INDUSTRY.co.id - Jakarta - Transformasi digital di sektor industri dan manufaktur kini menghadirkan tantangan baru berupa meningkatnya ancaman serangan siber. Integrasi teknologi operasional atau operational technology (OT), sistem produksi berbasis internet, hingga pemanfaatan AI di lingkungan industri membuat perusahaan semakin rentan terhadap serangan ransomware, pencurian data, hingga gangguan operasional produksi.
Riset berbagai lembaga keamanan siber global menunjukkan sektor manufaktur menjadi salah satu target utama kelompok peretas. Laporan ESET menyebut industri manufaktur menyumbang sekitar 25,7% dari total serangan siber global, dengan mayoritas insiden melibatkan ransomware yang mampu menghentikan operasional pabrik dalam hitungan jam.
Kondisi tersebut terjadi karena banyak perusahaan industri masih mengandalkan sistem OT lama yang belum dirancang untuk menghadapi ancaman siber modern. Ketika sistem lama tersebut mulai terhubung dengan jaringan internet dan cloud untuk mendukung Industry 4.0, celah keamanan pun semakin terbuka lebar.
Laporan terbaru dari Dragos juga menunjukkan peningkatan aktivitas ransomware di lingkungan OT hingga 49% sepanjang 2025–2026. Serangan kini tidak hanya menyasar data perusahaan, tetapi juga mencoba mengganggu sistem kontrol industri dan rantai pasok produksi.
Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, perusahaan keamanan siber ESET menilai perusahaan industri perlu mengubah pendekatan keamanan dari sekadar reaktif menjadi preventif dan berbasis ketahanan siber.
ESET menawarkan pendekatan “prevention-first” melalui platform ESET PROTECT yang menggabungkan teknologi XDR (Extended Detection and Response), managed detection and response (MDR), hingga pemantauan ancaman secara real-time untuk melindungi lingkungan IT dan OT secara bersamaan.
Dalam kajiannya, ESET menyoroti beberapa tantangan utama perusahaan industri saat ini, mulai dari meningkatnya serangan ransomware, keterbatasan sumber daya tim IT, hingga tekanan kepatuhan regulasi keamanan data dari mitra bisnis dan pemerintah.
“Sistem OT lama tidak dirancang untuk konektivitas, tetapi era Industry 4.0 menuntut hal tersebut.” tulis ESET dalam laporannya mengenai keamanan manufaktur modern.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ESET menghadirkan solusi keamanan yang dirancang khusus untuk lingkungan industri, termasuk perlindungan terhadap perangkat OT lama, pemantauan ancaman 24/7, otomatisasi patch management, serta integrasi keamanan lintas jaringan produksi dan sistem cloud perusahaan.
Selain itu, ESET juga menilai edukasi internal perusahaan menjadi faktor penting. Serangan siber saat ini tidak hanya memanfaatkan celah teknologi, tetapi juga human error melalui phishing dan rekayasa sosial.
Survei ESET terhadap perusahaan manufaktur di Inggris bahkan menunjukkan 78% perusahaan mengalami insiden siber dalam 12 bulan terakhir, sementara lebih dari separuhnya mengaku mengalami dampak terhadap pendapatan akibat gangguan operasional.
Bagi perusahaan industri di Indonesia, ancaman ini menjadi semakin relevan seiring percepatan digitalisasi manufaktur nasional dan adopsi smart factory. Ketika lini produksi, supply chain, dan sistem bisnis saling terhubung, satu serangan siber dapat memicu penghentian produksi, keterlambatan distribusi, hingga kerugian finansial besar.
Karena itu, investasi pada keamanan siber kini tidak lagi dipandang sebagai biaya tambahan teknologi informasi, melainkan bagian penting dari strategi keberlangsungan bisnis industri.