INDUSTRY.co.id - Jakarta — Kinerja industri manufaktur Indonesia menghadapi tekanan bertubi-tubi dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari pandemi Covid-19, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan biaya energi dan bahan baku, hingga konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok global.
Di tengah tekanan tersebut, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia memang sempat mengalami kontraksi. Namun, jika dilihat dalam tren yang lebih panjang, sektor manufaktur dinilai masih mampu bertahan dan menunjukkan daya tahan yang cukup kuat.
Fluktuasi PMI Manufaktur bahkan sempat menjadi sorotan terhadap kinerja Kementerian Perindustrian di bawah kepemimpinan Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK).
Pada 2026, PMI Manufaktur Indonesia tercatat berada di bawah level 50 pada April dengan skor 49,1 dan kembali terkontraksi pada Juni di level 46,9. Pada Agustus, PMI juga masih berada di zona kontraksi, yakni 49,8.
Level di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami kontraksi. Sebaliknya, angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Namun, situasi berbalik pada September 2026. PMI Manufaktur Indonesia kembali melonjak ke level 52,4 atau masuk zona ekspansi.
Menariknya, momentum tersebut terjadi hampir bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan Agus Gumiwang Kartasasmita sebagai Menteri Perindustrian.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, kinerja industri manufaktur tidak tepat jika hanya dinilai berdasarkan pergerakan PMI dalam satu bulan.
Menurut dia, PMI merupakan indikator yang sangat dinamis dan dapat dipengaruhi berbagai faktor temporer.
“Pertama yang perlu dipahami adalah bahwa kita tidak bisa menilai kinerja industri manufaktur hanya dengan melihat PMI Manufaktur dalam satu bulan saja. Jadi, melihat tren secara keseluruhan,” ujar Faisal di Jakarta.
Faisal menjelaskan, PMI dapat bergerak dari zona kontraksi ke ekspansi dalam waktu relatif singkat. Perubahan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Karena itu, menurut dia, penilaian terhadap kinerja sektor manufaktur seharusnya dilakukan dengan melihat tren dalam periode yang lebih panjang, sekaligus memperhatikan indikator ekonomi lainnya.
Terlebih, industri manufaktur Indonesia masih menghadapi tekanan yang tidak ringan setelah melewati pandemi Covid-19.
“Setelah lepas dari jerat pandemi Covid-19, industri manufaktur sesungguhnya terus-menerus berada dalam tekanan,” kata Faisal.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ikut meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.
Tekanan tersebut kemudian bertambah akibat terganggunya rantai pasok global menyusul konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Kenaikan harga energi karena harga minyak dunia yang mengalami peningkatan. Belum juga pelemahan nilai tukar rupiah yang memengaruhi biaya produksi bagi industri yang bergantung pada suplai bahan baku maupun barang modal dari luar negeri,” jelas Faisal.
Sementara dari dalam negeri, tantangan datang dari pelemahan konsumsi rumah tangga. Daya beli kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi salah satu penopang konsumsi juga mengalami tekanan.
Kondisi tersebut secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi permintaan terhadap produk manufaktur.
Meski demikian, Faisal melihat kembalinya PMI Manufaktur ke zona ekspansi pada September sebagai sinyal positif.
“Terutama juga nanti kaitannya bagaimana dampak dari ekspansi ini terhadap penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.
Manufaktur Tetap Jadi Mesin Penyerapan Tenaga Kerja
Daya tahan sektor manufaktur juga tercermin dari kemampuannya mempertahankan penyerapan tenaga kerja.
Saat ini, sektor industri manufaktur menyerap sekitar 20,5 juta tenaga kerja. Angka tersebut menunjukkan manufaktur tetap menjadi salah satu sektor penting dalam menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia.
Faisal menilai berbagai kebijakan pemerintah di bidang perindustrian turut berperan dalam menjaga keberlangsungan aktivitas industri, termasuk ketika pandemi Covid-19 menghantam perekonomian nasional.
Meski demikian, dampak pandemi terhadap sektor industri belum sepenuhnya hilang.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti.
Menurut Esther, Indonesia relatif berhasil menjaga keberlangsungan industri manufaktur meskipun sektor tersebut belum sepenuhnya pulih dari berbagai tekanan.
Salah satu indikatornya terlihat dari PMI Manufaktur yang secara umum masih mampu bertahan di zona ekspansi dalam periode pascapandemi.
“Tanpa pandemi saja, dengan berbagai faktor saat ini, industri manufaktur sulit bertahan pada zona ekspansi,” kata Esther.
Esther mengatakan, sepanjang 2026 industri manufaktur Indonesia menghadapi tantangan yang cukup berat.
Perlambatan ekonomi negara-negara mitra dagang Indonesia hingga meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor yang ikut menekan aktivitas manufaktur.
Belum lagi kenaikan biaya input yang harus ditanggung pelaku industri.
Namun, menurut Esther, industri manufaktur nasional masih mampu menunjukkan daya tahan.
“September kembali pada zona ekspansi, meski ada ketegangan geopolitik dan naiknya biaya input,” ujarnya.
Dengan demikian, pergerakan PMI Manufaktur Indonesia sepanjang 2026 seharusnya dibaca secara utuh, bukan hanya berdasarkan titik kontraksi pada beberapa bulan tertentu.
PMI sendiri mengukur sejumlah aspek penting dalam aktivitas industri, mulai dari pesanan baru, volume produksi, pengiriman, persediaan hingga penyerapan tenaga kerja. Selain kondisi aktual, indeks ini juga mencerminkan ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi industri ke depan.
Jika dibandingkan dengan kondisi saat pandemi Covid-19, tekanan yang dihadapi industri manufaktur saat ini sebenarnya masih relatif lebih terkendali.
Pada awal pandemi Covid-19 ketika pembatasan aktivitas ekonomi diberlakukan di berbagai negara ASEAN, PMI Manufaktur Indonesia pernah terjun sangat dalam hingga level 27,5.
Setelah itu, industri manufaktur Indonesia menjadi salah satu sektor yang relatif cepat bangkit.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara di kawasan seperti Vietnam dan Thailand yang sempat lebih lama berada di bawah level 50.
Daya tahan industri manufaktur Indonesia juga tercermin dari sejumlah indikator makroekonomi.
Salah satunya adalah nilai tambah industri manufaktur Indonesia yang masih menjadi salah satu yang terbesar di ASEAN, mencapai sekitar 265 miliar dollar AS.
Nilai tambah tersebut menggambarkan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian, termasuk penciptaan margin usaha, distribusi pendapatan, serta kompensasi bagi tenaga kerja.
Fondasi Industri di Tengah Banyak Krisis
Sejumlah ekonom menilai berbagai kebijakan industri yang dijalankan selama periode Agus Gumiwang Kartasasmita menjadi bagian dari fondasi bagi keberlanjutan sektor manufaktur nasional.
Fondasi tersebut diuji ketika industri menghadapi pandemi Covid-19, disusul ketidakpastian ekonomi global, tekanan nilai tukar, kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga ketegangan geopolitik.
Karena itu, meski PMI Manufaktur sempat masuk zona kontraksi pada beberapa bulan, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan industri nasional mengalami kemunduran secara struktural.
Justru, kembalinya PMI ke level 52,4 pada September menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur masih memiliki kemampuan untuk kembali berekspansi ketika tekanan temporer mulai mereda.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana momentum ekspansi tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan produksi, investasi, dan terutama penyerapan tenaga kerja.
Sebab, bagi perekonomian Indonesia, kekuatan industri manufaktur bukan hanya tercermin dari angka PMI, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, meningkatkan ekspor, dan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.