INDUSTRY.co.id - Pada suatu pagi, 17 Juni 1864, tanah di Kemijen, Semarang, menjadi saksi sebuah pekerjaan yang kelak mengubah wajah transportasi di Indonesia.
Di tempat itulah pencangkulan pertama pembangunan jalur kereta api dilakukan. Rel sepanjang kurang lebih 25 kilometer mulai dibangun untuk menghubungkan Semarang dengan Tanggung, Jawa Tengah.
Pekerjaan tersebut dilakukan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Tiga tahun kemudian, pada 10 Agustus 1867, jalur Semarang-Tanggung resmi beroperasi.
Dari jalur pendek itulah perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia bermula.
Kini, lebih dari satu setengah abad kemudian, suara roda besi masih membawa cerita yang sama: tentang perjalanan, konektivitas, ekonomi, dan perubahan zaman.
Melalui KAI Heritage Week 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengajak masyarakat kembali menelusuri jejak tersebut melalui perjalanan Semarang Tawang-Tanggung-Kedungjati.
Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan dengan kereta. Ia menjadi cara untuk melihat kembali bagaimana sebuah jalur sepanjang sekitar 25 kilometer berkembang menjadi jaringan perkeretaapian yang menghubungkan berbagai wilayah Indonesia.
Dari Kemijen, Sebuah Perjalanan Dimulai
Pada 17 Juni 1864, pembangunan jalur Semarang-Tanggung dimulai.
Saat itu, gagasan mengenai transportasi berbasis rel masih merupakan sesuatu yang baru. Namun pembangunan jalur tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah transportasi di Indonesia.
Jalur Semarang-Tanggung kemudian resmi digunakan pada 10 Agustus 1867.
Stasiun Tanggung menjadi salah satu saksi dari masa awal perjalanan tersebut. Kehadiran kereta api perlahan membuka ruang baru bagi mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta aktivitas ekonomi antarkawasan.
Jaringan rel pun tidak berhenti di Tanggung.
Pembangunan terus berlanjut dan Kedungjati kemudian berkembang menjadi salah satu titik penting dalam jaringan NIS di Jawa Tengah.
Dari kawasan tersebut, konektivitas diperluas menuju berbagai wilayah, termasuk Surakarta dan Ambarawa. Salah satu tonggak pentingnya adalah pembukaan lintas Kedungjati-Ambarawa pada 21 Mei 1873.
Rel-rel yang awalnya hanya membentang puluhan kilometer perlahan membentuk jaringan yang semakin luas.

Menghidupkan Kembali Cerita yang Hampir Terlupakan
Lebih dari 150 tahun setelah pencangkulan pertama di Kemijen, kawasan Tanggung dan Kedungjati kembali menjadi bagian dari cerita besar perkeretaapian Indonesia.
Dalam KAI Heritage Week 2026, sejarah tidak hanya disampaikan melalui angka dan tanggal. KAI menghadirkannya dalam berbagai kegiatan, mulai dari penyerahan CSR, fashion show, penandatanganan prasasti, hingga pertunjukan teatrikal sejarah perkeretaapian.
Kegiatan tersebut menjadi upaya untuk mempertemukan masyarakat dengan kawasan heritage sekaligus mengingatkan bahwa di balik perjalanan kereta hari ini terdapat lapisan sejarah yang panjang.
Dari Semarang-Tanggung pada 1867, jaringan kereta api terus berkembang.
Tahun 1873 menjadi penanda perkembangan berikutnya melalui lintas Kedungjati-Ambarawa.
Dan perjalanan itu belum berhenti.

Ketika Pengelolaan Kereta Api Berpindah ke Tangan Bangsa Sendiri
Ada satu tanggal lain yang tidak kalah penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia: 28 September 1945.
Rel kereta api telah hadir sejak abad ke-19. Namun setelah Indonesia merdeka, pengelolaan perkeretaapian mulai diambil alih oleh bangsa Indonesia.
Para pekerja kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih Balai Besar Kereta Api di Bandung dari pihak Jepang.
Bendera Merah Putih dikibarkan. Lagu "Indonesia Raya" dinyanyikan di halaman kantor pusat kereta api.
Dari momentum tersebut lahir Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).
Tanggal 28 September kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api Nasional.
Perjalanan kelembagaan itu pun berlanjut selama beberapa dekade.
Pada 1945, pengelolaannya bernama Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Pada 1963 berubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), kemudian Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada 1971.
Tahun 1991, bentuknya berubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), lalu menjadi PT Kereta Api (Persero) pada 1999.
Sejak 2010, nama yang digunakan adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Kantor pusatnya tetap berada di Bandung, di gedung yang menyimpan salah satu bab penting sejarah pengambilalihan pengelolaan perkeretaapian pada 1945.
Dari Puluhan Menjadi Ribuan Kilometer
Jika pada 1864 perjalanan pembangunan rel baru dimulai dari sekitar 25 kilometer, hari ini skalanya telah berubah jauh.
Sepanjang 2025, KAI Group melayani 442,1 juta penumpang, meningkat sekitar 36 juta perjalanan dibandingkan tahun sebelumnya.
Memasuki 2026, hingga Agustus jumlah penumpang telah mencapai 351,6 juta atau meningkat 7,09 persen.
Di belakang ratusan juta perjalanan tersebut terdapat jaringan yang terdiri atas 608 stasiun, 6.031 kilometer jalur aktif, serta 11.312 sarana, mulai dari lokomotif, KRL hingga LRT.
Kereta api yang dahulu menjadi moda transportasi baru pada abad ke-19 kini menjadi bagian dari mobilitas masyarakat sehari-hari.
Namun perkembangan itu tidak berhenti pada jumlah perjalanan.
Wajah Baru Kereta Api
Perubahan juga terlihat dari kereta yang digunakan penumpang.
Sejak 2023, KAI menjalankan pengadaan 612 kereta Stainless Steel New Generation produksi PT INKA.
Hingga pertengahan 2026, sebanyak 391 kereta atau 39 rangkaian telah melayani penumpang. Seluruh program pengadaan tersebut ditargetkan rampung pada 2027.
Di dalamnya, sejumlah perubahan hadir langsung di ruang penumpang.
Kursi dapat direbahkan hingga 135 derajat dan diputar mengikuti arah perjalanan kereta. Ruang kaki dibuat lebih lega, sementara colokan listrik tersedia di setiap kursi.
Kereta api pun terus bergerak mengikuti kebutuhan penumpangnya.
Bukan Hanya Membawa Penumpang
Di balik hiruk-pikuk stasiun dan gerbong penumpang, kereta api juga memiliki peran besar dalam menggerakkan logistik.
Sepanjang 2025, volume angkutan barang KAI mencapai 69,79 juta ton.
Sekitar 82 persen di antaranya merupakan batu bara, yang sebagian besar diangkut dari Sumatera Selatan untuk memasok pembangkit listrik di Jawa dan Bali.
Selebihnya terdiri atas berbagai komoditas, mulai dari peti kemas, semen, bahan bakar minyak, pupuk, hasil perkebunan hingga barang ritel.
Dengan demikian, rel tidak hanya menjadi jalur perjalanan manusia, tetapi juga menjadi salah satu jalur penting pergerakan barang dan energi.
Menuju Transportasi yang Lebih Ramah Lingkungan
Perubahan juga terjadi pada sisi lingkungan.
Seluruh lokomotif dan genset KAI kini menggunakan biosolar B40 dan dipersiapkan untuk beralih ke B50.
Di sisi lain, KAI telah memasang 113 unit pembangkit listrik tenaga surya di 92 lokasi, mulai dari stasiun hingga balai yasa.
Instalasi tersebut memiliki potensi menghasilkan sekitar 5,8-6,6 juta kWh listrik bersih per tahun.
Digitalisasi juga menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Layanan face recognition yang tersedia di 22 stasiun telah digunakan oleh 5,56 juta penumpang pada semester I 2026. Penggunaan layanan ini juga disebut menghemat 13.888 rol kertas tiket.
Berbagai upaya tersebut kemudian memperoleh lima penghargaan dalam Indonesia Sustainability Award 2026, termasuk The Most Inclusive Business 2026.
81 Tahun KAI, Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai
Dari pencangkulan pertama di Kemijen hingga ribuan kilometer rel yang terbentang hari ini, perjalanan kereta api Indonesia telah melewati berbagai zaman.
Ada masa kolonial, masa pendudukan Jepang, masa pengambilalihan oleh para pekerja kereta api Indonesia, perubahan bentuk badan usaha, hingga transformasi menjadi perusahaan yang melayani ratusan juta perjalanan setiap tahun.
Karena itu, usia 81 tahun KAI tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari sejarah perkeretaapian yang jauh lebih panjang.
Dari jalur awal sepanjang ±25 km, perjalanan kereta api berkembang menjadi jaringan transportasi yang menghubungkan berbagai wilayah Indonesia
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, mengatakan perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana perkeretaapian terus berubah mengikuti kebutuhan masyarakat.
"159 tahun lalu, perjalanan kereta api Indonesia dimulai dari jalur Semarang-Tanggung. Sejak itu, perkeretaapian Indonesia melewati berbagai fase sejarah hingga berkembang menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang terus tumbuh dan melayani masyarakat," ujar Bobby Rasyidin.
Melalui KAI Heritage Week 2026, kata Bobby, KAI ingin mengajak masyarakat mengenang perjalanan tersebut sekaligus melihat hubungan antara sejarah dan masa depan perkeretaapian.
"Melalui KAI Heritage Week 2026, KAI mengajak masyarakat mengenang perjalanan panjang tersebut sekaligus melihat bagaimana sejarah menjadi bagian dari perkembangan perkeretaapian Indonesia menuju masa depan," imbuhnya.
Tema "Semakin Melayani" yang diusung KAI pada usia ke-81 menjadi penanda bahwa perjalanan tersebut masih berlanjut.
Tantangannya pun semakin beragam: jumlah penumpang terus bertambah, jaringan rel di luar Jawa masih perlu diperluas, sementara keselamatan perjalanan, termasuk di perlintasan sebidang, tetap menjadi pekerjaan yang harus terus dijaga.
Lebih dari satu setengah abad lalu, semuanya bermula dari Kemijen.
Hanya sekitar 25 kilometer rel yang dibangun.
Kini, ribuan kilometer rel menghubungkan berbagai kota, jutaan perjalanan berlangsung setiap bulan, dan kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Indonesia.
Rel itu terus memanjang.
Cerita tentangnya pun belum selesai.