INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Kinerja sektor manufaktur nasional tetap menunjukkan ekspansi pada triwulan II 2026 meski laju pertumbuhannya sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Bank Indonesia (BI) memperkirakan momentum tersebut akan kembali menguat pada triwulan III 2026 seiring meningkatnya produksi dan pesanan baru.

Berdasarkan hasil Survei PMI-BI, indeks PMI-BI pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 51,43%, sedikit lebih rendah dibandingkan 52,03% pada triwulan I 2026. Meski demikian, capaian tersebut masih berada di atas level 50 yang menandakan aktivitas industri pengolahan tetap berada pada fase ekspansi.

Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa kinerja manufaktur masih ditopang oleh sejumlah indikator utama yang bertahan di zona ekspansi.

"Pada triwulan II 2026, kinerja Lapangan Usaha Industri Pengolahan tetap terjaga, tecermin dari angka PMI-BI sebesar 51,43%, meski sedikit lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 52,03%," ujar Ramdan dalam siaran pers.

BI mencatat ekspansi terutama didorong oleh komponen Volume Produksi yang mencapai 53,81%, Volume Persediaan Barang Jadi sebesar 53,00%, serta Volume Total Pesanan sebesar 52,77%. Ketiga komponen tersebut mencerminkan permintaan domestik yang masih solid sekaligus menjaga aktivitas produksi industri.

Menurut BI, terjaganya volume produksi sejalan dengan permintaan masyarakat yang masih kuat, didukung tingginya volume pesanan dan kecukupan persediaan barang jadi serta ketersediaan sarana produksi.

Memasuki triwulan III 2026, BI memperkirakan aktivitas manufaktur akan meningkat dengan PMI-BI mencapai 52,32%. Peningkatan diproyeksikan didorong oleh Volume Produksi yang diperkirakan naik menjadi 54,33%, Volume Persediaan Barang Jadi sebesar 53,67%, serta Volume Total Pesanan sebesar 53,66%.

Di sisi lain, dua komponen masih menjadi tantangan bagi sektor manufaktur. Kecepatan Penerimaan Barang Input diperkirakan membaik menjadi 48,88%, sedangkan Jumlah Tenaga Kerja meningkat tipis menjadi 49,70%. Kendati mengalami perbaikan, keduanya masih berada di bawah ambang ekspansi.

"Komponen Kecepatan Penerimaan Barang Input dan Jumlah Tenaga Kerja mengalami perbaikan meski masih berada di zona kontraksi dengan indeks masing-masing sebesar 48,88% dan 49,70%," kata Ramdan.

Secara sektoral, mayoritas subsektor industri pengolahan masih mencatatkan ekspansi pada triwulan II 2026. Industri Mesin dan Perlengkapan menjadi subsektor dengan kinerja tertinggi melalui indeks 58,24%, diikuti Industri Makanan dan Minuman sebesar 54,05%, Industri Logam Dasar sebesar 53,59%, serta Industri Barang Galian Bukan Logam sebesar 53,22%.

Prospek pada triwulan III juga dinilai tetap positif. BI memperkirakan Industri Mesin dan Perlengkapan masih menjadi motor pertumbuhan dengan indeks 56,62%, disusul Industri Pengolahan Tembakau sebesar 56,00%, Industri Logam Dasar sebesar 55,87%, serta Industri Alat Angkutan sebesar 55,44%.

Prospek tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur nasional masih memiliki ruang untuk tumbuh pada paruh kedua 2026, meski dunia usaha masih menghadapi tantangan pada aspek pasokan bahan baku dan penyerapan tenaga kerja. Namun, kuatnya produksi dan pesanan menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap produk manufaktur tetap terjaga sehingga menopang optimisme pelaku industri.