INDUSTRY.co.id - Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuat ancaman kejahatan siber semakin sulit dikenali. Pesan penipuan kini dapat disusun dengan bahasa yang meyakinkan, meniru gaya komunikasi pihak terpercaya, hingga menyamar sebagai dokumen atau pemberitahuan resmi.

Kondisi ini membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas di ruang digital. Pasalnya, pesan yang terlihat wajar dan familiar belum tentu aman.

Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Microsoft Digital Defense Report (MDDR) 2026. Berdasarkan data Microsoft Threat Intelligence, sebanyak 73,3% upaya serangan siber secara global melibatkan interaksi pengguna, penyalahgunaan akun valid, rekayasa sosial (social engineering), dan phishing.

Microsoft juga mendeteksi lebih dari 46 juta serangan penyamaran identitas melalui email bisnis. Data tersebut menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber semakin mengandalkan manipulasi kepercayaan pengguna untuk memperoleh akses ke informasi dan sistem digital.

Managing Director Microsoft Indonesia Gunawan Susanto mengatakan, keamanan siber kini menjadi fondasi penting dalam pemanfaatan teknologi AI.

"Di era AI, keamanan siber bukan lagi sekadar persoalan perlindungan, tetapi fondasi yang memungkinkan organisasi dan masyarakat memanfaatkan teknologi yang kita gunakan. Semakin canggih teknologi, semakin penting pula kemampuan kita menjaga dan mengendalikan data serta identitas digital," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).

Ancaman Siber Menyasar Aktivitas Sehari-hari

Ancaman siber kini tidak hanya menyasar aktivitas yang dianggap berisiko tinggi. Kegiatan sehari-hari, seperti mencari rekomendasi hotel, memesan penginapan, mengunduh dokumen perjalanan, hingga berbagi foto, juga berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan digital.

Microsoft Threat Intelligence pada Juni 2026 mengidentifikasi kampanye serangan siber bernama Photo.zip yang menyasar organisasi di industri perhotelan di Asia dan Eropa.

Dalam kampanye tersebut, pelaku menggunakan email phishing yang menyerupai komunikasi terkait reservasi, pertanyaan mengenai kondisi kamar, maupun keluhan tamu. Pesan dirancang agar terlihat meyakinkan, bahkan memanfaatkan layanan digital yang sah untuk menyebarkan tautan berbahaya.

Ketika penerima mengeklik tautan, mereka diarahkan mengunduh folder ZIP yang berisi file dengan tampilan menyerupai foto. Padahal, file tersebut dapat menjalankan program berbahaya ketika dibuka dan memungkinkan pelaku mempertahankan akses ke perangkat korban.

Meski menyasar staf perhotelan, modus ini menjadi peringatan bagi pengguna internet secara luas. Ancaman siber tidak selalu datang dari pesan yang terlihat mencurigakan, tetapi juga dapat bersembunyi di balik aktivitas digital yang selama ini dianggap lumrah.

Risiko juga berkembang seiring penggunaan AI yang semakin mandiri. Microsoft Security menyoroti potensi ancaman dari AI agents, yakni sistem AI yang dapat mengakses informasi, menggunakan aplikasi, dan mengambil tindakan untuk menyelesaikan tugas tertentu.

Ketika diberikan hak akses yang terlalu luas, AI agents berpotensi melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan tujuan pengguna, bahkan tanpa serangan dari pihak eksternal.

Microsoft pun menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan, pengelolaan hak akses, dan kendali manusia dalam penggunaan AI. Melalui pendekatan keamanan seperti Project Perception, AI dapat membantu memantau aktivitas, mengidentifikasi risiko, serta merespons ancaman lebih cepat, sementara manusia tetap bertanggung jawab mengevaluasi risiko dan menentukan tindakan.

Lima Kebiasaan Digital yang Perlu Diubah

Menghadapi ancaman yang semakin kompleks, Microsoft mengingatkan masyarakat untuk memperkuat keamanan digital melalui perubahan kebiasaan sederhana. Berdasarkan tren ancaman dalam MDDR 2026 dan temuan Microsoft Threat Intelligence, terdapat lima langkah yang dapat diterapkan.

Pertama, pengguna perlu berhenti menilai keamanan pesan hanya dari tampilannya. Pesan dengan bahasa sopan, mencantumkan nama perusahaan terkenal, atau menyerupai komunikasi orang yang dikenal belum tentu asli. AI memungkinkan pelaku membuat komunikasi palsu yang semakin meyakinkan.

Pengguna perlu memeriksa konteks pesan, terutama jika terdapat permintaan informasi pribadi, tautan, atau instruksi yang mendesak. Jika menemukan permintaan tidak biasa, lakukan konfirmasi melalui saluran komunikasi lain yang telah dipastikan keasliannya.

Kedua, verifikasi tautan dan lampiran sebelum membukanya. Kasus Photo.zip menunjukkan file yang terlihat seperti foto atau dokumen biasa dapat menyimpan program berbahaya. Pengguna disarankan memastikan asal file dan menghindari unduhan dari sumber yang tidak jelas.

Untuk urusan reservasi, transaksi, maupun layanan digital, mengakses situs atau aplikasi resmi secara langsung lebih aman dibandingkan mengikuti tautan yang belum terverifikasi.

Ketiga, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap QR code dan dokumen digital. Phishing kini tidak hanya melalui email atau pesan singkat, tetapi juga dapat memanfaatkan QR code, PDF, dan halaman verifikasi palsu yang menyerupai layanan resmi.

MDDR 2026 mencatat lebih dari 145 juta serangan phishing berbasis QR code terdeteksi secara global oleh Microsoft Defender for Office 365 selama periode Juli 2025 hingga Juni 2026.

Sebelum memindai QR code atau mengikuti instruksi dalam dokumen, pengguna perlu memeriksa sumber dan alamat situs yang dituju. Informasi sensitif, termasuk kata sandi dan kode verifikasi, tidak boleh dimasukkan ke halaman yang belum terjamin keasliannya.

Keempat, identitas digital perlu diperlakukan sebagai aset penting. Akun email, media sosial, dan layanan perbankan digital merupakan bagian dari identitas yang harus dilindungi.

Ketika pelaku berhasil mendapatkan kredensial atau mengambil alih akun, akses tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjangkau informasi maupun layanan lain. Karena itu, pengguna disarankan memakai kata sandi kuat dan berbeda untuk setiap akun serta membatasi informasi pribadi yang dibagikan secara daring.

Kelima, perlindungan akun tidak cukup hanya mengandalkan kata sandi. Pengguna perlu mengaktifkan autentikasi multifaktor (multifactor authentication/MFA), yang menambahkan tahapan verifikasi ketika seseorang mencoba masuk ke akun.

Selain MFA, penggunaan passkey juga dapat menjadi alternatif untuk memperkuat keamanan. Teknologi ini memungkinkan verifikasi identitas melalui fitur keamanan perangkat, seperti sidik jari, pengenalan wajah, atau PIN, tanpa harus memasukkan kata sandi konvensional.

MDDR 2026 turut menekankan penggunaan passkey dan metode MFA yang tahan terhadap phishing untuk menekan risiko penyalahgunaan kredensial.

Keamanan Siber Jadi Tanggung Jawab Pengguna

Perkembangan AI membawa kemudahan dalam berbagai aktivitas, mulai dari mencari informasi, bekerja, hingga merencanakan kebutuhan sehari-hari. Namun, kemajuan teknologi juga menuntut perubahan cara masyarakat menjaga keamanan digital.

Keamanan siber tidak lagi sebatas memasang antivirus atau memperbarui perangkat lunak. Perlindungan identitas, pengelolaan akses, serta kecermatan dalam berinteraksi di ruang digital menjadi aspek yang semakin penting.

Microsoft menilai pengguna tidak harus mencurigai setiap pesan atau menghindari teknologi baru. Sebaliknya, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk memeriksa informasi, memahami risiko dari data yang dibagikan, serta memastikan kendali atas identitas digital tetap berada di tangan mereka.

Di tengah ekosistem digital yang semakin terhubung, keamanan tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi perlindungan, tetapi juga pada keputusan sederhana yang dilakukan pengguna setiap hari.