INDUSTRY.co.id - Jakarta- Kebijakan perdagangan yang dilakukam pemerintah pada tahun 2018 mendatang perlu dilaksanakan dengan lebih terbuka dalam rangka menjaga harga beragam komoditas pertanian di tengah masyarakat.
"Memasuki tahun 2018, kami mendorong pemerintah untuk menjalankan kebijakan pangan yang mengepankan kepentingan rakyat. Pemerintah tidak perlu ragu untuk melibatkan diri ke dalam perdagangan internasional dan mengambil manfaat dari mekanisme pasar," kata Kepala Penelitian Cmter of Indonesian Poicy Studies (CIPS) Hizkia Respatadi, di Jakarta, kemarin.
Menurut Hizkia, dengan mengikuti mekanisme pasar, harga komoditas pangan di Tanah Air yang akan lebih terjangkau. Dalam kaitannya dengan ekspor, pemerintah harus bisa memaksimalkan komoditas pangan yang memang melimpah seperti coklat dan kopi.
Selain itu, ujar dia, terkait kebijakan impor, untuk menghindarkan monopoli, pemerintah sebaiknya juga memberikan kesempatan kepada berbagai pihak, BUMN atau swasta untuk mengimpor komoditas pangan.
Sebagaimana diwartakan, Kementerian Pertanian mendorong berbagai perusahaan yang bergerak di sektor pertanian dapat mengadopsi model bisnis inklusif, di mana keuntungan yang dihasilkan dari segi bisnis suatu perusahan juga mengalir dan meningkatkan kesejahteraan para petani di sekitarnya.
"Angkat kesejahteraan petani dengan model 'inclusive business'. Kami akan usahakan agar industri besar bisa merangkul banyak petani," kata Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono dalam acara pelepasan ekspor perdana 710 ton benih kangkung yang digelar di kantor pusat PT East West Seed Indonesia (Ewindo) di Desa Benteng, Kecamatan Campaka, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis.
Menurut Spudnik Sujono seperti dilansir Antara, model bisnis seperti yang dilakukan Ewindo merupakan hal yang berbeda dengan penerapan konsep seperti CSR (tanggung jawab sosial perusahaan), atau "social enterprise" karena dinilai dapat benar-benar mengangkat harkat kesejahteraan para petani yang bekerja sama di dalamnya.
Untuk itu, ujar dia, ke depannya juga diharapkan dapat dikembangkan terus menerus model bisnis seperti ini sehingga penerimaan hasil ekspor yang dilakukan perusahaan juga bisa mengucur hingga lapisan petani yang bekerja keras dalam menggarap lahan.
"Memroses benih seperti ini tidak gampang. Kita berdoa ke depannya akan berkembang 'ewindo-ewindo' yang lain. Kami juga berharap lebih banyak lagi jenis benih yang dikembangkan," ucapnya.
Ia juga mengutarakan harapannya agar model kemitraan yang dijalin Ewindo terus dijalin kuat tidak hanya dengan memberikan akses ekspor, tetapi juga dalam bentuk transfer teknologi.
Sebelumnya, Kepala Penelitian CIPS Hizkia Respatiadi mengatakan, kebijakan pemerintah harus dapat mengantisipasi dampak dari musim hujan dan gejala cuaca ekstrim agar dapat mencegah kenaikan harga pangan terutama pada masa menjelang Natal dan Tahun Baru mendatang.
"Musim hujan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia memang membuat petani sulit memanen hasil tanamannya," katanya.
Menurut Hizkia, hal tersebutlah yang juga mengakibatkan naiknya harga komoditas yang ada di pasar.