INDUSTRY.co.id - Jakarta – Posisi Indonesia sebagai produsen dan eksportir pala terbesar dunia menghadapi tekanan seiring melemahnya permintaan global, terutama dari Tiongkok. Di tengah kondisi tersebut, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mendorong pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) memanfaatkan pasar Tiongkok untuk mengerek kembali ekspor rempah nasional.

Berdasarkan data BPS yang diolah Kementerian Perdagangan RI, Indonesia menyumbang sekitar 70%–80% kebutuhan pala dunia. Tiongkok dan Vietnam menjadi dua pasar utama ekspor pala Indonesia.

Namun, kinerja ekspor komoditas tersebut mulai tertekan sepanjang awal 2026. Kajian Indonesia Eximbank Institute menunjukkan ekspor pala, bunga pala, dan kapulaga dengan kode HS 0908 pada Januari–Mei 2026 mengalami kontraksi 12,8% secara nilai dan 18,2% secara volume dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pelemahan tersebut terutama dipengaruhi penurunan permintaan dari Tiongkok. Perlambatan ekonomi di Negeri Tirai Bambu berdampak terhadap konsumsi rumah tangga dan pada akhirnya menekan kebutuhan impor komoditas rempah dari Indonesia.

Kondisi ini mendorong LPEI memperkuat strategi pembukaan akses pasar melalui pameran internasional. Bersama Kementerian UMKM RI, Indonesia Eximbank berpartisipasi dalam The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 yang berlangsung di Guangzhou, Tiongkok, pada 3–6 September 2026.

Dalam ajang tersebut, Indonesia Eximbank mendampingi sejumlah UKM dan debitur dari sektor rempah serta produk kelapa untuk bertemu dengan calon pembeli melalui skema business matching yang difasilitasi Kementerian UMKM RI.

Hasilnya mulai terlihat dari CV Alpha Agro Indonesia. Eksportir rempah tersebut berhasil membukukan transaksi pascapameran sebanyak 20 ton pala dengan nilai mencapai Rp181,3 juta.

Manager CV Alpha Agro Indonesia, Lusy, mengatakan keikutsertaan dalam pameran internasional tidak hanya diarahkan untuk mendapatkan pembeli baru, tetapi juga membaca perubahan kebutuhan pasar Tiongkok secara lebih langsung.

“Kami sangat bersyukur atas dukungan Pemerintah, salah satunya melalui LPEI, sehingga kami dapat berpartisipasi dalam pameran ini. Bagi kami, keikutsertaan ini tidak hanya menjadi sarana untuk membangun branding, tetapi juga untuk melakukan benchmarking dan memahami kebutuhan pasar, termasuk preferensi buyer, skema pembayaran, serta proses pengiriman,” ujar Lusy.

Menurut dia, keberhasilan mengikuti pameran internasional tidak cukup diukur dari transaksi yang terjadi selama penyelenggaraan. Tantangan berikutnya adalah mengonversi pertemuan dengan calon buyer menjadi kontrak ekspor yang berkelanjutan.

UKM eksportir, kata Lusy, harus konsisten melakukan tindak lanjut terhadap calon pembeli, sekaligus menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan. Hal ini menjadi penting karena proses dari penjajakan hingga kesepakatan ekspor membutuhkan waktu dan kesiapan produksi.

Dari sisi pemerintah, peluang pemulihan ekspor pala ke Tiongkok menjadi bagian dari upaya memperluas basis pasar UKM Indonesia di tengah tekanan permintaan global. Kepala Divisi Jasa Konsultasi Indonesia Eximbank, Maria Sidabutar, mengatakan CISMEF 2026 menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan pelaku UKM Indonesia dengan buyer potensial di pasar Tiongkok.

“CISMEF 2026 menjadi momentum penting bagi UKM Indonesia untuk memperluas akses pasar dan membangun kemitraan dengan buyer di Tiongkok. Kami mengapresiasi Kementerian UMKM Republik Indonesia yang terus mendorong UMKM berorientasi ekspor untuk memanfaatkan peluang pasar global,” ujar Maria.

Dia menambahkan, keterlibatan Indonesia Eximbank tidak berhenti pada pembukaan akses pasar. LPEI juga akan memperkuat kapasitas UKM melalui pembiayaan, penjaminan, asuransi, serta jasa konsultasi.

“Sejalan dengan mandatnya, Indonesia Eximbank hadir mendampingi UKM, baik dalam membuka akses pasar maupun meningkatkan kapasitas usaha. Kami berharap sinergi ini dapat membantu semakin banyak UKM Indonesia untuk naik kelas dan mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan di pasar global,” kata Maria.

Bagi industri pala nasional, strategi tersebut menjadi semakin penting karena ketergantungan terhadap pasar ekspor membuat kinerja komoditas sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi negara tujuan. Pelemahan permintaan Tiongkok pada awal 2026 menunjukkan bahwa dominasi Indonesia dalam pasokan global belum otomatis menjamin pertumbuhan ekspor.

Karena itu, penguatan akses buyer, pemahaman preferensi pasar, kepastian pasokan, hingga dukungan pembiayaan menjadi kunci agar posisi Indonesia sebagai pemasok utama pala dunia tidak hanya bertahan dari sisi volume, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekspor yang lebih kuat.