"Ustad ABDUL SOMAD: THE PHENOMENON"

Oleh : DR. Moeflich Hasbullah | Jumat, 29 Desember 2017 - 11:55 WIB

Ustaz Abdul Somad (panjimas)
Ustaz Abdul Somad (panjimas)

INDUSTRY.co.id - Lelaki muda Riau kurus ini, kini sudah jadi fenomena. Fenomena dalam gerakan Islam Indonesia kontemporer.

Bisa dikatakan, ia fenomena baru pasca Habib Rizieq. Bedanya, Rizieq pemimpin pergerakan (FPI) dan penggerak massa, Abdul Somad pendakwah, da'i, mubaligh.

Kedua-duanya ulama berkharisma. Rizieq seorang habib, Abdul Somad bukan. Dua-duanya berwatak keras, bersuara lantang, ucapannya tegas dan wawasan keislamannya luas. Kelebihan Abdul Somad dari Rizieq adalah penguasaan sumber kitab-kitab klasiknya lebih lengkap.

Dalam diri Abdul Somad, banyak kelebihan yang merupakan gabungan dari beberapa sosok ulama-mubaligh masyhur di Indonesia. Lebih dari KH. Zainuddin MZ, Abdul Somad menguasai sumber-sumber klasik Islam atau kitab kuning sebagai sumber keilmuan dakwahnya.

Bila Zainuddin MZ hafal membacakan teks Arab dakwahnya, Abdul Somad dengan nama kitabnya, nama pengarangnya, teks kalimatnya dan konteks kitab yang dikutipnya itu.

Dan dalam penyebutan itu, ia hampir tidak pernah ada jeda berpikir dulu, daya ingatnya luar biasa, informasi sumber kitab langsung mengalir dari ingatannya. Kalangan ulama, kyai, habaib, ustadz dan mubaligh angkat topi atas penguasaan sumber-sumber kitab klasiknya, semuanya hormat.

Yang unik dari Abdul Somad adalah hubungannya dengan NU. Dia orang NU tapi tidak seperti ulama-ulama NU lainnya yang umumnya berseberangan dengan mainstream atau dengan umat di luar NU.

Pikiran Abdul Somad tidak mewakili NU tapi mewakili independensi keilmuan dirinya dan umat Islam.

Abdul Somad orang NU tapi membenarkan khilafah dengan dasar kutipan kitabnya yang kuat dan juga simpatik pada Erdogan, bahkan mengidolakannya, yang rata-rata orang NU tidak suka.

Bila dikelompokkan dengan ulama NU lainnya, mungkin ia sejalur dengan KH. Hasyim Muzadi yang ketegasannya sama. Suara keduanya mewakili umat Islam bukan hanya mewakili NU, tapi di NU tetap diterima. Hasyim di jajaran ulama senior, Abdul Somad yunior.

Di kalangan para habib NU, Abdul Somad juga diterima karena kedalaman ilmunya. Ia diundang ke halaqah habaib NU diberi kesempatan bicara yang menunjukkan ke NU-an Somad dan sebelumnya dengan takzim mencium tangan Habib Umar bin Hafidz dan Habib Luthfi Yahya yang kharismatik.

Mungkin Abdul Somad lebih mewakili NU garis lurus bersama Gus Nur tapi beda popularitas, wawasan dan kematangan emosi.

Kematangan emosinya Somad bahkan jauh dibandingkan dengan Ketua PBNU sendiri, Aqil Siraj. Tak heran, sebagian kalangan NU ada yang mengharapkan Abdul Somad memimpin NU menggantikan Aqil Siraj.

Prediksi saya, bila itu terwujud, citra NU di masyarakat Muslim non NU akan jauh membaik yang selama ini seolah selalu menempatkan diri harus selalu berseberangan dengan gairah keislaman baru yang sedang berkembang.

Di luar NU, Abdul Somad juga pernah sowan ke Amien Rais di Yogyakarta yang merepresentasikan pemimpin senior Muhammadiyah, profesor dan cendekiawan Muslim senior yang tetap konsisten di sayap kritis atas penyelenggaraan pemerintahan.

Dengan tawadhu dan pengakuan, kepada Prof. Amien Rais, Abdul Somad meminta nasehat dan Amien Rais pun memberinya nasehat agar Abdul Somad berhat-hati untuk tidak menjadi ulama yang datang ke penguasa dan mengetuk-ngetuk pintu istana.

Bukan mustahil, sarjana alumni Mesir dan Maroko yang kurus, cerdas, tegas, berilmu dan independen ini, akan menjadi pemimpin alternatif Islam Indonesia masa depan yang diterima semua golongan. Sosoknya jarang ada pada ulama-ulama lain yang selama ini dikenal.

Ceramah-ceramahnya padat ilmu dan humor-humornya segar. Ia tegas tapi fleksibel, militan tapi juga kultural.

Dalam diri Abdul Somad ada kultur NU, ada kemajuan Muhammadiyah, ada nahyi munkar FPI, ada aspirasi para habib, ada penerimaan pada khilafah bahkan ada nuansa salafi-wahabi.

Lengkap sudah ulama yang satu ini dan, sekali lagi, bukan mustahil, inilah sosok pemimpin Islam Indonesia masa depan yang selama ini sulit dicari!!

Wallahu 'alam.

Penulis adalah DR. Moeflich Hasbullah, Pakar Sejarah Islam, Dosen UIN Sunan Gunung Djati.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Wisuda Sekolah Jurnalisme HNJA 2019

Sabtu, 14 Desember 2019 - 13:21 WIB

Kolaborasi Danone-SJAJI Tingkatkan Kapasitas Jurnalis Melalui Program HNJA

Jakarta - Sebanyak 13 jurnalis yang mengikuti Health and Nutrition Journalist Academy (HNJA) 2019 mengikuti kelulusannya dari program ini, Jumat 13 Desember 2019. Para jurnalis muda dari berbagai…

Cinta Laura

Sabtu, 14 Desember 2019 - 12:00 WIB

Cinta Laura Sulit Memerankan Gadis Bogor

Film yang baik tidak sekedar tontonan tapi juga bisa memberikan tuntunan buat penonton maupun pemain terlibat. Hal itu yang dirasakan oleh Cinta Laura ketika membintangi film Jeritan Malam produksi…

Habibie Ainun 3 Frekwensi Yang Menyatukan Cinta Abadi

Sabtu, 14 Desember 2019 - 11:00 WIB

Habibie Ainun 3 Frekwensi Yang Menyatukan Cinta Abadi

Film Habibie Ainun 3, kisah dokter yang mengabdi pada suami. Ainun anak bidan di salah satu desa di Jawa Tengah, sejak kecil bercita-cita ingin menjadi dokter, impiannya didukung kedua orang…

Ozy Syahputra dan Indah Permatasari dalam film "Si Manis Jembatan Ancol" veris terbaru yang tayang 26 Desember 2019 mendatang.

Sabtu, 14 Desember 2019 - 10:45 WIB

Film ‘Si Manis Jembatan Ancol’ Dengan Kisah Asli Hantu Mariam

Belakangan banyak film lama yang kembali dibuatkan versi baru. Salah satunya yang segera akan beredar adalah film Si Manis Jembatan Ancol. Film yang diproduksi oleh MVP Pictures bekerjasama…

MSI Turut Mendorong Bertumbuhnya Ekonomi Kreatif

Sabtu, 14 Desember 2019 - 10:00 WIB

MSI Turut Mendorong Bertumbuhnya Ekonomi Kreatif

Micro-Star INT’L CO., LTD, produsen laptop asal Taiwan, resmi meluncurkan tiga buah laptop seri Content Creation beserta satu laptop seri Workstation terbaru di Indonesia yaitu Prestige 15,…