INDUSTRY co.idJakarta - Pertanggal 1 Januari 2018, PT Pertamina (Persero) akan mendapatkan hak kelola Blok Mahakam menggantikan Total E&P Indonesia setelah berakhirnya kontrak pada 31 Desember 2017.

Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia, Bambang Manumayoso menjelaskan, Pertamina telah melakukan berbagai persiapan dan strategi untuk tetap menjaga produksi migas Blok Mahakam. Salah satunya dengan memastikan keberlangsungan kegiatan pengeboran dan well intervention pada saat peralihan dari Total E&P Indonesie ke Pertamina pada 1 Januari 2018.

Beberapa persiapan yang sudah dilakukan Pertamina antara lain transfer pekerja Total E&P Indonesia, yang sudah mendandatangani perjanjian kerja dengan Pertamina, mencapai 98,23%, lalu telah melakukan pengeboran 14 unit sumur dari program 15 sumur pada 2017 dengan pencapaian HSSE yang baik.

Pertamina juga berhasil menekan biaya pengeboran sumur hingga lebih efisien 23% terhadap anggaran yang direncanakan, mencatat waktu pengeboran lebih cepat hingga 25%, mendapatkan potensi penambangan cadangan hingga 120%, memperoleh penambahan ketebalan reservoir sebesar 115% dan pelaksanaan mirroring contract atas persetujuan SKK Migas untuk mempercepat proses kontrak dengan pihak ketiga penunjang operasi Blok Mahakam senilai US$1,2 miliar.

Bambang mengatakan, semua langkah persiapan dan strategi tersebut memang bukan hal yang mudah dilakukan. Namun Pertamina bersama otoritas terkait dan operator eksisting berupaya yang terbaik memastikan semua proses berjalan dengan lancar.

"Kami yakin bisa. Dan, sejauh ini sudah bisa membuktikannya dengan adanya pengeboran yang sesuai target, namun biaya lebih efisien dan waktu pengeboran lebih cepat. Ini adalah bukti bahwa dengan kerja sama berbagai pihak, alih kelola Blok Mahakam ini akan berjalan baik," kata Bambang dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (28/12/2017).

Bahkan pada 2018, kata Bambang, Pertamina sudah siap menambah sumur pengembangan dari semula 55 sumur menjadi 65 sumur. "Serta menyiapkan biaya investasi hingga US$700 juta dan biaya operasional sebesar US$1 miliar," tambahnya.

Demikian pula, untuk dukungan pekerja eksisting, yang mendekati 100% menjadi bukti kesiapan Pertamina untuk mengelola Mahakam. Meski dikelola perusahaan asing selama kurun waktu 50 tahun, namun sebagian besar pekerja di blok penghasil gas terbesar tersebut adalah warga negara Indonesia. Mereka adalah orang Indonesia asli, yang bekerja di perusahaan asing untuk mengelola Blok Mahakam.

"Kemampuan anak negeri tidak perlu dipertanyakan lagi, karena itu peralihan status tidak menjadi masalah bagi mereka," jelas Bambang.