INDUSTRY.co.id - Jakarta-PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), perusahaan manufaktur 
baja terbesar di Indonesia membukukan pendapatan senilai US$ 1,04 miliar selama periode sembilan bulan pertama 2017 (9M2017). Nilai pendapatan tersebut naik 5,87% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

“Hingga September 2017, harga jual baja Perseroan masih menunjukkan kenaikan yang mencapai US$ 599 per ton dari yang hanya mencapai US$ 520 per ton di Januari 2017. Trend perbaikan kinerja akan lebih cepat ke depannya dengan melihat membaiknya harga baja” jelas Direktur Utama PT KS Mas Wigrantoro Roes Setiyadi akhir pekan ini di Jakarta. 

Kuatnya harga jual rata-rata produk baja Perseoan menjadi faktor pendorong kenaikan pendapatan KRAS pada 9M2017. Harga jual rata-rata untuk produk HRC (hot rolled coil), yang memberikan sumbangan terbesar pada pendapatan Perseroan, mengalami kenaikan hingga 33,33% menjadi senilai US$ 583 per ton, begitu pula dengan harga jual rata-rata produk baja Perseroan lainnya seperi CRC (cold rolled coil), long product, dan pipa. 

Kenaikan harga jual produk baja Perseroan juga mampu mendorong kenaikan marjin kotor Perseroan selama 9M2017. Marjin kotor mengalami kenaikan sebesar 94 basis poin (bps) menjadi 14,99%. EBITDA Marjin juga mengalami kenaikan yang ignifikan sebesar 268 bps menjadi 13,45% dengan nilai EBITDA sebesar US$ 139,90 juta atau meningkat 32,19% secara tahunan. 

Secara konsisten Perseroan terus menunjukkan perbaikan kinerja, dimana pendapatan Perseroan meningkat sebesar 5,87% menjadi US$1.039,91 juta pada 9M2017 Dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$982,29 juta. Membaiknya pendapatan Perseroan juga tercermin pada kenaikan signifikan arus kas operasi Perseroan pada 9M2017 sebesar 499,71% menjadi US$121,13 juta dari US$21,20 juta pada 9M2016.

Perbaikan kinerja Perseroan juga terlihat dari menurunnya rugi bersih Perseroan yang sangat signifikan sebesar 34,57% menjadi US$ 75,05 juta dibanding kerugian di 9M2016 sebesar US$ 114,70 juta. Selain karena adanya perbaikan dari sisi pendapatan, membaiknya kinerja KRAS juga karena penurunan tajam rugi selisih kurs sebesar 95,13% serta penurunan beban keuangan sebesar 17,59% dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Mas Wig menambahkan, untuk proyek infrastruktur hingga September 2017, KRAS telah menyuplai 20.369 ton baja untuk proyek konstruksi Jakarta-Cikampek II (Japek II) elevated dari total 225.000 ton baja yang akan disuplai hingga 10 bulan kedepan. Perseroan juga terus berupaya untuk menambah kapasitas produk baja lembaran canai panas (HRC) dengan membangun pabrik Hot Strip Mill #2 (HSM#2) di kawasan industri Krakatau, Cilegon. Hingga September 2017, proses pengerjaan fisik konstruksi HSM#2 sudah mencapai 35,93% yang rencananya akan mulai beroperasi pada awal tahun 2019. 

“Sebagai produsen baja nasional, tujuan kita adalah agar tetap terus tumbuh dan berkembang secara simultan dengan mitra dan pemegang saham. Proyek ekspansi yang dijalankan oleh Perseroan saat ini merupakan upaya untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan baja di masa yang akan datang yang berpotensi mencapai US$15 miliar”, imbuh Mas Wig.