INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya dipengaruhi besarnya kebakaran, tetapi juga kondisi atmosfer yang membuat asap tertahan di dekat permukaan bumi.

Fenomena yang dikenal sebagai inversi suhu atmosfer ini menjadi tantangan dalam operasi modifikasi cuaca karena dapat menghambat pertumbuhan awan yang diperlukan untuk menghasilkan hujan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun memberikan dukungan evaluasi kajian ilmiah terhadap upaya penanggulangan kabut asap melalui operasi modifikasi cuaca menggunakan es kering atau dry ice.

Inversi Jadi Penutup Asap

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer di wilayah terdampak karhutla saat ini menghadapi tantangan tersendiri.

Dalam kondisi normal, suhu udara umumnya semakin menurun seiring bertambahnya ketinggian, sehingga udara hangat di dekat permukaan bergerak naik melalui proses konveksi dan mendukung pertumbuhan awan.

Namun, ketika terjadi inversi suhu, terdapat lapisan udara yang lebih hangat di atas udara yang lebih dingin. Lapisan ini menghambat pergerakan vertikal udara.

“Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan semakin terkonsentrasi di dekat permukaan. Pada saat yang sama, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan,” jelas Heru.

Pernyataan itu disampaikan Heru dalam rapat briefing bersama Tim Desk Terpadu Operasi Modifikasi Cuaca untuk Penanggulangan Karhutla di Posko Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (18/10).

Uji Coba Dry Ice untuk Lemahkan Inversi

Heru menjelaskan, salah satu pendekatan yang tengah dicoba tim terpadu adalah penyemaian es kering atau karbon dioksida padat.

Berbeda dengan penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang turunnya hujan pada awan yang memenuhi persyaratan, penggunaan es kering dalam konteks ini diarahkan untuk menguji kemungkinan terjadinya perubahan kondisi termal pada lapisan inversi.

Es kering memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, bahan tersebut mengalami sublimasi, yakni perubahan dari fase padat menjadi gas, sambil menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.

Secara konseptual, pendinginan lokal yang terjadi diharapkan dapat memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan peluang pencampuran udara secara vertikal.

“Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan,” terang Heru.

Heru mengingatkan, lapisan inversi dapat memiliki cakupan wilayah yang luas serta tingkat kestabilan yang berbeda-beda. Karena itu, gangguan suhu pada suatu lokasi belum tentu cukup untuk mengubah kondisi atmosfer secara keseluruhan.

Perlu Data Pengamatan Sistematis

Untuk mendukung operasi tersebut, BRIN dapat melakukan analisis berdasarkan data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan oleh instansi pelaksana operasi dan BMKG. Data tersebut mencakup profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan atmosfer.

Pengukuran dapat memanfaatkan data radiosonde, yaitu instrumen pengamatan atmosfer yang memberikan informasi mengenai kondisi suhu, kelembapan, dan parameter meteorologi pada berbagai ketinggian. Selain itu, data pengamatan suhu selama penerbangan juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi lapisan tempat terjadinya inversi serta memperkirakan ketebalannya.

Menurut Heru, pengamatan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian perlu dilakukan secara sistematis.

“Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat. Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar mempengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya,” pungkasnya.