INDUSTRY.co.idJakarta - Industri petrokimia dan plastik nasional menghadapi tekanan berat sepanjang tahun ini. Pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, lonjakan harga bahan baku global, kenaikan harga gas industri, serta membanjirnya produk impor murah dari China menjadi kombinasi tantangan yang mengancam daya saing pelaku usaha dalam negeri.

Advertisement

Kondisi tersebut terjadi ketika industri masih berupaya menjaga tingkat produksi dan mempertahankan pasar domestik dari gempuran barang impor yang terus meningkat.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono mengatakan, gas merupakan komponen penting dalam industri petrokimia, terutama pada proses cracker dan polimerisasi. Menurutnya, selama skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) masih berjalan di kisaran US$6-7 per MMBTU, industri relatif mampu menjaga daya saing.

Advertisement

"Dengan HGBT dulu itu kita sebenarnya sangat terbantu karena kita bisa bersaing dengan para impor di mana utilisasi kita sedikit terbantu dengan harga gas yang murah 6-7 dolar. Tapi sekarang penawarannya sudah di atas rata-rata di atas 15 sampai bahkan 20 US dolar," ujar Fajar kepada wartawan, Jumat (5/6/2026).

Menurut Fajar, kenaikan biaya energi membuat posisi industri petrokimia Indonesia semakin tertekan dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN.

Advertisement

Ia mengungkapkan, harga gas industri di sejumlah negara ASEAN masih berada di bawah US$9 per MMBTU. Sementara produsen di China menikmati dukungan energi yang lebih murah dan ketersediaan bahan baku yang lebih besar.

Situasi tersebut membuat produk impor memiliki keunggulan harga yang sulit ditandingi oleh produsen dalam negeri.

Advertisement

Tekanan lain datang dari derasnya arus impor produk plastik dan petrokimia asal China. Barang-barang tersebut masuk ke pasar domestik dengan harga yang sangat kompetitif sehingga menggerus pangsa pasar industri lokal.

"China yang sekarang ini sangat masif masuk barangnya ke mana-mana. Ke Indonesia pun juga sekarang sudah kita perkirakan barang dari China itu bisa sampai 300 ribu ton per tahun," kata Fajar.

Masuknya produk impor dalam jumlah besar dinilai semakin mempersempit ruang gerak industri nasional yang tengah berjuang menghadapi kenaikan biaya produksi.

Pabrik Terpaksa Pangkas Margin dan Utilisasi

Untuk mempertahankan pelanggan dan menjaga keberlangsungan usaha, sejumlah produsen terpaksa mengorbankan margin keuntungan. Bahkan beberapa pabrik mulai menurunkan tingkat utilisasi produksi agar tetap bisa bersaing di pasar.

"Bahkan kita sekarang sudah mencoba dengan 75% utilisasi, kita mencoba sedikit di bawah harga China. Jadi kita menggerus margin lumayan cukup besar," ujar Fajar.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memperburuk kondisi industri. Sebab, sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor sehingga biaya produksi meningkat.

Namun, kenaikan biaya tersebut tidak sepenuhnya dapat diteruskan ke harga jual karena pasar domestik saat ini dibanjiri produk impor murah.

Pelaku industri berharap pemerintah dapat menjaga keberlanjutan kebijakan harga gas yang kompetitif serta memperkuat langkah pengamanan pasar domestik dari praktik perdagangan yang tidak sehat.

Tanpa intervensi yang tepat, tekanan dari kenaikan biaya energi dan derasnya impor murah dikhawatirkan dapat menurunkan daya saing industri petrokimia nasional, bahkan berpotensi mengganggu investasi dan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur.