Portugal lolos dari Grup K Piala Dunia 2026, tapi prosesnya jauh dari meyakinkan. Tim berisi Cristiano Ronaldo dan sederet bintang Liga Champions ini hanya mampu meraih satu kemenangan dari tiga laga grup. Hasil yang mengecewakan untuk tim sekaliber Portugal.
Di atas kertas, Grup K bukan grup neraka. Kolombia, Kongo DR, dan Uzbekistan — seharusnya bisa dikuasai. Kenyataannya, Portugal justru terseok-seok sejak matchday pertama.
Jalannya Laga di Grup K
Matchday 1: Portugal 1-1 Kongo DR. Ini kejutan terbesar. Portugal hanya mampu bermain imbang melawan Kongo DR. Joao Neves membuka keunggulan, tapi Yoane Wissa menyamakan kedudukan. Pertahanan Portugal terlihat rapuh, terutama dalam mengantisipasi bola-bola mati.
Matchday 2: Portugal 5-0 Uzbekistan. Baru terlihat seperti Portugal yang dikenal. Cristiano Ronaldo mencetak dua gol di menit ke-6 dan 38, disusul gol dari Nuno Mendes dan Rafael Leão. Uzbekistan tidak berdaya.
Matchday 3: Portugal 0-0 Kolombia. Laga penentuan juara grup. Portugal membutuhkan kemenangan untuk finis di posisi pertama, tapi Kolombia terlalu solid. Diogo Costa menjadi penyelamat dengan beberapa penyelamatan krusial. Ronaldo nyaris tidak memberikan kontribusi berarti.
Kolombia akhirnya juara grup dengan 7 poin. Portugal runner-up dengan 5 poin. Lolos, tapi bukan sebagai unggulan.
Akar Masalah Portugal
Ketergantungan pada Ronaldo yang Sudah Tidak Produktif
Ini masalah lama yang tidak pernah terselesaikan. Ronaldo berusia 41 tahun. Produktivitasnya menurun signifikan di level tertinggi. Melawan Uzbekistan, ia masih bisa mencetak gol. Tapi melawan Kolombia — tim dengan pertahanan terorganisir — Ronaldo tidak berkutik.
Gonçalo Ramos seharusnya bisa menjadi alternatif. Lebih muda, lebih cepat, lebih agresif. Tapi Roberto Martínez tampaknya belum berani melakukan rotasi besar. Pola yang sama terlihat di Euro 2024, di mana Portugal tersingkir di perempat final.
Pertahanan yang Tidak Solid
Hasil imbang 1-1 melawan Kongo DR seharusnya menjadi peringatan serius. Duet bek tengah Portugal tidak cukup kokoh menghadapi serangan balik dan bola mati. Nuno Mendes di sayap kiri tampil baik secara ofensif, tapi keseimbangan tim tetap bermasalah.
Diogo Costa di bawah mistar beberapa kali menyelamatkan Portugal dari kekalahan. Tanpa performanya, hasil akhir bisa jauh lebih buruk.
Lini Tengah Kurang Kreatif
Bruno Fernandes dan Bernardo Silva tidak tampil di level terbaik. Portugal mendominasi penguasaan bola, tapi minim kreasi peluang bersih. Melawan Kolombia, mereka menguasai bola tanpa tujuan yang jelas.
Joao Neves menjadi pengecualian. Gelandang muda ini tampil menjanjikan dengan gol penyelamat melawan Kongo DR dan distribusi bola yang efektif. Namun, satu pemain tidak cukup untuk mengangkat performa seluruh lini tengah.
Profil Pemain Kunci
Cristiano Ronaldo (41 tahun). Masih mampu mencetak gol melawan tim lemah, tapi kontribusinya menurun drastis melawan lawan berkualitas. Melawan Kolombia, ia nyaris tidak mendapat peluang bersih.
Diogo Costa (GK). Performa terbaik Portugal di fase grup. Beberapa penyelamatannya krusial, terutama melawan Kolombia.
Nuno Mendes (LB). Bek kiri yang konsisten. Kontribusi ofensifnya baik, meski pertahanan tim secara keseluruhan bermasalah.
Rafael Leão (LW). Kecepatannya menjadi senjata utama di sayap kiri. Mencetak gol melawan Uzbekistan dan kerap merepotkan bek lawan.
Joao Neves (CM). Pemain paling menjanjikan di lini tengah Portugal. Golnya melawan Kongo DR menyelamatkan tim dari kekalahan.
Prospek di Babak Gugur
Sebagai runner-up Grup K, Portugal kemungkinan besar akan menghadapi lawan berat di 16 besar. Performa di fase grup tidak memberikan banyak optimisme.
Untuk melangkah lebih jauh, Martínez perlu melakukan beberapa perubahan. Pertama, mengurangi ketergantungan pada Ronaldo dengan memberikan menit bermain lebih banyak kepada Ramos dan Leão. Kedua, memperbaiki organisasi pertahanan, terutama dalam situasi bola mati. Ketiga, memberikan peran lebih besar kepada Joao Neves di lini tengah.
Tanpa perubahan signifikan, Portugal berisiko tersingkir di babak 16 besar. Potensi skuad ini besar, tapi potensi saja tidak cukup untuk memenangkan pertandingan di level Piala Dunia.
Kolombia yang finis di posisi pertama justru menunjukkan kekuatan sebagai sebuah unit. Mereka tidak memiliki bintang sebesar Ronaldo, tapi permainan kolektif mereka jauh lebih solid dan terstruktur.
Ini mungkin Piala Dunia terakhir bagi Ronaldo. Pertanyaan besarnya: apakah Portugal cukup berani untuk tidak lagi mengandalkan satu nama besar, dan mulai membangun tim untuk masa depan?