INDUSTRY.co.id - Jakarta - Musim kemarau mulai menekan operasional industri kokas nasional. Keterbatasan pasokan air di kawasan industri Morowali hingga turunnya muka air sungai di Kalimantan membuat pelaku industri harus melakukan efisiensi dan menyesuaikan aktivitas produksi serta distribusi bahan baku.
Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) menyebut, tekanan paling terasa di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Sejumlah tenant, termasuk industri kokas, mulai melakukan penyesuaian operasional karena pasokan air dalam kondisi tertentu hanya mencapai sekitar 50% dari tingkat normal.
Ketua APUKN, Elias Ginting mengatakan, air merupakan salah satu utilitas penting dalam proses produksi kokas, terutama untuk pendinginan, pengendalian emisi, hingga berbagai proses penunjang lainnya.
"Air merupakan salah satu utilitas penting bagi industri kokas, terutama untuk pendinginan, pengendalian emisi dan berbagai proses penunjang. Industri saat ini terus melakukan efisiensi dan optimalisasi penggunaan air agar produksi tetap berjalan," kata Elias melalui keterangan resminya di Jakata (1/9/2026).
Tekanan akibat kemarau tidak hanya terjadi pada operasional pabrik, tetapi juga mulai dirasakan pada sisi pasokan bahan baku.
APUKN mencatat sekitar 20% kebutuhan coking coal industri kokas berasal dari sumber domestik. Sebagian bahan baku tersebut berasal dari Kalimantan dan pengangkutannya sangat bergantung pada jalur sungai.
Berdasarkan pengolahan APUKN terhadap data Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, rata-rata tinggi muka air di Muara Teweh turun dari sekitar 21,02 meter pada Juli menjadi 20,39 meter pada Agustus 2026.
Bahkan, pada 12 Agustus 2026, muka air di wilayah tersebut sempat berada di sekitar 19 meter.
Penurunan muka air juga terjadi di sejumlah wilayah lain. Di Marabahan, tinggi muka air turun dari 11,91 meter menjadi 11,77 meter. Sementara di Gampa, muka air turun dari 15,16 meter menjadi 14,96 meter.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kelancaran distribusi coking coal menggunakan tongkang.
Menurut Elias, rendahnya muka air membuat tongkang tidak selalu dapat mengangkut muatan dalam kapasitas normal. Operator dalam kondisi tertentu harus mengurangi muatan atau menyesuaikan jadwal pelayaran untuk menjaga keselamatan.
Elias memperingatkan, apabila kondisi kemarau berlangsung lebih panjang, tekanan terhadap industri kokas bisa semakin besar.
"Sekitar 20% bahan baku coking coal kami berasal dari dalam negeri. Ketika muka air sungai turun, kapasitas pengangkutan ikut terpengaruh. Jika kemarau panjang masih akan berlanjut maka produksi kokas akan tertekan dan akan berdampak cukup signifikan terhadap volume ekspor produk ini serta meningkatkan beban biaya logistik," ujarnya.
Meski demikian, APUKN memastikan kegiatan produksi industri kokas secara umum masih berjalan.
Pelaku industri telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga kelangsungan produksi. Upaya tersebut antara lain melakukan efisiensi penggunaan air, mengatur muatan dan jadwal pengiriman tongkang, serta menjaga tingkat persediaan bahan baku.
APUKN menilai, persoalan ini perlu mendapatkan perhatian karena industri kokas memiliki keterkaitan dengan sejumlah sektor hilir strategis.
Kokas digunakan sebagai salah satu bahan penting dalam rantai industri, termasuk feronikel, besi dan baja, serta stainless steel. Karena itu, gangguan pada pasokan bahan baku maupun utilitas industri kokas dikhawatirkan dapat meluas ke rantai pasok industri hilir.
APUKN berharap, pemerintah, pengelola kawasan industri, BWS, pemasok batu bara, dan pelaku logistik meningkatkan koordinasi serta pemantauan kondisi hidrologi selama musim kemarau.
"Yang perlu kita jaga adalah agar tekanan akibat kemarau ini tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap rantai pasok dan program hilirisasi industri nasional," pungkas Elias.