INDUSTRY.co.idJakarta – Industri kaca lembaran nasional tengah menghadapi tekanan serius akibat tingginya harga gas bumi yang dinilai berpotensi mengganggu aktivitas produksi, daya saing eskpor, hingga serapan tenaga kerja.

Pelalu industri menilai kondisi saat ini menimbulkan ketidakpastian di tengah besarnya kapasitas produksi yang selama ini mengandalkan pasar ekspor. Berdasarkan data Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP), dari total kapasitas produksi sekitar 2,7 juta ton per tahun, sekitar dua per tiga kapasitas selama ini ditujukan untuk pasar internasional.

Kondisi tersebut dinilai menibulkan pertanyaan besar mengenai keberlanjutan ekspor apabila biaya energi, khususnya gas bumi terus meningkat.

“Bagaimana industri dapat mempertahankan ekspor jika harga gas berada di level yang sangat tinggi? Jika ekspor tidak berjalan, maka produksi berpotensi turun dan dampaknya bisa menjalar pada penurunan serapa tenaga kerja,” kata Ketua AKLP, Yustinus Gunawan saat dihubungi INDUSTRY.co.id di Jakarta (24/6/2026).

Saat ini industri disebut masih berupaya menjaga aktivitas produksi riil agar tetap berjalan. Namun, keterbatasan pasokan dan tingginya harga gas dinilai membuat ruang gerak industri semakin sempit.

Pelaku usaha menyebut salah satu solusi yang dapat membantu menjaga keberlangsungan operasional adalah realisasi pasokan gas bumi setidaknya mencapai 80% dari volume alokasi yang tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 76.K/2025.

Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dikabarkan menyampaikan bahwa Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) yang tersedia saat ini hanya mencapai sekitar 27,5% dari alokasi dalam Kepmen tersebut.

Persoalan menjadi semakin kompleks karena konsumsi gas yang melebihi porsi AGIT akan dikenakan harga yang jauh lebih tinggi. Per Juni 2026, penggunaan gas di luar alokasi tersebut dikenakan tarif sekitar US$20 per MMBTU.

Bagi industri kaca lembaran, gas bumi merupakan komponen strategis dalam proses produksi karena digunakan secara terus-menerus untuk menjaga suhu tungku pembakaran. Kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan beban produksi secara signifikan dan dapat menekan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Pelaku industri berharap pemerintah dapat memperkuat kepastian pasokan serta menjaga harga gas yang kompetitif agar sektor manufaktur berorientasi ekspor tetap mampu bertahan.