Rohingya, Myanmar dan ASEAN

Oleh : Christianto Wibisono | Sabtu, 16 September 2017 - 19:52 WIB

Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) dan Analis Bisnis Terkemuka di Indonesia (Foto Ist)
Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) dan Analis Bisnis Terkemuka di Indonesia (Foto Ist)

INDUSTRY.co.id - Bung Karno  ikut memantau flypass formasi angka 50 diudara Singapura Kamis 7 September 2017 dari Marina Bay Cruise Singapore. Beliau mengenakan seragam Panglima Tertinggi dengan peci khasnya, dan  kita berdua berada di platform puncak Marina Bay Sands. Saya mengawali perjumpaan menyapa beliau 

Christianto Wibisono (CW):Selamat siang Pak, pasang surut hubungan RI Singapura mencapai usia 50 tahun begitu juga ASEAN berumur setengah abad tahun ini. Apa pesan bapak kepada elite kedua Negara tetangga ini di tengah kemelut pro dan kontra intervensi politik kasus Rohingya?

Bung Karno (BK): Selamat 50 tahun hubungan RI Singapura dan lahirnya ASEAN. Hari Senin 11 September adalah 16 tahun pasca tragedy terror WTC. Sebetulnya gladi resik terror WTC  dengan bom truck sudag terjadi  pada 26 Februari 1993. membenarkan apa yang ditulis Prof Samuel Huntington di majalah Foreign Affaris Summer 1993. Bahwa dunia pasca perang dingin tidak otomatis didominasi Amerika Serikat tapi akan dibayangi konflik segitiga ala Sam Kok, antara peradaban Barat, Islam dan Confucius. 

Grand theory Huntington The Clash of civilizations ini merupakan tangkisan dini telak terhadap tesis Francis Fukuyama yang menulis The End of History di National Interest 1989.   Tembok Berlin 9 November 1989 adalah akhir dari Sejarah dengan huruf besar. Pertarungan ideology Barat (Liberal) vs Timur (komunis otoriter) berhenti dan demokrsi liberal Barat akan menjadi satu satunya system yang valid untuk seluruh dunia. Teori itu hanya bertahan 4 tahun dan dirobohkan oleh terror terhadap WTC yang mencapai klimaks pada 11 September 2001. 

Sekarang sudah 16 tahun tapi teori Huntington tetap valid karena dipraktekkan dengan sangat setia oleh ISIS dan segala macam tirani atau despot yang memakai bendera agama dibayangi imperium “etnonasionalis partisan di Timur Tengah yang sudah berawal sejak Taurat , Injil sampai Alquran. Yang terjadi di Timur Tengah sekarang adalah Balkanisasi Islam dan sektarianisme atas dasar imperium masa lampau. 

Dalam konteks keadilan Tuhan, sebetulnya Tuhan itu tidak pilih kasih. Semua bangsa pernah diberi “kemampuan” untuk tumbuh menjadi kekuatan “dominan nasional”  regional bahkan imperial seperti Romawi dan Tiongkok. Berdasarkan kinerja pernah ada regional power  Accadia, Assyria, Babylonia, Carthago, Mesit, Persia, Mogul India, Mongol Tiongkok Turki dan Junani. 

Bahkan  di Amerika sebelum Columbus juga sudah punya imperium Amerindia Aztec, Inca dan Maya. Kita juga pernah punya Sriwijays dan Majapahit. Dan yang ajaib justru candi Budha terbesar dibangun di Borobudur oleh dinasti Syailendra 830 sebelum Muslim masuk Indonesia.

CW: Wah apa relevansinya sejarah Taurat Injil Alquran dengan RISING 50 dan situasi kontemporer kemelut Myanmar Pak?

BK: Sangat relevan sebab teori benturan peradaban Huntington itu adalah SARA global yang diviralkan oleh ISIS dan segala macam derivativenya seperti ARSA di Rakhine Myanmar dan exploiter didalam negeri yang meneriakkan: Jadikan Rohinga Al Maidah pilkada 2018 dan pilpres 2019. ASEAN ini adalah Balkan “in waiting” kalau elitenya  tidak  bijaksana dan kehilangan visi misi kenegarawanan dan kemanusiaan, terbajak oleh fanatisme partisan teokrasi Abad Pertengahan berbuntut Perang Salib. Arakan itu kan mengacu pada kesultanan sebelum 1000 Masehi ketika imperium Tiongkok dinasti Yuan Mongol akan menjadi imperium terluas wilayahnya sekitar abad 12-13. 

Perang Agama sudah berlangsung dizaman  kuno terus sampai Perang Salib satu millennium yang lalu Kalau sekarang didaur ulang oleh pengikut Huntington yang paling setia yaitu ISIS, Taliban dan Al Qaeda dan kaum oportunis radikal di pelbagai Negara. Termasuk Indonesia yang gemar mengeskploitir ayat untuk politicking maka ASEAN ini akan bubar seperti Yugoslavia atau Uni Soviet Termasuk Indonesia yang sudah susah payah saya bina dengan rela berkorban tidak menyulut perang saudara 1965. Seandainya saya waktu itu “tega” dan “egois” saya memimpin perlawanan bersama Omar Dani dan Subandrio dari Jawa Tengah maka Indonesia akan jadi Vietnam kedua.

CW: Ya sejarah sudah menjadi bubut  ketika demo 24 Februari 1966 memprotes pelantikan cabinet Dwikora II yang memecat Nasutiondari jabatan Menko Hankam Kasab.  Kenapa bapak nekad, dituntut membubarkan PKI dan mereshuffle cabinet, kok malah memecat Jendral Nasution?

BK: Disitu kekuasaan Tuhan bekerja seperti dihebohkan lagi dalam buku yang baru diterjemahkan tentang direktur CIA Allen Dulles dalam penbunuhan Presiden Kennedy dan kudeta terhadap saya oleh Soeharto. Bung Karno mengeluarkan buku karangan Greg Poulgrain.  Memang saya terpojok dan malah memicu kemarahan, tapi sebetulnya kesalahan terbesar saya waktu itu adalah ketika Gubernur Bank Sentral Jusuf Muda Dalam dan Menkeu Sumarno memberi resep sanering 13 Desember 1965 dari Istana Cipanas Dengan pergantian Rp 1.000 uang lama menjadi Rp. 1 uang baru memicu inflasi ratusan% dan rakyat sangat menderita sehingga kelas menengah mendemo saya 1966.  

Tapi kemudian 32 tahun setelah itu Soeharto juga akan jatuh karena rupiah terpuruk sehingga orang yang punya utang valas mendadak utangnya 5-7 kali lebih besar hanya karena anjloknya kurs rupiah dari 2.500an pernah sampai 17.000 bulan januari 1998.  Jangan sampai angka 17.000 itu jadi patokan benchmark, oleh presiden pasca Soeharto bahwa dirinya lebih baik dari Soeharto. Sebab di era Soeharto rupiah pernah terpuruk abnormal. Anomaly sampai Rp. 17.000 jadi 13.000 atau 14.000 masih normal . Kita sepatutnya malu bahwa di tahun 1950an dollar Malaya /Singapore itu sama kursnye dengan 1 rupiah. Sekarang kita harus membeli dollar Singapura dengan hampir 10.000 dan ringgit Malaysia sekitar 3.000

CW: Pada tahun 1963 bapak sebetulnya sudah mau membangun dengan Deklarasi Ekonomi tapi bapak malah membuat konfrontasi dan selain kehilangan hadiah Nobel seperti telah diulas pada wawancara kita minggu lalu malah akan mendorong ke kejatuhan bapak. Apa sebetulnya yang terjadi waktu itu?

BK: Ong Hok Ham pernah menulis bahwa saya dan Tengku ditakdirkan menjadi protagonist antagonis yang berkonfrontasi 1963-1966 itu.Tragisnya Tengku juga dikudeta oleh orang keduanya, waperdam Tun Abdul Razak yang mengorganisir kerusuhan rasial  13 Mei 1969 sebagai alat mendiskreditkan Tengku. 

Perhatikan sejarah Malaysia, pemilu pertama setelah konfrontasi selesai dan berdamai dengan Indonesia di 1969 , malah menjerumuskan Malaysia pada kerusuhan sara terburuk dalam sejarah Malaysia. Di Malaysia dikotomi etnis Tionghoa-Melayu identic dengan non Muslim-Muslim sangat berbeda dengan Pancasila yang non teokrasi. Pancasila menghormati agama tapi tidak mendirikan teokrasi agama apapun.

CW: Kembali ke Singapura, dalam pemilu presiden yang kali ini dijatahkan hanya untk capres Melayu apa komentar bapak tentang posisi Singapura dalam konteks masa depan ASEAN dan relasi bilateral dengan RI?

BK: Harus diakui memang hubungan RI Singapura ini unik. Sampai 1963 di kepulauan Riau yang berlaku sebagai alat pembayaran ialah dollar Singapura, bukan rupiah. Nah konfrontasi terhadap Malaysia menjadi alasan pemberlakuan rupiah untuk kepuauan Riau. 

Singapura sendiri mulai berperanan sebagai “hub logistic” ketika kita secara emosional menasionalisasi KPM dan seluruh perusahaan Belanda 1957. Singapura memang mempunyai “paradox minoritas dalam mayoritas dan mayoritas dalam minoritas. Sebagai nation state, Singapura merupakan Negara dimana Tionghoa menjadi mayoritas karena itu deserve to lead the nation. Tapi dalam konteks regional ASEAN, elite Tionghoa Singapora tidak nyaman menghadapi “kecemburuan” elite Melayu Malaysia Indonesia terhadap etnis minoritas Tionghoa. Tapi pada tingkat global,  jika kita terjebak dengan basis etnis , maka keTionghoaan akan bermuara jadi hegemoni Tiongkok sebagai negara dengan populasi terbesar yang akan disusul atau dilewati India dimasa depan.

Saya bisa memahami quota capres Melayu sebagai upaya PM Lee Hsien Loong untuk menjamin pluralism dan  mencegah “SARA Huntington” masuk ke Singapura dan mengimpor anarki sara Timur Tengah ke wilayah ASEAN. Jadi saya mengharapkan elite ASEAN jangan sampai terpecah belah oleh sara regional global, apakah  lewat konflik internal apalagi dengan kekerasan seperti Rohingya atau menyulut pola sara Israel ditengah lautan Arab dan Tionghoa Singapura ditengah lautan Melayu Malaysia Indonesia. Seharusnya Singapura dan ASEAN bisa merupakan simbiose antara Swiss dan Uni Eropa.  

Saya percaya Jokowi & Lee Hsien Loong punya chemistry yang bisa menghasilkan senyawa sinergi Indonesia Singapura dan ASEAN yang harmonis dan produktif serta kompetitive untuk mengangkat ASEAN jadi kekuatan ekonomi ketiga dunia setelah Tiongkok dan Amerika Serikat dalam satu dasawarsa kedepan. Jadi saya optimis sinergi ini akan menjadikan suatu ‘United States of ASEAN” dengan Jakarta jadi Washington DC nya ASEAN dan Singapure jadi New York  nya ASEAN mengukuhkan posisi de facto Singapura sebagai  pusat keuangan ketiga di dunia setelah London dan New York. ASEAN akan jadi tuanrumah dikawasan Asia Tenggara daratan dan maritime.  

Amit amit jangan sampai kita malah terjebak sara dan lenyap jadi Balkan, jadi Yugo jadi Uni Soviet.  Saya doakan juga dari sini tapi kalian yang harus berupaya agar tidak jadi Balkan bukan Cuma doa saya.Selamat ulang tahun ke 50 ASEAN dan semoga survive melampaui kemelut SARA Rohingya  yang diverpolitisir oleh Kaum penganjur Perang Peradaban Huntington.

CW: Terima kasih atas undangan  bapak melancong ke Marina Bay Sands mengikuti  RISING 50. Semoga doa bapak didengar oleh pendoa di Indonesia dan kita semua  bertindak menjaga mengawal Indonesia survive ditengah Balkan Asean yang damai bagaikan Uni Eropa sebelum dilanda konflik imigran.

Christianto Wibisono, Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) dan Analis Bisnis Terkemuka di Indonesia.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pemilik Bank Bali, Rudy Ramli

Kamis, 20 Juni 2019 - 20:02 WIB

Pemilik Bank Bali: Stop Penjualan Saham Bank Permata Tbk

Usaha pemindahan kepemilikan saham Bank Permata milik Standard Chartered Bank (SCB), sangat diharapkan dilakuan secara transparan.

Lauren Sulistiawati, Presiden Direktur Bank Commonwealth (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 20 Juni 2019 - 20:00 WIB

Mercy Corps Indonesia, Bank Commonwealth dan Mastercard Bantu Perempuan Pengusaha

PT Bank Commonwealth (Bank Commonwealth) dan Mastercard hari ini kembali memperkuat komitmennya dalam membantu perempuan pengusaha UMKM di Indonesia untuk menumbuhkan bisnisnya dengan meluncurkan…

Singapore Airlines (ist)

Kamis, 20 Juni 2019 - 19:38 WIB

Bulan Mei 2019, Jumlah Penumpang SIA Group Meningkat Sebesar 8,0 Persen

Tingkat keterisian penumpang (PLF) mengalami peningkatan sebesar 0,9% poin persentase menjadi 80,5%.

APP Sinar Mas

Kamis, 20 Juni 2019 - 19:17 WIB

Terapkan Manajamen Terintegrasi, APP Sinar Mas Turunkan Angka Kebakaran di Konsesi Hingga Hampir Nol

Saat ini, hanya 0,07% dari seluruh area konsesi pemasoknya yang masih terdampak api akibat pembakaran ilegal oleh pihak ketiga.  

Grand Opening Pusat Logistik Berikat (PLB)

Kamis, 20 Juni 2019 - 19:10 WIB

DHL Gandeng PT. Samudera Raya Berjaya Kembangkan PLB di Medan

DHL Global Forwarding, penyedia jasa angkutan udara, laut dan darat internasional terkemuka bersama penyedia logistik lokal PT. Samudera Raya Berjaya telah membuka Pusat Logistik Berikat (PLB)…