INDUSTRY.co.id -Jakarta-Pada perdagangan Jumat (8/9/2017), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan IHSG akan kembali mencoba menguat terbatas dengan range pergerakan 5810-5860.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan perkiraan tersebut karena IHSG secara teknikal terkonsolidasi positif pada level MA50 dan bullish trend line. Indikasi positif jangka pendek masih memiliki probabilitas yang cukup besar.

“Indikator Stochastick terkonfirmasi membentuk signal penguatan setelah golden-cross pada level oversold. Momentum dari Indikator RSI yang cenderung flat menjadi penahan penguatan,”kata dia di Jakarta, Jumat (8/9/2017).

Para investor digiring oleh Lanjar untuk memperhatikan saham-saham yang masih dapat dicermati diantaranya ASRI, BBNI, CPIN, SMGR, WIKA, GGRM, CTRA, WSKT.

Pada penutupan perdagangan Kamis (7/9/2017), IHSG (+0.14%) pun bergerak fluktuatif sempat tertekan hingga kembali menguji support 5800 namun berhasil ditutup menguat 8.17 poin dilevel 5835.87 dengan volume perdagangan yang cukup ramai.

Indeks sektor industri dasar (+0.84%), Trading (0.80%) dan Keuangan (+0.60%) menjadi pendorong setelah sebelumnya tertekan oleh indeks aneka industri (-1.72%) dan pertambangan (-1.07%) sejak awal sesi perdagangan. Saham ASII (-2.24%) tertekan seiring besarnya net sell investor asing setelah beberapa research mendowngrade target harga. Investor asing kembali tercatat net sell 940.96 Miliar rupiah.

Mayoritas indeks saham Asia kembali ditutup bervariasi dimana Nikkei (+0.20%), Topix (+0.39%) dan Kospi (+1.14%) menguat sedangkan Hangseng (-0.33%) dan CSI (-0.51%) tertekan. Indeks saham Tiongkok berfluktuasi dibuka menguat namun ditutup pada zona negatif.

Bursa saham di Eropa dibuka menguat optimis, Indeks Eurostoxx (+0.90%), FTSE (+0.40%) dan DAX (+1.16%) menguat diatas setengah persen. Sebagian besar fixed rate obligasi jatuh setelah ECB merenungkan opsi untuk mengurangi stimulus moneter. Sentimen selanjutnya diakhir pekan akan banyak data dari Tiongkok diantaranya Eksport Import dan Neraca perdagangan serta Cadangan devisa.