INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pasar kawasan industri di wilayah Bodetabek mulai menunjukkan arah baru pada awal 2026. Laporan Quarterly Property Market Report Q1 2026: Jakarta Industrial Estate Sector dari Colliers International mencatat pergeseran aktivitas industri dari kawasan matang seperti Bekasi dan Karawang ke wilayah timur, terutama Purwakarta dan Subang, seiring semakin terbatasnya ketersediaan lahan di dua kawasan industri utama tersebut.

Dalam laporan itu, penyerapan lahan industri pada kuartal I/2026 mencapai hampir 90 hektare, melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini mencerminkan daya tahan sektor industri nasional di tengah tekanan ekonomi global dan ketidakpastian investasi yang masih membayangi pasar.

Kondisi keterbatasan lahan di kawasan industri matang menjadi faktor utama yang mengubah peta investasi industri. Tidak adanya pasokan lahan baru di Bekasi dan Karawang sepanjang tiga bulan pertama tahun ini membuat pelaku usaha mulai mencari alternatif kawasan yang menawarkan ruang ekspansi lebih luas dengan harga lebih kompetitif.

Head of Industrial & Logistics Services Ferry Salanto mengatakan keterbatasan lahan di kawasan eksisting telah mendorong perubahan strategi ekspansi para penyewa industri.

“Keterbatasan lahan di kawasan matang mendorong penyewa untuk mempertimbangkan lokasi lebih ke timur, di mana lahan luas dan harga yang lebih kompetitif masih tersedia,” ujar Ferry dalam laporannya.

Purwakarta menjadi salah satu kawasan yang mulai menunjukkan daya tarik baru. Kawasan ini mencatat transaksi lahan seluas 22 hektare di Jatiluhur Industrial Smart City (JISC), yang sebagian besar diserap oleh perusahaan manufaktur domestik. Sementara itu, Subang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih besar dalam jangka panjang, didukung kehadiran fasilitas produksi BYD Company dan konektivitas logistik melalui Pelabuhan Patimban.

Tak hanya sektor manufaktur, permintaan lahan industri juga ditopang sektor pusat data dan kimia. Kedua sektor ini berkontribusi lebih dari 36% terhadap total akuisisi lahan pada kuartal pertama tahun ini, menandakan diversifikasi kebutuhan industri yang semakin kuat.

Transaksi terbesar pada periode tersebut tercatat di koridor barat, tepatnya di Cilegon, dengan luas mencapai 26 hektare yang didominasi industri petrokimia dan pipa. Ini menunjukkan bahwa koridor barat masih memegang peranan penting, meski arah pertumbuhan baru mulai bergerak ke timur.

Dari sisi harga, rata-rata harga permintaan lahan industri tercatat naik menjadi US$181,59 per meter persegi. Kenaikan paling agresif terjadi di kawasan berkembang seperti Subang, yang mendapat dorongan dari pembangunan infrastruktur dan arus investasi baru.

Ke depan, Colliers memperkirakan pasar kawasan industri akan memasuki fase konsolidasi, di mana daya saing kawasan tidak lagi hanya ditentukan oleh harga lahan, tetapi juga kualitas infrastruktur, ketersediaan utilitas, serta kecepatan perizinan.

Dengan tren ekspansi yang bergerak ke timur, Purwakarta dan Subang diperkirakan akan menjadi episentrum pertumbuhan industri baru di Jawa Barat, sekaligus membuka peluang baru bagi investasi manufaktur berteknologi tinggi dan sektor pusat data.