INDUSTRY.co.id - Jakarta — Akamai Technologies mencatat tonggak penting di kawasan Asia Pasifik (APAC) dengan membukukan pendapatan tahunan melampaui US$1 miliar pada 2025. Capaian tersebut menjadi pijakan baru bagi perusahaan untuk memperkuat perannya dalam mendukung penerapan kecerdasan buatan (AI), khususnya dengan mendorong proses inferensi AI lebih dekat ke pengguna akhir melalui infrastruktur edge.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di kawasan Asia Pasifik, Akamai melihat peluang pertumbuhan yang semakin besar seiring meningkatnya adopsi AI oleh berbagai perusahaan. Fokus perusahaan kini bergeser dari sekadar mendukung pengembangan model AI menuju memastikan teknologi tersebut dapat berjalan secara optimal dalam penggunaan nyata dengan kebutuhan latensi rendah, skalabilitas tinggi, dan keandalan yang lebih baik.
Strategi tersebut dipimpin oleh Senior Vice President of Sales sekaligus Managing Director Asia Pasifik Akamai, Sean Li, yang baru ditunjuk untuk memimpin kawasan tersebut. Menurut Li, ekosistem AI di Asia Pasifik telah memasuki fase implementasi.
"Kawasan Asia-Pasifik kini telah melewati tahap eksperimen AI dan memasuki tahap eksekusi. Tantangan sesungguhnya pada saat ini adalah memastikan bahwa AI dapat berfungsi dengan baik di lingkungan nyata, di mana latensi, skalabilitas, dan keandalan secara langsung memengaruhi pendapatan dan pengalaman pelanggan. Dengan memindahkan proses inferensi ke edge, kami menghadirkan platform bagi perusahaan-perusahaan agar mereka dapat menerapkan AI secara instan, aman, dan dalam skala yang tidak dapat ditandingi oleh cloud terpusat," ujar Li dalam keterangannya, Rabu (10/6).
Akamai menilai banyak perusahaan di kawasan APAC mulai mempercepat pemanfaatan AI, namun masih menghadapi keterbatasan arsitektur cloud konvensional yang belum dirancang untuk mendukung inferensi secara real time dalam skala besar. Untuk mengatasi tantangan tersebut, perusahaan mengandalkan salah satu platform cloud paling terdistribusi di dunia guna mendekatkan komputasi berbasis GPU ke pengguna dan sumber data.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung berbagai aplikasi berbasis AI, mulai dari mesin rekomendasi, video intelligence secara langsung, kendaraan otonom, agen pendukung digital, hingga pengolahan video beresolusi tinggi. Pergeseran ini mencerminkan perubahan industri dari model pelatihan terpusat menuju inferensi terdistribusi, di mana perbedaan waktu dalam hitungan milidetik dapat memengaruhi keterlibatan pelanggan, efisiensi operasional, hingga manajemen risiko.
"Keunggulan Akamai tidak hanya terletak pada kemampuan kami dalam mendukung beragam aplikasi, tetapi juga lokasi kami melakukannya. Dengan mendekatkan layanan cloud dan inferensi ke titik interaksi, kami membantu pelanggan bergerak lebih cepat, merespons secara real-time, dan menghadirkan pengalaman yang lebih baik dalam skala besar," kata Li.
Akamai juga melihat keberagaman pasar di Asia Pasifik menjadi pendorong munculnya gelombang baru kebutuhan infrastruktur digital. Negara maju seperti Jepang dan Australia semakin mengadopsi model infrastruktur terkelola untuk meningkatkan kinerja dan ketahanan sistem, sementara India, Tiongkok, serta negara-negara Asia Tenggara melahirkan perusahaan AI-native yang menuntut kecepatan dan skala yang lebih besar. Korea Selatan menjadi contoh pasar yang memadukan modernisasi sistem lama dengan ekspansi layanan berbasis AI.
Ke depan, Akamai akan memperkuat pengembangan inferensi berbasis GPU di seluruh jaringan globalnya serta mengintegrasikan keamanan, termasuk perlindungan aplikasi dan beban kerja AI, langsung ke dalam infrastruktur perusahaan.
"Tonggak pencapaian ini mencerminkan kepercayaan yang telah diberikan pelanggan kepada kami selama dua dekade terakhir. Namun, peluang yang lebih besar ada di depan. Saat AI mentransformasi cara bisnis beroperasi, Akamai merancang infrastruktur cerdas yang dibutuhkan untuk web agentik, membantu perusahaan membangun sistem yang tidak hanya berjalan secara teori, tetapi juga mampu bekerja dalam kondisi dunia nyata," tutur Li.