INDUSTRY.co.id - Bank Indonesia memprediksi inflasi Jawa Timur akan naik 0,5 persen pada akhir 2016 karena Natal dan Tahun Baru 2017 berbarengan dengan liburan panjang sekolah sehingga membuat daya beli masyarakat makin naik pada akhir tahun.

Advertisement

Kepala BI Perwakilan Jatim Benny Siswanto di Surabaya, Jumat (30/12) mengakui daya beli yang naik otomatis akan dibarengi dengan kenaikan harga dan sektor yang naik, antara lain, transportasi dan beberapa komoditas seperti bawang merah dan cabai.

"Sampai November 2016, bawang merah menyumbang inflasi hingga 0,39 persen, dan akan diperparah dengan harga cabai rawit yang masih melambung akibat cuaca, serta ditambah biaya transportasi yang biasanya melonjak 100 persen," katanya.

Advertisement

Sebelumnya, sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim inflasi wilayah setempat pada bulan November 2016 mencapai 0,33 persen. Apabila naik 0,5 persen, diperkirakan akan berada pada level 0,83 persen.

"Angka itu sudah bagus sebab kenaikan harga cabai juga masih berlangsung hingga saat ini," katanya kepada Antara.

Advertisement

Benny mengatakan bahwa sektor konsumsi juga akan naik pada akhir tahun karena adanya belanja bahan makanan sehingga beberapa komoditas sulit dikontrol.

"Kami perkirakan bahan makanan akan menyumbang inflasi paling tinggi dengan nilai 0,85 persen. Hal itu masih akan berlanjut di akhir Desember ini," katanya.

Advertisement

Benny mengatakan bahwa secara kumulatif nilai inflasi Jatim masih berada pada level yang bagus, yakni ada pada kisaran 2,6 hingga 3 persen, dan berada di ambang batas inflasi pemerintah sebesar 4 persen.

Sementara itu, Benny mengatakan bahwa komoditas yang akan menghambat laju inflasi pada tahun 2016 adalah semen yang harganya justru turun meski konsumsinya yang meningkat.

"Faktornya adalah produksi semen domestik yang surplus atau lebih sehingga mendorong penurunan harga," katanya.(Hrb)