INDUSTRY.co.id - Jakarta, Selama puluhan tahun, para ilmuwan seperti berhadapan dengan sekumpulan “kembar identik” di bawah laut. Bentuk tubuh, warna, dan corak yang nyaris serupa membuat sejumlah spesies pari cambuk (whipray) dari genus Himantura sulit dibedakan.
Kesamaan rupa itu bukan sekadar persoalan penamaan. Ia membuat peta persebaran spesies menjadi kabur, garis keturunan sulit ditelusuri, bahkan berpotensi mengacaukan perhitungan populasi dan status konservasinya.
Kini, teka-teki tersebut mulai terurai.
Melalui pendekatan genetika molekuler, tim riset kolaborasi internasional yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan lembaga riset Prancis berhasil mendeskripsikan spesies baru pari cambuk yang endemik di kawasan kepulauan Indo-Melayu, yakni Himantura arlyzae.
Penelitian tersebut dipimpin Philippe Borsa dari Institut de recherche pour le développement (IRD) Prancis, bersama Udhi E. Hernawan dari Pusat Riset Oseanografi BRIN serta peneliti IRD Régis Hocdé dan Laurent Pouyaud. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Aquatic Living Resources edisi 2026.
Selama ini, identifikasi spesies pari Himantura banyak bertumpu pada morfologi—bentuk tubuh, pola warna, dan karakter fisik lain yang dapat diamati.
Masalahnya, “wajah” mereka terlalu mirip.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menelaah 16 karakter morfologi yang lazim digunakan untuk membedakan empat spesies pari cambuk. Namun, tidak satu pun karakter itu mampu menjadi penanda yang benar-benar mutlak.
Akibatnya, nama spesies dan garis keturunan tidak selalu berjalan beriringan. Pari yang secara genetik berasal dari satu garis keturunan dapat diberi nama berbeda, sementara individu yang secara genetik berbeda justru bisa ditempatkan dalam satu nama spesies.
Kekeliruan semacam ini bukan perkara administratif dalam dunia taksonomi. Identitas spesies merupakan fondasi untuk memahami persebaran, ukuran populasi, hingga kebutuhan konservasi suatu satwa.
Jika satu nama ternyata mewakili beberapa spesies berbeda, jumlah individu masing-masing spesies dapat terlihat jauh lebih besar daripada keadaan sebenarnya.
Membaca "Sidik Jari" dari DNA
Untuk menembus batas yang tidak mampu dilihat oleh mata, para peneliti menggunakan pendekatan DNA barcoding.
Salah satu penanda yang dianalisis adalah gen CO1 (cytochrome c oxidase subunit 1), yang berfungsi layaknya “sidik jari” molekuler untuk membantu membedakan organisme yang secara fisik sulit dipisahkan.
Sebanyak 249 sampel sekuens CO1, bersama penanda genetik lainnya, dianalisis untuk melihat hubungan dan perbedaan genetik antarindividu.
Hasilnya mengubah gambaran yang selama ini berkembang.
Kelompok pari yang tampak hampir sama ternyata memiliki batas genetik yang tegas. Analisis tersebut menunjukkan keberadaan hingga delapan spesies mandiri dalam genus Himantura, jauh lebih banyak daripada yang sebelumnya diperkirakan.
Temuan ini juga membantu memperjelas sejumlah garis keturunan yang sebelumnya belum memiliki diagnosis taksonomi yang kuat.
Dengan kata lain, apa yang tampak seperti satu spesies dari permukaan ternyata menyimpan keragaman yang jauh lebih besar di baliknya.
Di antara hasil penelitian tersebut, pengakuan terhadap Himantura arlyzae menjadi salah satu temuan penting.
Sebelum mendapatkan status taksonomi resmi, spesies ini dikenal secara informal dalam sejumlah literatur sebagai “Himantura sp. 1” atau “uarnak 1”.
Nama arlyzae diberikan untuk mengenang Dr. Irma S. Arlyza (1974–2019), peneliti genetika ikan hiu dan pari (Elasmobranchii) di Pusat Riset Oseanografi LIPI yang kini terintegrasi ke dalam BRIN.
Dedikasi tersebut tidak berhenti pada nama.
Spesimen acuan atau holotipe H. arlyzae merupakan seekor pari cambuk jantan muda dengan lebar cakram 38,2 sentimeter dan panjang total 142 sentimeter. Spesimen itu dikumpulkan oleh mendiang Irma pada November 2009 dari hasil tangkapan nelayan lokal di perairan Pulau Selayar, Laut Flores.
Kini, spesimen tersebut tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dengan nomor registrasi MZB-20875.
Dengan penetapan taksonomi tersebut, individu yang dahulu hanya dikenal sebagai bagian dari garis keturunan yang belum memiliki nama resmi kini memperoleh identitas ilmiah: Himantura arlyzae.
DNA tidak hanya mengubah daftar nama. Ia juga memaksa para ilmuwan menggambar ulang peta persebaran pari cambuk.
Sejumlah spesies yang sebelumnya diduga memiliki wilayah persebaran sangat luas ternyata memiliki distribusi yang lebih terbatas.
Himantura uarnak, misalnya, kini dipastikan merupakan spesies endemik Laut Merah dan bagian barat Samudra Hindia, bukan spesies yang tersebar secara global seperti anggapan sebelumnya.
Sementara itu, H. leoparda dipastikan menghuni kawasan kepulauan Indo-Melayu.
Penelitian juga mengungkap pola persebaran parapatrik pada H. australis dan H. arlyzae. Keduanya menempati wilayah geografis yang bersebelahan, tetapi populasi kedua spesies hampir tidak saling tumpang tindih.
Spesies lain juga memiliki wilayah masing-masing. H. tutul diketahui tersebar dari Samudra Hindia bagian barat hingga Paparan Sunda, sedangkan H. undulata membentang dari Laut Arab menuju Paparan Sunda.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan tentang pari cambuk bukan lagi sekadar “spesies apa ini?”, tetapi juga“ di mana sebenarnya rumah spesies ini?”
Perubahan klasifikasi tersebut membawa konsekuensi langsung bagi konservasi.
Daftar Merah IUCN 2025 sebelumnya mencatat empat spesies dalam kelompok ini. Setelah analisis menunjukkan adanya hingga delapan spesies yang berbeda, gambaran mengenai ukuran populasi masing-masing spesies pun perlu ditinjau kembali.
Satu populasi yang sebelumnya dianggap mewakili satu spesies dalam jumlah besar dapat saja sebenarnya merupakan gabungan beberapa spesies yang masing-masing memiliki populasi jauh lebih kecil.
Kondisi ini penting bagi kawasan Indo-Melayu, termasuk Indonesia, yang menjadi bagian dari wilayah persebaran sejumlah spesies tersebut.
Jika suatu spesies memiliki wilayah jelajah yang lebih sempit daripada yang selama ini dipahami, tekanan akibat penangkapan dan perubahan habitat berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap populasinya.
Karena itu, penemuan Himantura arlyzae bukan sekadar penambahan satu nama ke dalam katalog biodiversitas.
Ia menunjukkan bahwa laut Indonesia masih menyimpan keragaman hayati yang belum sepenuhnya terbaca—bahkan pada hewan yang selama puluhan tahun dianggap telah dikenal.
Teknologi molekuler kini memungkinkan para peneliti menarik garis batas yang sebelumnya tak terlihat: membedakan spesies yang secara kasatmata tampak seperti kembar, tetapi ternyata memiliki sejarah evolusi dan wilayah hidup yang berbeda.
Namun, pengakuan terhadap nama baru hanyalah permulaan.
Langkah berikutnya adalah memahami bagaimana Himantura arlyzae hidup, berkembang biak, berinteraksi dengan lingkungannya, serta menghadapi tekanan aktivitas manusia. Sebab, spesies baru hanya akan menjadi pengetahuan yang bermakna jika pengetahuan tersebut diikuti upaya untuk memastikan keberadaannya tetap lestari.