INDUSTRY.co.id - Flam, perusahaan teknologi yang mengembangkan platform konten interaktif berbasis kecerdasan buatan (AI), berhasil mengamankan pendanaan Seri B sebesar US$40 juta. Putaran investasi tersebut dipimpin oleh QED Investors dan melibatkan sejumlah investor baru maupun investor lama.
Dalam putaran ini, Flam mendapatkan dukungan dari Claypond Capital, Australian Gulf Capital, SRK Family Office, Martin Chavez, Olivier Pomel, serta sejumlah investor lainnya. Investor terdahulu, RTP Global dan Dovetail, juga kembali berpartisipasi dengan meningkatkan nilai investasinya di perusahaan.
Dana segar tersebut terutamanya akan digunakan untuk memperkuat penelitian dan pengembangan (R&D). Flam berencana meningkatkan kemampuan model AI proprietary, memperluas portofolio produknya, sekaligus mempercepat ekspansi ke pasar enterprise secara global.
Pendanaan Seri B ini hadir ketika bisnis Flam tengah mengalami pertumbuhan yang cukup agresif. Dalam enam kuartal terakhir, perusahaan mengklaim telah memperoleh lebih dari 100 pelanggan enterprise, termasuk Google, State Farm, dan Diageo.
Flam juga memasang target ambisius dengan membidik annual recurring revenue (ARR) sebesar US$100 juta pada tahun depan.
Membawa Konten Digital ke Era Interaktif
Flam membangun platformnya dari sebuah gagasan sederhana: perkembangan konten digital telah bergerak dari teks ke gambar, kemudian video. Namun, sebagian besar pengalaman digital tersebut masih berjalan satu arah. Pengguna dapat melihat dan mengonsumsi konten, tetapi tidak benar-benar dapat memengaruhi apa yang terjadi di dalamnya.
Perusahaan ingin mengubah pola tersebut dengan menghadirkan pengalaman digital yang lebih interaktif. Melalui teknologinya, audiens tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat berinteraksi dan memengaruhi konten secara real time.
“Rasa ingin tahu adalah naluri manusia yang paling tua. Kita tidak hanya ingin melihat dunia; kita ingin menjangkau dan membentuknya,” ujar Founder Flam, Shourya Agarwal.
Menurut Agarwal, Flam terus meningkatkan investasi di bidang riset AI untuk membuat pengalaman interaktif dapat berjalan secara mulus sekaligus lebih mudah diadopsi oleh perusahaan di berbagai negara.
Saat ini, teknologi Flam didukung lebih dari 15 paten dan mencakup tiga kategori utama, yakni Flicks, Airboards, dan Visual Agents.
Flicks merupakan format video interaktif yang memadukan AI generatif dengan teknologi kompresi proprietary. Kombinasi tersebut dirancang untuk menghadirkan pemutaran video yang responsif dan mulus.
Sementara itu, Airboards memungkinkan pengguna menikmati konten 3D dengan tingkat fidelitas tinggi melalui antarmuka berbasis kamera. Flam menggunakan model AI bernama Fable untuk menghasilkan pengalaman berdasarkan instruksi berupa teks maupun gambar.
Adapun Visual Agents berfokus pada avatar AI hiperrealistis yang dapat berinteraksi dengan pengguna melalui percakapan secara real time. Model Fantom digunakan untuk menangani berbagai aspek, termasuk ekspresi wajah, preservasi identitas, serta transfer gerakan.
Untuk mendukung kemampuan percakapan dan agentic, Flam juga menggunakan Falcon, large language model (LLM) berbasis Mixture-of-Experts dengan 26 miliar parameter.
Flam mengklaim infrastrukturnya mampu mencapai sekitar 30 milidetik untuk time-to-first-token inference dan sekitar 300 milidetik untuk time-to-first-buffer. Menurut perusahaan, kemampuan tersebut memungkinkan pengalaman interaktif ditampilkan secara dinamis saat runtime, baik dalam lingkungan fisik maupun digital.
QED Soroti Potensi pasar Enterprise
QED Investors melihat Flam memiliki kombinasi teknologi AI, infrastruktur, dan kesiapan enterprise yang dapat membedakannya dari berbagai upaya sebelumnya di ranah konten interaktif.
“Konten interaktif telah dicoba berkali-kali, dan polanya selalu sama: demo yang menarik tetapi tidak pernah mampu berkembang dalam skala besar,” kata Nigel Morris, Co-Founder sekaligus Managing Partner QED Investors.
Morris menilai Flam mampu mengatasi persoalan teknis sekaligus komersial yang selama ini menjadi salah satu penghambat utama adopsi konten interaktif dalam skala luas.
Saat ini, Flam melayani perusahaan dari berbagai industri. Penggunaannya mencakup kebutuhan visualisasi produk, storytelling merek, hiburan, fan engagement, layanan pelanggan, hingga pembelajaran.
Dengan tambahan modal US$40 juta, Flam akan memperbesar tim riset AI, memperluas kehadiran internasional, dan meningkatkan investasi pada platform teknologinya.
Dalam jangka panjang, perusahaan ingin menjadikan konten interaktif sebagai bagian penting dari cara perusahaan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan pelanggan.
Ambisi tersebut sekaligus menunjukkan perubahan posisi AI dalam industri konten. Bagi Flam, AI bukan hanya alat untuk menghasilkan materi digital, tetapi juga teknologi yang memungkinkan audiens mengambil peran aktif dan ikut membentuk pengalaman yang mereka konsumsi.