INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak bergerak bullish pada perdagangan Kamis (20/8/2026), didorong meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) mengancam menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran. Ketegangan semakin memanas setelah Teheran memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak membantu operasi militer AS.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu (19/8) menyatakan akan meluncurkan kampanye baru berskala besar yang menyasar perekonomian Iran. Washington juga mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara mana pun yang membantu atau berbisnis dengan Teheran.

Ancaman tersebut langsung direspons Iran. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak memberikan bantuan kepada militer AS. Eskalasi ini membuat prospek negosiasi untuk mengakhiri konflik Iran semakin suram dan kembali meningkatkan premi risiko pada harga minyak.

Ketegangan juga berdampak pada hubungan dagang Iran dengan negara-negara Teluk. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) pada Rabu mengumumkan penangguhan seluruh perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Keputusan tersebut diambil setelah Kementerian Pertahanan UEA menyatakan mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari Iran. Satu rudal jatuh di luar perairan wilayah UEA, sedangkan rudal lainnya mendarat di dalam wilayah perairan negara tersebut.

Dari sisi pasokan, sentimen bullish harga minyak turut diperkuat gangguan ekspor Rusia. Ekspor minyak dari pelabuhan-pelabuhan barat Rusia disebut turun sekitar 15% di bawah target volume yang direncanakan akibat gangguan operasional di Novorossiysk setelah serangan Ukraina.

Sejumlah sumber industri menyebut aktivitas pemuatan di pelabuhan-pelabuhan Rusia mengalami keterlambatan lebih dari dua pekan. Kargo yang semestinya diekspor pada akhir Juli baru dikapalkan dalam beberapa hari terakhir.

Namun, kenaikan harga minyak masih menghadapi tekanan dari sisi permintaan. Badan Informasi Energi AS (EIA) dalam laporan Rabu malam mencatat stok minyak mentah AS meningkat 4,41 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus 2026. Kenaikan tersebut menjadi pertumbuhan persediaan dalam tiga pekan berturut-turut.

Persediaan bensin AS juga naik 688.000 barel. Data tersebut mengindikasikan permintaan energi di AS masih relatif lesu dan berpotensi membatasi ruang kenaikan harga minyak.

Dengan tarik-menarik antara risiko pasokan dan kekhawatiran permintaan tersebut, pergerakan harga minyak ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik Iran serta kebijakan sanksi AS. Eskalasi geopolitik berpotensi memperketat pasokan dan menopang harga, sementara peningkatan stok minyak AS menjadi sinyal tekanan dari sisi konsumsi.

Secara teknikal, harga minyak berpotensi menguji level resistance terdekat di US$87 per barel. Jika katalis negatif kembali muncul, harga minyak berpeluang terkoreksi menuju level support di US$82 per barel.