INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menghadapi potensi El Nino 2026 yang diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat, Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pelaksanaan program pompanisasi sebagai strategi mitigasi untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Langkah ini ditempuh agar petani tetap dapat melakukan aktivitas tanam meski menghadapi ancaman berkurangnya ketersediaan air akibat musim kemarau.
Pemerintah menegaskan berbagai langkah antisipatif akan terus dipercepat sesuai kondisi di lapangan.
Upaya tersebut meliputi penyaluran pompa air, rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi sumber-sumber air, hingga pemanfaatan teknologi pertanian guna mengurangi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.
Sebagai bagian dari percepatan program tersebut, Kementan menyerahkan tujuh unit pompa air kepada tujuh kelompok tani di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.
Bantuan ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan musim tanam di wilayah yang memiliki risiko tinggi mengalami kekeringan saat kemarau.
Di Kabupaten Indramayu sendiri, dukungan sekitar 200 unit pompa air telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan luas tanam.
Potensi areal tanam yang sebelumnya berkisar 25 ribu hektare kini meningkat menjadi sekitar 41 ribu hektare.
"Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagaimana dikutip dari akun media sosial resmi Kementerian Pertanian dan Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia.
Selain memperluas akses air bagi petani, pemerintah juga akan terus memantau perkembangan kondisi iklim di berbagai daerah.
Langkah mitigasi akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah agar produktivitas pertanian tetap terjaga.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para petani, pemerintah optimistis produksi pangan nasional dapat dipertahankan di tengah tantangan perubahan iklim yang diperkirakan semakin dinamis.
Di sisi lain, program pompanisasi juga menjadi instrumen penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan sawah tadah hujan. Kementan menilai sistem ini merupakan solusi paling efektif untuk menjaga ketersediaan air pada lahan pertanian yang selama ini bergantung sepenuhnya pada curah hujan.
Secara nasional, Indonesia memiliki sekitar 7,4 juta hektare luas baku sawah, dengan sekitar 36 persen di antaranya merupakan sawah tadah hujan.
Karakteristik lahan ini tidak memiliki jaringan irigasi permanen sehingga pengairannya hanya mengandalkan hujan.
Lahan biasanya tergenang pada musim penghujan, sementara pada musim kemarau sering kali mengering sehingga rentan mengalami kekurangan air dan memiliki tingkat kesuburan yang relatif rendah.
Melalui gerakan pompanisasi, pemerintah menargetkan pengairan hingga satu juta hektare lahan sawah tadah hujan di seluruh Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 500 ribu hektare berada di Pulau Jawa yang menjadi salah satu sentra produksi padi nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa pelaksanaan program pompanisasi difokuskan pada dua langkah utama, yakni memperbaiki pompa air yang telah tersedia serta menyediakan pompa baru sesuai kebutuhan petani di setiap daerah.
"Dua fokus utama kami adalah memperbaiki pompa yang sudah ada dan menyediakan pompa baru sesuai kebutuhan petani di masing-masing wilayah," kata Amran.