INDUSTRY.co.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (3/1/2017) sore bergerak menguat sebesar 14 poin menjadi Rp13.451, dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.465 per dolar AS.

Analis pasar uang Bank Mandiri, Renny Eka Putri di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa data inflasi Desember 2016 yang relatif terjaga di level rendah menjadi salah satu sentimen yang menopang mata uang rupiah terhadap dolar AS pada awal tahun 2017 ini.

"Inflasi Desember tercatat sebesar 0,42 persen, memberi harapan laju inflasi kembali stabil pada 2017," ujar Renny Eka Putri.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Desember 2016 mencapai 0,42 persen atau terendah sejak 2010. Sementara tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2016 sebesar 3,02 persen.

Ia menambahkan bahwa meski terdapat sentimen negatif terkait hasil riset JPMorgan Chase Bank mengenai Indonesia, tampaknya tidak terlalu direspon pasar. Sebagian pelaku pasar masih menilai ekonomi Indonesia memiliki fundamental yang cukup kondusif.

"Persepsi investor terhjadap fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid di tengah perlambatan global," kata Renny.

Menurut dia, salah satu faktor yang dapat menahan laju mata uang rupiah yakni kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mengenai kenaikan suku bunga acuan pada 2017.

Sementara itu, ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan bahwa di tengah kenaikan harga minyak global, laju inflasi domestik yang rendah memberikan daya tarik lebih terhadap aset berdenominasi rupiah.

Di sisi lain, lanjut Rangga Cipta, kekhawatiran fiskal juga mulai meredup menyusul defisit APBN-P 2016 yang hanya dikisaran 2,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga Desember 2016.

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Senin ini mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp13.485 dibandingkan Sabtu (31/12) Rp13.436.(ant)