- Kevin Thompson, CEO PEEPL, membagikan 5 langkah strategis bagi HR menghadapi era AI
- Strategic workforce planning harus dimulai dari visi bisnis, bukan sekadar mengisi posisi kosong
- AI diposisikan sebagai penguat keputusan HR, bukan pengganti manusia
- Etika dan judgment manusia tetap tidak bisa digantikan oleh teknologi
- Transformasi dimulai dari pilot kecil, bukan perubahan besar sekaligus
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Dunia kerja tengah mengalami perubahan fundamental di era kecerdasan buatan (AI). Profesional HR tidak lagi cukup hanya mengelola rekrutmen dan administrasi, tetapi dituntut menjadi mitra strategis yang memahami arah bisnis dan mampu memetakan kebutuhan talenta jangka panjang.
Dalam diskusi di podcast Power Talks episode keempat oleh Jobstreet by SEEK, Kevin Thompson, CEO & AI Transformation Architect PEEPL, membagikan lima langkah strategis yang relevan bagi perusahaan maupun profesional HR yang ingin lebih siap menghadapi masa depan.
Workforce Planning Harus Berasal dari Tujuan Bisnis
Kevin menyoroti bahwa banyak pemimpin HR masih bekerja secara reaktif, yaitu baru merekrut ketika ada posisi yang kosong. Pendekatan seperti ini membuat perusahaan sulit membangun keberlanjutan jangka panjang karena keputusan tenaga kerja tidak benar-benar terhubung dengan arah bisnis.
Menurutnya, strategic workforce planning perlu dimulai dari pemahaman yang jelas terhadap visi CEO, prioritas bisnis, dan arah pertumbuhan perusahaan. Dengan begitu, fungsi HR tidak hanya merespons kebutuhan sesaat, tetapi ikut membantu perusahaan menyiapkan talenta yang dibutuhkan untuk masa depan.
Pahami Skill yang Sudah Dimiliki dan yang Dibutuhkan
Pilar kedua dari strategic workforce planning adalah workforce visibility. Perusahaan perlu memiliki gambaran yang utuh tentang kemampuan yang sudah ada di dalam organisasi, sekaligus kesenjangan kapabilitas yang harus ditutup agar tetap relevan di masa depan.
Tanpa visibilitas ini, perusahaan berisiko mengambil keputusan hiring atau development yang tidak tepat sasaran. Bagi HR leader, pemetaan skill menjadi fondasi penting agar strategi talenta benar-benar berbasis kebutuhan bisnis, bukan asumsi.
Keseimbangan Rekrutmen Eksternal dan Pengembangan Internal
Setelah arah bisnis dan kondisi workforce dipahami, langkah berikutnya adalah menyusun rencana kebutuhan SDM yang terstruktur. Kevin menjelaskan bahwa perusahaan perlu menentukan dengan lebih disiplin mana kapabilitas yang harus dicari dari luar, dan mana yang sebaiknya dibangun dari dalam melalui pengembangan.
Pendekatan ini membantu perusahaan mengelola biaya, mempercepat kesiapan SDM, dan membangun pipeline kemampuan secara lebih berkelanjutan. Dalam konteks bisnis yang berubah cepat, keseimbangan antara buy dan build menjadi semakin krusial.
AI Sebagai Penguat Keputusan, Bukan Pengganti
Dalam pandangan Kevin, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan lebih informatif, bukan sebagai pengganti manusia. AI dapat membantu mengintegrasikan data dari berbagai sistem seperti LMS (learning management system), HRIS (human resource information system), dan platform lainnya agar perusahaan memiliki pandangan yang lebih menyeluruh terhadap kondisi tenaga kerja.
Namun, ia juga menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan etika dan judgment manusia. Nilai terbesar AI justru muncul ketika teknologi digunakan untuk memperkuat kualitas analisis, sementara keputusan penting tetap dijalankan dengan pertimbangan manusia.
Mulai dari Pilot Kecil, Bukan Perubahan Besar
Salah satu pesan paling praktis dari Kevin adalah pentingnya memulai. Alih-alih terlalu lama berdiskusi atau mencoba merombak seluruh perusahaan dalam satu langkah, perusahaan sebaiknya memulai dari pilot kecil di satu fungsi atau departemen, lalu belajar dan melakukan iterasi dari sana.
Pendekatan ini membuat implementasi menjadi lebih realistis, lebih rendah risiko, dan lebih mudah mendapatkan pembelajaran nyata. Pola pikir "mulai aja dulu" menjadi pengingat bahwa transformasi yang baik tidak selalu dimulai dari rencana yang sempurna, tetapi dari keberanian untuk mencoba, belajar, dan memperbaiki.
Etika Manusia Tetap Tidak Tergantikan
Kevin menekankan satu hal mendasar yang tetap tidak bisa digantikan oleh teknologi: etika.
"AI bukan untuk menggantikan manusia. Tapi AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI," ungkap Kevin Thompson. "Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI adalah etika. Etika di balik sebuah keputusan. Kita bisa mendapatkan lebih banyak data dengan bantuan AI, tetapi berdasarkan data tersebut, tetap ada etika di balik keputusan yang harus kita ambil."
Sementara itu, Sawitri, Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, menambahkan bahwa transformasi HR tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. "Masa depan ketenagakerjaan harus high tech, tapi juga jangan lupa harus deeply human," ujarnya.
Sawitri menegaskan bahwa masa depan HR tidak hanya soal mengadopsi AI, tetapi tentang bagaimana menggabungkan teknologi, data, komunikasi, dan judgment manusia untuk membangun perusahaan yang lebih siap menghadapi perubahan.
Insight lengkap dari diskusi ini bisa ditonton di podcast Power Talks di kanal YouTube resmi Jobstreet by SEEK atau di Spotify dengan mencari "Power Talks by Jobstreet". Episode baru tayang setiap bulan.