INDUSTRY.co.id - Jakarta- Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta (11/10/2017).

Advertisement

Dalam pertemuan tersebut, Menperin didampingi oleh Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII), Kemenperin, Harjanto.

"Pada kesempatan ini kami membahas kerja sama terkait akses untuk produk-produk industri kedua negara," ujar Airlangga.

Advertisement

Selain itu, dalam pertemuan tersebut, mereka (Australia) meminta Indonesia mempertimbangkan pertukaran bea masuk 0 persen untuk tiga komoditas ekspor masing-masing negara.

"Tiga komoditas ekspor mereka seperti susu (skim milk dan skim milk powder), copper cathode, serta baja (hot rolled coil & cold rolled coil) agar bebas bea masuk ke Indonesia. Adapun sebagai pertimbangan tersebut, Australia memberi tawaran bea masuk sebanyak 0 persen untuk tiga komoditas unggulan Tanah Air," tambahnya.

Advertisement

Lebih lanjut Menperin menambahkan, mereka menawarkan untuk ditukar dengan tekstil,  footwear (alas kaki), dan clothing (pakaian) bea masuknya menjadi 0 persen. "Sebagai gantinya mereka ingin ketiga komoditasnya bebas bea masuk juga," kata Airlangga.

Menurutnya, pembebasan bea masuk ke Australia untuk ketiga komoditas seperti tekstil, alas kaki, dan pakaian dapat menjadi potensi yang besar bagi industri Indonesia untuk terus bertumbuh. Langkah ini membuka pasar tekstil dan produk tekstil (TPT) semakin luas dan kuat.

Advertisement

"China saat ini saja kan sudah 0%, sedangkan kita ekspor ke Amerika dan Eropa kena bea masuk. Dengan ini maka daya saing Indonesia akan terus meningkat," ucapnya.

Kendati demikian, Airlangga menambahkan barter ketiga komoditas dari masing-masing negara perlu dipertimbangkan kembali. "Barter tersebut harus diperhitungkan kembali keuntungan serta kerugiannya,"tegas Airlangga.

Seperti diketahui, Indonesia saat ini adalah mitra dagang ke-13 terbesar Australia. Total perdagangan Indonesia dengan Australia pada 2016 senilai US$ 8,45 miliar. Ekspor Indonesia tercatat senilai US$ 3,19 miliar dan nilai impor US$ 5,26 miliar.