INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution serta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong melakukan konferensi pers 'Ease of Doing Business (EODB) Indonesia' di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (1/11/2017).
"Topik yang dibahas antara lain mengenai peringkat EODB, penurunan kebakaran hutan dan lahan, serta peningkatan nilai tambah manufaktur," ujar Airlangga.
Dalam laporan tahunan 'Doing Business 2018' yang dirilis oleh Bank Dunia, peringkat kemudahan berusaha Indonesia di tahun 2018 secara keseluruhan naik 19 peringkat menjadi posisi 72 dari 190 negara yang disurvei.
"Pada EODB 2017, posisi Indonesia juga meningkat 15 peringkat dari 106 menjadi 91. Tercatat dalam dua tahun terakhir posisi Indonesia telah naik 34 peringkat," tambahnya.
Tak kalah dengan kenaikan peringkat kemudahan berusaha di Indoneia, sektor manufaktur juga mengalami kenaikan peringkat. Berdasarkan data United Nations Statistics Division pada tahun 2016, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dari 15 negara yang industri manufakturnya memberikan kontribusi terhadap PDB lebih dari 10 persen.
"Indonesia mampu menyumbangkan hingga mencapai 22 persen setelah Korea Selatan (29 persen), Tiongkok (27 persen), dan Jerman (23 persen)," terang Airlangga beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pembangunan sektor industri bukanlah sesuatu yang dapat diselesaikan secara mandiri oleh satu atau dua lembaga, tetapi membutuhkan komitmen kuat dari seluruh komponen dan stakeholder mulai dari hulu hingga hilir, serta dari pembuat kebijakan hingga para pelaku industri itu sendiri.
Oleh karena itu, kementerian Perindustrian terus fokus memacu program hilirasi industri karena membawa efek yang luas bagi perekonomian seperti peningkatan terhadap nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan devisa melalui ekspor.