INDUSTRY.co.id, Yogyakarta – Mandiri Utama Finance (MUF) berkolaborasi dengan Difabelzone menyelenggarakan kegiatan “Membatik Bersama 100 Difabel” di Pendopo Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Rabu (16/9). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen MUF dalam mendorong pemberdayaan penyandang disabilitas agar semakin mandiri dan produktif, sekaligus mendukung upaya menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai salah satu sentra batik yang inklusif.
Melalui program ini, MUF memberikan dana bantuan kepada 100 penyandang disabilitas yang berasal dari Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta. Bantuan disalurkan melalui Yayasan Difabelzone untuk mendukung program pemberdayaan berupa pelatihan dan pembinaan membatik selama satu bulan.
Corporate Secretary & Legal Division Head Mandiri Utama Finance, Elisabeth L. Sirait, mengatakan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen MUF dalam memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat, termasuk melalui pemberdayaan penyandang disabilitas.
“MUF percaya bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berkarya, dan menjadi produktif. Melalui program ini, MUF ingin mendukung para penyandang disabilitas dalam mengembangkan keterampilan dan kreativitas membatik sehingga dapat menghasilkan karya bernilai ekonomi serta membuka peluang menuju kemandirian,” ujar Elisabeth.
Elisabeth menambahkan, dukungan tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi para peserta untuk terus mengembangkan keterampilan dan potensi usaha secara berkelanjutan.
Branch Manager Mandiri Utama Finance Yogyakarta, Sulasno, menambahkan bahwa program membatik diharapkan dapat mendorong para peserta untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi dari karya yang dihasilkan.
“Semoga dari kegiatan membatik ini lahir karya-karya yang membanggakan, memiliki nilai ekonomi, serta mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan perekonomian keluarga,” ujar Sulasno.
Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, dalam sambutannya menyampaikan bahwa membatik bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga sarana pembentukan karakter. Setiap titik dan garis yang ditorehkan membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan keberanian, nilai-nilai yang selaras dengan semangat inklusivitas dalam program ini.
Sri Paduka berharap kegiatan tersebut dapat mendorong lahirnya identitas batik difabel Yogyakarta yang khas dengan karakter dan nilai budaya tersendiri, sekaligus membuka ruang bagi munculnya talenta-talenta baru di bidang pembatikan.
Kepala Dinas Sosial DIY, Suyarno, mengapresiasi kolaborasi MUF dan Yayasan Difabelzone yang sejalan dengan komitmen Pemerintah daerah DIY dalam mewujudkan pembangunan inklusif. Menurutnya, pemberdayaan penyandang disabilitas tidak hanya dilakukan melalui pemberian bantuan, tetapi juga dengan membuka akses dan kesempatan agar mereka dapat berkarya secara berkelanjutan.
Sebanyak 100 peserta dalam program ini terdiri dari beragam jenis disabilitas, antara lain daksa, cerebral palsy, polio, rungu wicara, tunagrahita, tuna laras, low vision, hingga autisme. Selama satu bulan, para peserta akan memperoleh pembinaan dan dukungan peralatan membatik untuk mengembangkan keterampilan serta menghasilkan karya yang memiliki potensi nilai ekonomi.
Produk hasil karya para peserta selanjutnya direncanakan untuk dipamerkan pada 3 Desember 2026 dalam rangka peringatan Hari Disabilitas. Melalui program ini, MUF berharap dapat mendorong penyandang disabilitas untuk semakin mandiri dan produktif, sekaligus mendukung pengembangan ekosistem batik yang inklusif di Daerah Istimewa Yogyakarta.