INDUSTRY.co.id - Jakarta — Indonesia kian menegaskan posisinya sebagai pusat gravitasi ekonomi digital Asia Tenggara. Hal itu tercermin dari penyelenggaraan Asia Economic Summit (AES) 2026 yang digelar Tech in Asia di Jakarta, yang mempertemukan pembuat kebijakan, investor, pelaku usaha, hingga pemimpin perusahaan teknologi dari berbagai negara untuk membahas arah ekonomi digital kawasan.
Mengusung tema “Where Southeast Asia’s Economic Decisions Take Shape”, forum yang memasuki penyelenggaraan tahun kedua ini menjadi wadah bagi negara-negara ASEAN untuk memperkuat koordinasi menghadapi tantangan global, mulai dari pengembangan kecerdasan buatan (AI), ketahanan ekonomi, hingga peningkatan kolaborasi lintas sektor.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bersama Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura sekaligus Minister-in-charge of Cybersecurity & Smart Nation Group, Josephine Teo, membuka forum tersebut. Keduanya menyoroti pentingnya integrasi digital antarnegara dan tata kelola AI dalam meningkatkan daya saing Asia Tenggara.
Pemimpin Redaksi sekaligus Overall Lead Tech in Asia, Terrence Lee, menilai kebutuhan akan koordinasi regional semakin mendesak di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“Edisi kedua tahun ini mencerminkan semakin besarnya kebutuhan negara-negara Asia Tenggara untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi tantangan global, mulai dari ketahanan ekonomi, pengembangan infrastruktur AI, arus modal, hingga kolaborasi regional di tengah dinamika dan ketidakpastian global,” ujar Terrence Lee dalam keterangannya, Rabu (17/6).
Sekitar 250 pemangku kepentingan dari kalangan pemerintah, perusahaan, investor, serta pemimpin industri teknologi menghadiri acara yang berlangsung sehari penuh tersebut. Sejumlah perusahaan global seperti OpenAI, Singtel, McKinsey & Company, hingga perusahaan nasional seperti DANA dan Amartha turut ambil bagian dalam diskusi strategis mengenai masa depan ekonomi digital ASEAN.
Managing Director Tech in Asia Indonesia, Novrizal Pratama, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai ekonomi terbesar di ASEAN sekaligus salah satu pasar digital dengan pertumbuhan tercepat di kawasan.
“Dengan pertumbuhannya yang cepat, Indonesia memiliki peran penting sebagai pusat pertukaran ide dan diskusi, mengenai infrastruktur, investasi, kebijakan industri, hingga adopsi teknologi di seluruh ASEAN,” kata Novrizal.
Prospek ekonomi digital kawasan juga ditopang oleh percepatan adopsi kecerdasan buatan. Berdasarkan laporan “AI in Southeast Asia: An Era of Opportunity” yang disusun Tech in Asia bersama McKinsey dan Economic Development Board Singapura pada Februari 2026, sebanyak 73% perusahaan di Asia Tenggara telah memasuki tahap uji coba maupun ekspansi penerapan AI. Angka tersebut melampaui rata-rata global yang berada di level 57%.
Temuan itu menunjukkan kawasan Asia Tenggara semakin agresif memanfaatkan teknologi AI sebagai mesin pertumbuhan baru. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang investasi yang lebih besar pada sektor infrastruktur digital dan layanan berbasis kecerdasan buatan.
Dengan partisipasi lebih dari 10 negara, 30 perusahaan besar, serta 100 organisasi, AES 2026 mencerminkan semakin besarnya relevansi forum tersebut sebagai ruang pertemuan strategis bagi pengambil kebijakan dan pelaku bisnis di Asia Tenggara. Meningkatnya kehadiran investor asal Singapura dan pemangku kepentingan regional turut memperkuat posisi forum ini sebagai salah satu platform integrasi ekonomi digital ASEAN yang semakin diperhitungkan.