sektor hulu pada 2023.
48.500 Petani Diberdayakan
Selain aspek lingkungan, Musim Mas menempatkan petani swadaya sebagai kunci.
Lebih dari 48.500 petani swadaya di enam provinsi telah mengikuti pelatihan pertanian berkelanjutan. Hasilnya, sepanjang 2025 sebanyak 4.644 petani binaan memperoleh sertifikasi RSPO dan 3.294 petani memperoleh sertifikasi ISPO.
Sertifikasi ini bukan sekadar label. Bagi petani, ini menjadi tiket untuk masuk ke rantai pasok global yang menuntut keberlanjutan.
Dengan penguatan praktik berkelanjutan di tingkat perusahaan dan petani, industri kelapa sawit nasional diharapkan makin tangguh, memperluas akses pasar ekspor, sekaligus menjaga kontribusi sektor sawit terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.