INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatat awal tahun yang impresif. Pada 1Q26, laba bersih BRIS menembus Rp2,2 triliun—naik 17% YoY dan 10% QoQ—sekaligus menjadi laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Kinerja ini tergolong inline dengan ekspektasi pasar, setara 26% dari estimasi laba konsensus 2026.

Pertumbuhan bottom line ditopang kombinasi yang solid: Net Margin Income tumbuh 13% YoY, Fee Based Income melonjak 23% YoY, sementara beban provisi turun 7% YoY. Secara keseluruhan, capaian kuartal pertama masih bergerak sesuai jalur guidance manajemen tahun ini.

Namun cerita utama BRIS saat ini bukan semata kredit atau margin—melainkan emas.

Segmen emas berkembang menjadi motor pertumbuhan baru perseroan. Jumlah nasabah emas digital melonjak drastis menjadi sekitar 900 ribu per Maret 2026, dari hanya 120 ribu setahun sebelumnya, bahkan telah menyentuh 1 juta pengguna pada April 2026. Ledakan aktivitas ini bukan hanya mempertebal Fee Based Income, tetapi juga memperkuat struktur pendanaan murah bank.

Skemanya sederhana namun efektif: nasabah wajib membuka rekening tabungan sebelum bertransaksi emas. Dampaknya langsung terasa pada CASA. Savings account BRIS tumbuh 20% YoY per Maret 2026—menjadi pertumbuhan tertinggi di industri dan mendorong Cost of Fund turun tajam ke level 2,1% dari sebelumnya 2,7%.

Meski demikian, ekspansi agresif bisnis emas mulai menekan yield. Yield pembiayaan emas turun menjadi 12,7% dari 13,3% pada 1Q25, seiring pembiayaan emas yang melesat 101% YoY. Saat ini porsinya sudah mencapai 9% dari total pembiayaan dan ditargetkan naik hingga sekitar 20% ke depan.

Di sisi kualitas aset, BRIS juga menunjukkan perbaikan. Cost of Credit turun ke 0,7%, lebih rendah dari guidance tahunan di bawah 1%. NPF gross relatif stabil, sementara cash coverage tetap tebal di kisaran 254%, meski sebagian dipengaruhi penyesuaian PSAK 413.

Titik perhatian masih berada pada segmen SME–mikro dan konsumer, di mana Financing at Risk tetap tinggi akibat dampak banjir Sumatra. Sebaliknya, kualitas pembiayaan wholesale justru membaik signifikan, ditopang pemulihan kondisi keuangan dan operasional PT Angkasa Pura. Untuk menjaga kualitas aset tetap sehat, manajemen mulai memperketat underwriting, termasuk menaikkan batas minimum gaji untuk kredit payroll.

Meski fundamental operasional masih kuat, manajemen mulai memberi sinyal kewaspadaan terhadap likuiditas pada semester kedua tahun ini. Potensi penarikan dana pemerintah melalui SAL senilai Rp10 triliun—setara sekitar 3% DPK—serta meningkatnya kompetisi deposito diperkirakan akan menambah tekanan pendanaan.

Namun BRIS masih memiliki bantalan kuat dari basis dana murah yang cenderung sticky, terutama dari segmen haji dan tabungan ritel. Karena itu, manajemen tetap optimistis Cost of Fund 2026 akan lebih baik dibanding realisasi 2025 di level 2,6%.

Di luar kinerja, pasar juga menyoroti komitmen BRIS memenuhi ketentuan free float regulator: minimum 12,5% pada 2027 dan 15% pada 2028. Dengan posisi free float saat ini sekitar 9,33%, opsi peningkatan kepemilikan publik masih terus dibahas.

Secara keseluruhan, outlook BRIS masih terlihat konstruktif di tengah sentimen makro yang belum sepenuhnya ramah bagi sektor perbankan. Kekuatan utama perseroan tetap berada pada kemampuan menghimpun dana murah yang sticky dan profil pembiayaan dengan nilai repossession relatif tinggi, yang menopang Cost of Credit tetap rendah.

Menariknya, pasar tampaknya belum sepenuhnya menghargai narasi tersebut. Saat ini BRIS diperdagangkan di valuasi sekitar 1,4x 1-year forward P/BV—sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahunnya.