INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Indonesia dan Tiongkok sepakat mempercepat persiapan perundingan Indonesia-China Comprehensive Economic Partnership Agreement (IDC-CEPA) di tengah nilai ekspor nonmigas RI ke Tiongkok yang telah menembus USD64,82 miliar sepanjang 2025.
Kesepakatan percepatan IDC-CEPA menjadi agenda utama pertemuan Deputi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi dengan Director General MOFCOM Tiongkok Chen Chao di Beijing, Sabtu (26/09/2026).
Nilai ekspor nonmigas tersebut naik 7,11% dibanding tahun sebelumnya, menjadikan Tiongkok sebagai tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia. Di sisi investasi, Tiongkok dan Hong Kong masuk tiga besar PMA dengan realisasi masing-masing USD7,5 miliar dan USD10,6 miliar pada 2025.
Padahal RI-Tiongkok belum memiliki perjanjian perdagangan bilateral. Selama ini hanya mengandalkan kerangka regional ACFTA dan RCEP. Setelah tuntas dengan AS, Uni Eropa, Kanada, dan Eurasia, kini giliran Tiongkok.
"Saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia dan Tiongkok untuk memperkuat hubungan ekonomi melalui CEPA. Kami ingin CEPA mengedepankan kerja sama yang saling melengkapi, bukan saling bersaing," ujar Deputi Edi Prio Pambudi.
Tiongkok menyambut baik. DG MOFCOM Chen Chao optimistis CEPA akan menguntungkan pelaku usaha kedua negara.
Selain CEPA, dua agenda lain turut dibahas, yakni:
1. Ekonomi Hijau: Lewat Green Partnership Agreement for Development (GPAD) untuk perdagangan dan investasi hijau. "Implementasi adalah yang utama. Tidak boleh berhenti di atas kertas," tegas Edi.
2. Kapasitas ASN & WAICO: Indonesia dukung World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) di bawah PBB yang ditandatangani 16 Juli 2026. Tiongkok juga akan gelar program peningkatan kapasitas ASN Indonesia di bidang AI, perdagangan digital, dan negosiasi. Kemenko akan usulkan LoI kerja sama.