INDUSTRY.co.id - Jakarta, Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (13/5) meminta suku bunga program Mekaar milik PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dipangkas hingga di bawah 9% dari level saat ini yang mencapai sekitar 24%. Kebijakan ini ditujukan untuk memperluas akses pembiayaan ultra mikro yang selama ini dinilai masih terlalu mahal bagi masyarakat kecil.

Namun di balik semangat pemerataan akses kredit tersebut, terdapat implikasi finansial yang berpotensi signifikan bagi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), mengingat PNM merupakan anak usaha BBRI dengan kepemilikan mencapai 99,99%.

Seberapa penting PNM bagi BBRI?

Pada 2025, total pinjaman dan pembiayaan program Mekaar tercatat sebesar Rp45,4 triliun, setara sekitar 3% dari total kredit dan pembiayaan BBRI. Meski porsinya relatif kecil secara aset, kontribusi pendapatannya cukup besar.

PNM membukukan pendapatan bunga dan margin sebesar Rp14,7 triliun pada 2025 — sekitar 7% dari total pendapatan bunga dan pembiayaan BBRI. Sementara laba bersih PNM mencapai Rp1,1 triliun, atau sekitar 2% dari laba bersih BBRI.

Simulasi dampak jika bunga turun ke 9%

Berdasarkan perhitungan kami (-red) lending yield program Mekaar pada 2025 berada di kisaran 33%, jauh di atas level bunga yang disebut Presiden Prabowo.

Jika yield tersebut dipaksa turun menjadi 9% dengan asumsi skala pembiayaan dan struktur biaya tetap sama (ceteris paribus), maka total pendapatan bunga dan margin PNM berpotensi turun drastis menjadi hanya sekitar Rp5,2 triliun.

Masalahnya, total beban usaha PNM — termasuk provisi — pada 2025 mencapai sekitar Rp13 triliun. Dengan struktur biaya tersebut, PNM berpotensi membukukan rugi usaha sekitar Rp9,5 triliun.

Sebagai gambaran, angka itu setara sekitar 17% dari laba bersih BBRI.

Bigger picture: apakah PNM sebaiknya dipisah dari BBRI?

Jika skenario penurunan bunga ini benar-benar dijalankan dan membuat PNM beroperasi secara loss-making, maka muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah fungsi ultra mikro bersubsidi sebaiknya tetap berada di bawah entitas komersial seperti BBRI?

Dalam jangka panjang, opsi pengambilalihan PNM oleh Kementerian Keuangan dapat menjadi solusi yang lebih rasional bagi investor BBRI dibanding mempertahankan PNM di bawah grup perseroan.

Artinya, fungsi sosial pembiayaan ultra mikro tetap berjalan, sementara tekanan terhadap profitabilitas dan valuasi BBRI dapat diminimalkan.

Disclaimer

Estimasi di atas menggunakan asumsi ceteris paribus: skala pembiayaan tetap sama dan struktur biaya PNM tidak berubah meski yield turun signifikan. Realisasi dampak terhadap bottom line PNM nantinya akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan melakukan efisiensi biaya, penyesuaian model bisnis, maupun dukungan subsidi pemerintah.