INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga emas kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Harga emas dibuka melemah ke level US$4.328 per troy ons seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil US Treasury. Tekanan tersebut muncul ketika pasar semakin agresif memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga pada September.
Pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan September mencapai sekitar 67%. Angka tersebut melonjak dari sekitar 40% sepekan sebelumnya. Perubahan ekspektasi ini menjadi beban bagi emas yang selama ini diuntungkan dari prospek pelonggaran moneter.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS turut memperkuat tekanan terhadap logam mulia. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,81%, level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Pada saat yang sama, indeks dolar AS berada di sekitar 99,79.
Kombinasi dolar yang menguat dan yield Treasury yang lebih tinggi membuat emas menjadi relatif kurang menarik bagi investor. Pasalnya, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil sehingga opportunity cost memegang emas meningkat ketika instrumen berbasis dolar menawarkan yield yang lebih tinggi.
Perhatian investor kini beralih ke sejumlah data ekonomi AS, terutama pasar tenaga kerja. Data Automatic Data Processing (ADP) diperkirakan menunjukkan penambahan 48.000 pekerjaan, sementara laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis Jumat menjadi katalis penting bagi arah harga emas.
Data ketenagakerjaan tersebut akan menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur ketahanan ekonomi AS sekaligus memperkirakan ruang gerak The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga. Jika data tenaga kerja menunjukkan ekonomi masih solid, peluang kenaikan suku bunga dapat semakin menguat dan berpotensi memperpanjang tekanan terhadap harga emas.
Di sisi lain, eskalasi konflik AS-Iran menghadirkan dinamika yang lebih rumit bagi pasar emas. Secara tradisional, peningkatan ketegangan geopolitik dapat mendorong investor memburu emas sebagai aset safe haven. Namun kali ini, risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz justru dapat menjadi pedang bermata dua.
Gangguan distribusi energi berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dan memperbesar tekanan inflasi global. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membuat bank sentral, khususnya The Fed, mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau bahkan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga.
Dengan demikian, eskalasi geopolitik belum tentu menjadi katalis positif bagi emas. “Di satu sisi, meningkatnya ketegangan geopolitik secara teoritis dapat meningkatkan permintaan aset safe haven. Namun, gangguan terhadap pasokan energi melalui Selat Hormuz sehingga meningkatkan risiko inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga,” demikian gambaran kondisi pasar dalam analisis tersebut.
Dari sisi teknikal, ruang penurunan harga emas masih terbuka apabila tekanan jual berlanjut. Support terdekat berada di kisaran US$4.280–US$4.231 per troy ons. Jika level tersebut ditembus, support berikutnya berada di sekitar US$4.092.
Sementara itu, area resistance terdekat berada di US$4.419–US$4.509. Untuk jangka menengah, harga emas masih menghadapi resistance di sekitar US$4.648 per troy ons.
Dengan pasar yang semakin memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed, pergerakan emas dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi AS. Jika data tenaga kerja kembali menunjukkan ketahanan, dolar dan yield berpeluang melanjutkan penguatan, yang berarti tekanan terhadap emas belum akan berakhir.