INDUSTRY.co.id -Jakarta-Pada perdagangan Kamis (14/9/2017), diperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak mixed mencoba menguat pada perdagangan selanjutnya dengan range pegerakan 5833-5868.

Pola pergerakan yang mixed tersebut, analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengungkapkan saham-saham yang dapat diperhatikan diantaranya PGAS, RALS, AISA, SMRA, TINS.

“Secara teknikal IHSG bergerak break out MA20 dan MA5 namun tertahan pada level bullish trend dan MA50. Indikator Stochastic terkonsolidasi pada zona overbought dengan indikasi dead-cross cukup kuat meskipun momentum pergerakan IHSG masih pada level middle oscilator,”kata dia di Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Pada perdagangan Rabu (13/9/2017), IHSG (-0.40%) dibuka cukup optimis namun terjadi tekanan jual sesi kedua hingga ditutup turun 23.40 poin dilevel 5848.97 dengan volume perdagangan yang cukup tinggi. Posisi investor asing tercatat net sell 498.75 Miliar rupiah. Indeks sektor pertambangan (-4.40%) terhempas signifikan pada penurunan terendah selama satu hari dalam setahun ini.

Rencana pembuatan aturan khusus pada harga batu bara dalam negeri (DMO) oleh pemerintah karena usulan PLN mengenai pembangkit listrik membutuhkan bahan bakar yang harganya efesien. Berpotensi menurunkan harga batu bara dalam negeri. Saham PTBA (-17.25%), BUMI (-9.17%) dan ADRO (-8.04%) memimpin pelemahan sektor pertambangan.

Indeks saham Nikkei (+0.45%) dan Topix (+0.61%) menguat sedangkan Hangseng (-0.28%) dan Kospi (-0.22%) melemah sehingga pergerakan mayoritas cenderung bervariasi. Emiten pertambangan memimpin pelemahan karena sebagian besar harga logam industri turun meskipun harga minyak mentah bertahan diatas $48 perbarrel. Masalah geopolitik kembali terdengar dimana Korea Utara menyatakan rencana mengakuisisi senjata nuklir yang dapat menyebrang hingga benua Amerika dalam tanggapan pada sanksi yang akan di berikan PBB.

Bursa saham Eropa dibuka cenderung mixed cenderung tertekan. Indeks Eurostoxx (+0.09%), FTSE (-0.56%) dan DAX (+0.01%) setelah beberapa investor beranggapan kenaikan harga saham akhir-akhir ini telah cukup tinggi dan terlalu cepat. Sentimen selanjutnya penjualan ritel tiongkok, Klaim pengangguran dan Tingkat inflasi di AS.