INDUSTRY.co.id - Self regulatory organization (SRO) pasar modal, terdiri Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) mendirikan PT Pendanaan Efek Sekuritas (PEI) yang akan memberikan pembiayaan untuk transaksi marjin.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Jakarta, Selasa (27/12) mengemukakan bahwa PEI bakal memberikan pembiayaan marjin kepada perusahaan efek atau sekuritas yang telah menjadi anggota bursa (AB) dengan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) minimal sebesar Rp250 miliar.

"'Securities Financing'-lah intinya. Perusahaan itu (PEI) nantinya akan memberikan pinjaman sebesar Rp100 miliar kepada perusahaan efek. Saat ini, ada sekitar 30 perusahaan sekuritas yang memiliki MKBD di atas Rp250 miliar," ujarnya.

Ia mengharapkan bahwa berdirinya perusahaan itu dapat mengoptimalisasi transaksi saham di Bursa Efek Indonesia sehingga likuiditas pasar modal terus meningkat.

"Dana yang diberikan PEI itu nantinya dapat digunakan untuk mendanai transaksi marjin terhadap 200 perusahaan tercatat atau emiten. Saat ini, hanya sekitar 60 perusahaan yang boleh dilakukan transaksi marjin, mayoritas saham marjin itu masuk dalam indeks 45 saham unggulan (LQ45)," paparnya.

Tito Sulistio kepada Antara menargetkan, melalui fasilitas pembiayaan marjin itu transaksi efek di pasar modal Indonesia dapat meningkat lebih dari 25 persen. Saat ini, rata-rata transaksi harian di BEI sebanyak 264.517 kali transaksi dengan volume perdagangan 7,49 miliar senilai Rp7,71 triliun.

Ia juga mengharapkan bahwa didirikannya PEI itu dapat menambah investor yang melakukan transaksi marjin. Dari total 530 ribu investor saham saat ini, baru sebanyak 180 ribu investor yang aktif melakukan transaksi marjin.

Pada prinsipnya, Tito Sulistio menjelaskan perusahaan pembiayaan untuk transaksi marjin itu akan menggunakan modal sendiri untuk menyalurkan pembiayaan. Akan tetapi, terbuka peluang juga untuk mencari pinjaman ke perbankan dalam rangka meningkatkan pembiayaan.

Direktur Utama KPEI Hasan Fawzi menambahkan bahwa SRO menyalurkan dana ke PEI sebesar Rp250 miliar sebagai modal disetor. Komposisi pemegang saham PEI adalah BEI sebesar 34 persen saham, KSEI sebesar 33 persen saham dan KPEI sebesar 33 persen saham. Namun, BEI memiliki satu lembar golden share yang memiliki hak untuk menentukan direksi dan komisaris PEI.

"Kita harapkan modal itu bertambah tiga kali lipat menjadi Rp1,5 triliun. Mungkin nanti dicari sumber pendanaan lain," ujarnya.

Ia memaparkan bahwa nilai outstanding transaksi marjin di pasar modal Indonesia saat ini mencapai sekitar Rp6 triliun. Dana sebesar itu berpotensi bertambah setelah PEI resmi beroperasi.

"Setelah PEI beroperasi, diharapkan nilainya bertambah menjadi Rp1,5 triliun sehingga menjadi Rp7,5 triliun," paparnya.(Hrb)