Dari Aborsi Mobnas ke Terobosan Tesla?

Oleh : Christianto Wibisono | Jumat, 01 September 2017 - 09:37 WIB

Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) dan Analis Bisnis Terkemuka di Indonesia (Foto Ist)
Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) dan Analis Bisnis Terkemuka di Indonesia (Foto Ist)

Menteri Perhubungan Singapura Khaw Boon Wan pada Senin 9 Mei 2017 memberi insentif sebesar SGD 30,000 (USD 22,000) untuk pembelian mobil Tesla model 3 yang diluncurkan Elon Musk pada 31 Maret 2017.  Bandingkan dengan insentif Canada sebesar CND 8,000 (USD 6,200). Singapora memberi insentif untuk memenuhi kriteria global city CEVS (Carbon Emmisions Vehicle Scheme). Tesla model 3 akan diterima indentor diluar AS awal 2018 dengan harga di Amerika Serikat hanya US$ 35.000 untuk penyerahan akhir 2017.

Indonesia jelas bukan Singapura yang harga mobilnya dibatasi oleh mahalnya Certificate of Entitlement, sekitar US$ 50.000 untuk setiap pembelian mobil baru. Indonesia adalah produsen mobil no. 17 dari 20 negara dengan 4 besar diatas 6 juta yaitu Tiongkok, AS, Jepang, Jerman. Diluar dugaan India juga sudah melejit di 5 besar bahkan Tata Group membeli merk mewah terkenal Jaguar Rover tahun 2008, menyusul pembelian merk Volvo Swedia oleh Geely, perusahaan mobil swasta Tionghoa yang bukan BUMN milik Li Shufu dari bekas pabrik kulkas. Korea menjadi Negara diluar AS, Eropa dan jepang yang mampu membangun industry mobil global meski pasar domestic kecil sedang Tiongkok dan India tentu mempunyai keunggulan komparatif karena pasar domestic raksasa.

Sebetulnya, Indonesia punya “feng shui” yang luar biasa. Setelah membangun di Yokohama dan Osaka tahun 1926, General Motors masuk pasar Hindia Belanda pada 1927 dan membangun pabrik perakitan di Tanjung Priok yang mulai beroperasi 1938. Ini berarti raksasa mobil dunia pertama General Motors memilih Jakarta sebagai basis produksi 90 tahun yang lalu, dimana Indonesia dinilai lebih menarik dari Singapura, dengan potensi penduduk dan wilayah Indonesia sebagai pertimbangan.

Pada tahun 1953 Hasyim Ning menjadi raja mobil dan mendirikan perakitan kedua setelah General Motors Priok tersebut, yaitu PT Indonesian Service Company (ISC) yang akan merajai permobilan Indonesia sampai tahun 1970-an dengan meng-ageni Fiat dan Ford.

Pada tahun 1969 William Soeryadjaya dengan Astra International membeli ex-pabrik General Motors yang telah dinasionalisasi menjadi PN Gaya Motor (BUMN sejak era Orde Lama Bung Karno yang sangat anti modal asing dan mengambil alih seluruh perusahaan Belanda 1957). Sejak itu selama 23 tahun William dan Astra akan menjadi raja mobil Indonesia kedua setelah Hasyim Ning, dan merk Eropa & AS tergusur sebagaimana trend permobilan global dengan dominasi merk Jepang mengalahkan merk AS dan Eropa.  Jatuhnya William bukan karena bisnis Astra, tetapi karena “bail-out” Bank Summa sehingga keluarga William harus menjual seluruh saham di Astra, yang terjadi 6 tahun sebelum krismon 1998. Tapi sejarah tetap akan mencatat William Soeryajaya sebagai raja mobil Indonesia kedua setelah Hasyim Ning.

Pada 1996 Presiden Soeharto mengejar waktu berlakunya era perdagangan bebas WTO  mendirikan proyak Mobil Nasional Timor yang dilaksanakan oleh putra mahkota Tommy Soeharto. Secara historis empiris memang semua negara termasuk Jepang, AS dan Eropa selalu harus melampaui tahapan infant industry protection, kebijakan melindungi industry yang masih “balita” dari ancaman impor produk pesaing impor yang sudah lebih mapan.  Itulah prinsip Mobnas merk Timor yang memanfaatkan kerjasama dengan KIA yang merubah merk Sephia menjadi Timor S515. Seandainya Astra masih ditangan William barangkali proyek Mobnas ini lebih viable dan terwujud seperti pola Hyundai dan tidak tersendat seperti Proton.

Tapi sejarah mencatat bahwa konflik figure Presiden Soeharto dengan William Soeryadjaya karena dinilai pernah “arrogan” menghibahkan saham kepada koperasi padahal Presiden Soeharto tidak ingin istilah hibah atau belas kasihan, tapi koperasi membeli saham konglomerat. Itu terjadi di Tapos 1990 dan krisis Bank Duta yang mengakibatkan Soeharto memerlukan dana bail-out,  yang juga tidak di”sumbang” oleh William berakibat tidak ada privilege untuk Astra. Krismon langsung menghentikan proyek Mobnas Timor, karena IMF mencoret proyek itu paling awal bersama monopoli cengkeh BPPC.

16 tahun kemudian pada Januari 2012 Walikota Solo Ir. Joko Widodo melakukan trobosan mempromosikan mobil perakitan Esemka mempopulerkan sosok Jokowi memenangkan pilgub DKI 2012. Melejit jadi presiden pada 2014, Presiden Jokowi sempat menyaksikan MOU Proton Malaysia dengan perusahaan nasional Indonesia untuk mengembangkan kerjasama Proton yang segera memperoleh kritik dari mereka yang gerah dengan koalisi asing dan bukan murni nasional.

Pusat Data Bisnis Indonesia telah mengkaji sejarah industri mobil global yang menyisakan 2  pelaku di AS (pelaku ke-3 adalah patungan Chrysler dengan Fiat Italia), 3 produsen Jerman (Audi VW, BMW dan Mercedes Benz); dan 2 Prancis (Peugeot, Citroen dan Renault yang bekerjasama dengan Nissan Jepang yang merupakan satu satunya negara dengan hampir selusin merk mobil yaitu Toyota, Nissan, Honda, Mazda, Mitsubishi, Isuzu, Suzuki, Hino, Subaru, Daihatsu yang juga mengalami konsolidasi dan kemitraan seperti Toyota Daihatsu.

Memang sudah sangat terlambat untuk memakai pola Mobnas kecuali Pemerintah melakukan trobosan leapfrog, membangun mobil elektrik seperti Tesla, atau berkolaborasi dengan Tesla menjadikan Tesla sebagai “Mobil Nasional” dengan syarat membangun pabrik di Indonesia dan saham substansial yang dialokasi untuk Indonesia (diatas 35%). Hyundai memiliki 2/3 saham KIA sehingga memungkinkan entitas Korea itu melejit jadi produsen mobil no. 4 sedunia setelah Toyota General Motor dan Volkswagen.

Sudah 90 tahun, hampir seabad sejak General Motors memilih Jakarta sebagai perakitan mobil kedua di Asia setelah Jepang. Ironis bahwa sekarang kita tidak mampu mengembangkan merk nasional hanya karena gelombang politik kroni melawan arus pasar yang efisien melanda industri otomotif kita. Adakah trobosan” Tesla Indonesia”?.

Christianto Wibisono adalah Founder PDBI.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Upbit masuki pasar indonesia (Hariyanto/INDUSTRY.co.id)

Jumat, 19 Juli 2019 - 15:23 WIB

Incar Lebih Banyak Pengguna, Upbit Bagi-bagi Hadiah di Program Referral

Setelah meluncurkan fitur baru program referal, Upbit Indonesia kembali hadir dengan berbagai promosi pada program referal yang dapat dinikmati oleh seluruh pengguna web dan aplikasi Upbit baik…

Foto ilustrasi industri mainan

Jumat, 19 Juli 2019 - 15:01 WIB

Kemenperin Harap Industri Mainan Dalam Negeri Mampu Tarik Investasi

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengharapkan industri mainan dalam negeri dapat menarik investasi. Ini terutama industri pendukung mainan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan…

Jackson Tandiono, Presiden Direktur PT Sky Energy Indonesia, Tbk

Jumat, 19 Juli 2019 - 15:00 WIB

Pertama di Dunia, JSKY Ciptakan Modul Surya Berbobot Ringan

PT Sky Energy Indonesia, Tbk (JSKY) secara resmi memperkenalkan rangkaian produk modul surya inovatif miliknya, yang diberi nama J-Leaf, J-Feather dan J-Bifacial di The Energy Building, Jakarta…

DFSK Glory E3

Jumat, 19 Juli 2019 - 15:00 WIB

Dukung Implementasi Kendaraan Listrik di Indonesia, DFSK Andalkan Glory E3

Pada gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019, DFSK mempersiapkan kendaraan listrik andalanya dengan memperkenalkan DFSK Glory E3 kepada konsumen di Indonesia yang sudah…

Rimba Laut, Senior Vice President Corporate Communication Akseleran

Jumat, 19 Juli 2019 - 14:37 WIB

Capai Rp 2,2 Miliar, Lampung Jadi Penyumbang Investasi Tertinggi Akseleran di Indonesia

Hingga akhir Juni 2019, Lampung tercatat sebagai 10 besar provinsi yang meraih nilai investasi tertinggi bagi Akseleran di seluruh Indonesia dengan raihan sebesar Rp2,2 miliar.