INDUSTRY.co.id - Jakarta - Industri komponen otomotif Indonesia menunjukkan daya saing yang semakin kuat di tengah persaingan global. Tak hanya memiliki ketahanan tinggi atau resiliensi yang solid, sektor ini juga semakin memperluas perannya dalam rantai pasok global dengan menembus pasar ekspor ke lebih dari 100 negara.
Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menyebut industri komponen otomotif nasional saat ini memasuki fase ekspansi baru. Produk komponen buatan Indonesia kini semakin banyak digunakan sebagai bagian dari kebutuhan industri otomotif dunia.
Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmat Basuki mengatakan, industri komponen otomotif nasional saat ini tidak lagi hanya bergantung pada pasar domestik, melainkan sudah berkembang menjadi bagian penting dari global supply chain.
"(Industri komponen otomotif) saat ini sudah memasuki fase ekspor ke berbagai negara dan menjadi bagian dari rantai pasok global," kata Rachmat di Jakarta (29/6).
Masuknya Indonesia ke rantai pasok global disebut membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan. Industri nasional dituntut meningkatkan produktivitas agar mampu bersaing dengan negara-negara lain.
Menurut Rachmat, dukungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjadi salah satu faktor penting yang membantu peningkatan daya saing sektor ini. Berbagai program transformasi industri, termasuk implementasi Industri 4.0 dan pelatihan manufaktur modern, dinilai berhasil mendorong produktivitas pabrik.
Selain itu, kebijakan pemerintah selama pandemi COVID-19 juga dinilai berperan menjaga stabilitas industri. Saat itu, industri komponen tetap dapat beroperasi dengan penerapan protokol kesehatan ketat sehingga rantai pasok tetap berjalan.
Di sisi lain, berbagai stimulus yang diberikan kepada industri kendaraan bermotor juga membantu menjaga permintaan pasar domestik. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap keberlangsungan industri komponen.
"Ketika industri roda empat meningkat, otomatis kebutuhan pasokan komponennya juga terus bergerak. Faktor seperti itu sangat penting," ujarnya.
Data GIAMM mencatat industri otomotif roda empat tumbuh 14% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I 2026. Pertumbuhan tersebut ikut menopang kapasitas produksi industri komponen, ditambah pasar kendaraan roda dua yang masih relatif stabil.
Tak hanya fokus pada pertumbuhan industri konvensional, pemerintah juga terus mendorong transformasi menuju kendaraan rendah emisi melalui program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Program itu mencakup pengembangan kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE) hingga kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).
Pemerintah juga menargetkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap hingga mencapai 80%. Langkah tersebut diharapkan mampu memperdalam struktur industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
GIAMM mencatat pada 2025 nilai ekspor komponen otomotif Indonesia telah melampaui US$ 7 miliar dengan tujuan lebih dari 100 negara. Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN menjadi pasar utama.
Untuk memperluas pasar ekspor, industri komponen nasional juga akan memanfaatkan ajang Automechanika Jakarta 2026 sebagai etalase kemampuan manufaktur Indonesia di tingkat internasional.