INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menerima kunjungan dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta (4/10/2017).
"Kunjungan ini membahas Badan Kejuruan Mesin (BKM) PII akan melakukan konvensi yang merupakan agenda tiga tahunan BKM PII," ujar Airlangga.
Selain itu, lanjut Menperin, BKM PII siap turun langsung dalam melatih IKM lokal dalam mendukung industri besar.
Sementara itu, Ketua Umum BKM PII, Tresna P. Soemardi, seusai menemui Menperin mengatakan, kebutuhan mesin yang banyak dipasok dari luar negeri menghambat kemajuan industri lokal. Kemampuan untuk melepaskan diri dari ketergantungan bahan baku impor mutlak diperlukan agar bisa mendorong pertumbuhan industri Tanah Air.
Padahal sumber daya manusia (SDM) di Indonesia sudah memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk menciptakan permesinan yang dibutuhkan oleh industri.
"Membuat pesawat dan turbin saja kita sudah bisa, hanya saja sebagian bahan baku memang masih diambil dari luar," kata Tresna.
Ia menambahkan, saat ini ketersediaan jumlah tenaga kerja terampil di Indonesia masih terbilang masih minim. "Indonesia membutuhkan ribuan insinyur yang kompeten untuk mendukung berbagai proyek industri nasional," terangnya.
Tresna berharap dari para insinyur ini dapat menciptakan peluang baru, yang dapat dimulai dari berbisnis di industri kecil dan menengah (IKM) dan memproduksi produk untuk menggantikan produk impor. "Jika tidak bisa memproduksi raw material, setidaknya insinyur dapat menciptakan berbagai part [komponen] yang dibutuhkan industri semisal plastik, kabel yang dibutuhkan untuk sektor otomotif," imbuhnya.
Menjawab isu yang berkembang mengenai mesin dan industri nasional tersebut, PPI mengadakan konvensi berskala nasional pada 24 Oktober 2017. Acara ini akan mengambil tema menyukseskan pembangunan infrastruktur energi dan logistik bertempat di Gedung Kementerian Perindustrian.
"Nanti akan membahas mengenai tantangan yang dihadapi oleh industri permesinan nasional, mengapa manufaktur China bisa mendominasi Indonesia, dan seberapa penting peran research and development bagi industri nasional," ujarnya.
Menurutnya salah yang penting dalam konvensi tersebut adalah mengenai pembinaan SDM. "Sertifikasi tenaga kerja dan menciptakan insinyur yang kompeten menjadi investasi masa depan industri nasional," ungkapnya.
Menurut catatan Bisnis, Indonesia hanya memiliki 3.038 insinyur dari 1 juta penduduk, terpaut jauh dibandingkan dengan Singapura yang memiliki perbandingan 28.235 insinyur untuk 1 juta penduduk. Selain itu, Thailand dari setiap 1 juta penduduk ada 4.121 insinyur, Philipina 5.170 insinyur, dan Vietnam 8.917.